Safe Space ala Cowok Non Perokok

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Cristiano Imanuel Napitupulu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah saatnya kita pensiunkan narasi kuno di tongkrongan yang menganggap sebatang rokok adalah satu-satunya juru selamat saat cowok lagi dihantam stres. Rasanya kok sempit banget kalau definisi pelampiasan tekanan hidup selalu diasosiasikan dengan kepulan asap. Sebagai bagian dari ekosistem anak muda hari ini, gue melihat pergeseran cara pandang yang menarik. Cowok-cowok non perokok membuktikan kalau mereka punya cara yang jauh lebih variatif, modern, dan tentunya lebih esensial dalam menjaga kesehatan mental agar gak gampang jebol.
Bagi gue, pilihan cowok non perokok untuk melarikan stres ke aktivitas fisik kayak futsal, badminton, atau nge gym bukan sekadar urusan mencari sehat. Ini adalah bentuk pengelolaan emosi yang cerdas. Saat tekanan tugas kuliah atau keruwetan hidup menumpuk, energi negatif itu gak dipendam atau dibakar lewat tar, melainkan diubah jadi bahan bakar buat bergerak. Keringat yang bercucuran setelah olahraga bukan cuma membuang racun, tapi secara ilmiah melepaskan hormon endorfin. Efeknya instan, di mana pikiran yang tadinya ruwet langsung terasa plong, jernih, dan siap menghadapi realita lagi.
Selain ruang fisik, pelarian ke ruang digital kayak mabar game online atau sekadar berkendara santai di malam hari menyusuri jalanan kota juga jadi katarsis yang valid. Ada kalanya otak kita cuma butuh jeda dari kebisingan rutinitas. Menyendiri di atas kendaraan sambil mendengarkan playlist lagu favorit di bawah lampu jalanan malam itu memberikan ruang refleksi yang bersih. Gak ada polusi di paru-paru, yang ada justru proses penjernihan isi kepala secara mandiri yang bikin kita bisa berpikir dengan kepala dingin.
Nah, kalau ngomongin pelarian yang paling personal dan ampuh buat gue sendiri, jawabannya adalah masuk ke dunia fandom, spesifiknya dengan ngidol JKT48. Dulu, mungkin ada stigma miring kalau cowok ikut-ikutan ngidol. Tapi buat gue pribadi, datang ke teater, teriak lantang nyuarain chant, hafalin koreografi, atau sekadar nonton live streaming oshi di kamar setelah seharian capek kuliah bener-bener jadi generator dopamin yang luar biasa. Aktivitas ini ngasih gue kebahagiaan instan yang murni dan bikin mood langsung naik. Masuk ke dalam ekosistem fans yang suportif justru ngasih gue energi sosial yang positif, sebuah safe space tempat gue bisa ngelepasin penat tanpa perlu takut dihakimi.
Pada akhirnya, gue beropini kalau cara cowok non perokok menghadapi stres mencerminkan kualitas adaptasi yang tinggi. Kita gak butuh pelarian yang merusak tubuh untuk bisa merasa tenang. Dari riuhnya lapangan olahraga, tenangnya jalanan malam, hingga warna-warni panggung pertunjukan idola yang gue rasain sendiri, semua itu membuktikan kalau menjaga kewarasan bisa dilakukan dengan cara yang tetap keren, menyenangkan, dan berumur panjang.
