Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Suka Banget Menekan Tombol Repost?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cristiano Imanuel Napitupulu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa yang sedang rebahan sambil menekan tombol repost setelah kelas selesai. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa yang sedang rebahan sambil menekan tombol repost setelah kelas selesai. (Sumber: Ilustrasi AI)

Sebagai mahasiswa yang kesehariannya tidak jauh dari laptop, tugas, dan scrolling media sosial di sela-sela kelas, gue menyadari ada satu fenomena menarik. Belakangan ini, perbincangan seputar "Tombol Repost" sering sekali berseliweran di FYP TikTok, linimasa X, bahkan sekarang merambah ke Instagram. Fitur yang awalnya cuma dibuat untuk membagikan ulang konten ini sekarang fungsinya sudah bergeser jauh. Bagi gue dan mungkin banyak teman sesama mahasiswa lainnya, di balik satu klik tombol sederhana itu, ada fenomena psikologis dan kultur digital yang menarik banget buat dikulik.

Berdasarkan apa yang gue amati dan rasakan sendiri, tombol repost sering kali menjadi juru bicara untuk perasaan yang sulit diungkapkan. Pernah tidak sih, habis kelas yang padat atau kelar ngerjain tugas, lo ngerasa capek banget, galau, atau lagi kecewa, tapi bingung mau merangkai kata-katanya bagaimana? Nah, pas lagi scrolling di TikTok atau Reels, tiba-tiba lewat video atau kutipan yang rasanya "ini gue banget!". Bagi gue, menekan tombol repost akhirnya jadi jalan pintas buat bilang ke dunia kalau gue lagi merasakan hal tersebut, tanpa harus repot-repot bikin status sendiri. Konten orang lain itu seolah otomatis jadi perwakilan isi hati.

Selain itu, bukan rahasia lagi kalau di kalangan mahasiswa, tombol repost sering dipakai buat ajang lempar "kode keras". Entah itu buat pacar, gebetan anak jurusan sebelah, atau bahkan mantan. Membagikan konten romantis, video tentang love language, atau lagu galau lewat fitur repost yang sekarang langsung muncul di tab khusus profil kita adalah cara paling aman buat menarik perhatian seseorang. Istilahnya, gengsi dong kalau harus kirim pesan duluan, jadi mending pakai jalur repost yang lebih halus.

Di sisi lain, padatnya jadwal kuliah dan tugas yang menumpuk sering banget bikin penat. Di sinilah tombol repost mengambil peran penting sebagai ruang pelepasan stres. Bagi gue, membagikan ulang video-video lucu, meme sarkas soal kehidupan kampus, atau konten yang menghibur lainnya adalah cara instan buat mengusir stres. Lewat repost, gue bisa mengekspresikan selera humor yang receh atau sekadar menertawakan kerumitan hidup sebagai mahasiswa bersama teman-teman lainnya.

Secara tidak langsung, apa yang kita repost sebenarnya adalah cerminan dari isi kepala kita yang ikut menyusun identitas digital. Dengan aktif menekan tombol repost, gue seperti sedang menyusun galeri digital di profil sendiri. Ini cara gue menunjukkan ke orang lain tentang selera humor, prinsip hidup yang gue pegang, ketertarikan pada isu tertentu, atau bahkan sisi rapuh yang jarang gue perlihatkan saat berinteraksi langsung di kampus.

Pada akhirnya, gue melihat tombol repost di media sosial bukan cuma sekadar fitur teknis biasa. Fitur ini sudah berubah menjadi alat ekspresi emosi yang sangat kuat di dunia maya. Lewat satu klik saja, kita khususnya anak muda dan mahasiswa bisa mencari kesamaan nasib, memvalidasi perasaan, atau sekadar merasa "didengar" di tengah ramainya dunia digital.