Konten dari Pengguna

Karbit vs FOMO: Apa Sih Bedanya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cristiano Imanuel Napitupulu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi karbit vs FOMO. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi karbit vs FOMO. (Sumber: Ilustrasi AI)

Sebagai mahasiswa yang tiap hari disuguhkan konten baru yang mendadak viral di media sosial, gue sering banget nemu istilah "karbitan" dan "FOMO" di kolom komentar. Mulai dari konser musisi luar negeri yang tiketnya war habis-habisan, tren gaya pakaian tertentu, sampai isu-isu sosial yang mendadak ramai dibahas. Semua orang kayaknya mendadak ikutan. Tapi, sebenarnya apa sih bedanya dua istilah yang sering dipakai buat melabeli orang-orang yang "ikut-ikutan" ini? Berdasarkan pengamatan gue di linimasa, ternyata ada perbedaan mendasar dari kedua fenomena ini.

Bagi gue, FOMO atau Fear of Missing Out itu lebih ke arah kecemasan psikologis. Pernah tidak sih lo ngerasa gelisah pas lihat story teman-teman kampus lagi kumpul di coffee shop baru, atau pas semua orang di X lagi heboh bahas series yang lagi hype? Nah, rasa takut tertinggal dan perasaan dikucilkan dari pergaulan itulah yang namanya FOMO. Kita ikut-ikutan bukan karena kita suka banget sama hal itu, tapi karena kita butuh validasi sosial agar tetap merasa menjadi bagian dari tongkrongan atau tren digital saat ini.

Di sisi lain, Karbit punya vibe yang agak berbeda dan cenderung lebih instan. Istilah yang diambil dari proses pematangan buah secara paksa ini biasanya disematkan buat orang yang mendadak mengaku sebagai penggemar berat atau ahli dalam suatu hal demi status sosial. Contoh paling sering di kalangan mahasiswa adalah pas ada klub bola yang menang liga, atau musisi yang lagunya mendadak viral di TikTok. Tiba-tiba ada orang yang langsung mengeklaim diri sebagai fans garis keras, padahal sejarahnya saja tidak tahu. Karbitan ini fokusnya adalah hasil instan agar terlihat keren dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar secara cepat.

Kalau mau ditarik garis lurusnya, perbedaan paling mencolok ada pada motif dan perasaan di dalamnya. FOMO itu dorongannya adalah rasa takut dan kecemasan takut dianggap kudet (kurang update) oleh teman-teman. Sementara karbitan dorongannya adalah gengsi dan pencitraan pengin dianggap keren dan paham sesuatu tanpa mau repot-repot mengikuti prosesnya dari awal. Orang FOMO mungkin akan jujur kalau mereka cuma ikut-ikutan biar tahu, tapi orang karbitan cenderung akan bersikap seolah-olah mereka sudah tahu hal tersebut sejak lama.

Pada akhirnya, gue melihat baik FOMO maupun karbitan adalah produk sampingan dari cepatnya arus informasi di dunia digital saat ini. Sebagai anak muda, wajar banget kalau kita pengin selalu terhubung dengan apa yang lagi ramai. Tapi lewat fenomena ini, kita juga belajar kalau tidak semua tren harus diikuti dengan panik (FOMO) atau direspons dengan pura-pura tahu (karbit). Menjadi diri sendiri yang apa adanya di tengah ramainya dunia digital itu justru jauh lebih tenang.