Ketika Kesuksesan Orang Lain Menjadi Beban Bagi Diri Sendiri

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tahun 2025
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cut Zahwa Alya Fitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi sebagian mahasiswa, hal yang melelahkan bukanlah lagi tentang tugas kuliah. Namun, ternyata melihat teman-teman sebaya mengunggah keberhasilan, kebahagiaan, dan pencapaian di media sosial jauh lebih melelahkan. Mulai dari teman mengunggah swafoto liburan ke luar negeri, menampilkan kabar bahwa dia memenangkan ajang perlombaan, foto kelulusan menggunakan toga, hingga berhasil membuat jurnal ilmiah. Unggahan yang seharusnya menjadi sumber inspirasi, malah memunculkan perasaan cemas karena merasa tertinggal jauh. Fenomena ini disebut Fear of Missing Out (FOMO) Akademik.
Sebagai mahasiswa, seringkali muncul pertanyaan seperti “Kayaknya aku doang deh yang belum bisa menang lomba”, “Dia keren bisa lolos beasiswa ke luar negeri, kenapa aku gagal terus, ya”, “Dia pintar ya bisa publish artikel Scopus”, atau “Mereka sudah mencapai banyak hal, kenapa aku masih di titik yang sama, ya?”. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang terus membuat tidak percaya diri dan merasa gagal. Permasalahan FOMO Akademik menjadi semakin nyata di kalangan mahasiswa dan memiliki dampak yang serius bagi kesehatan mental, motivasi, dan keberlanjutan studi mahasiswa.

Generasi muda saat ini menghabiskan waktu hingga berjam-jam setiap harinya untuk mengakses media sosial. Semakin sering seseorang melihat pencapaian orang lain, semakin sering membandingkan diri. Terlebih dengan arus pembaharuan informasi di media sosial yang sangat cepat, dalam satu hari kita bisa melihat ratusan unggahan pencapaian diri orang lain hanya dari genggaman layar ponsel di tangan. Akibatnya, kita terus-menerus merasa rendah diri.
Sejalan dengan ini, George Gerbner mengemukakan teori yang relevan dengan fenomena FOMO Akademik yaitu Teori Kultivasi. Teori ini menjelaskan bahwa paparan media yang berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu yang lama akan memengaruhi cara individu memandang dan mempersepsi realitas sosial di lingkungan sekitarnya. Media sosial menciptakan pemahaman bahwa kehidupan semua orang berisi kebahagian, keberhasilan, dan kesuksesan karena unggahan dari teman-teman. Semakin lama, gambaran dunia nyata yang ada di pikiran kita adalah kehidupan mahasiswa yang ideal dengan produktivitas tinggi dan penuh pencapaian. Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari kenyataan hidup orang. Kesulitan atau kesedihan yang dialami tentunya tidak akan diperlihatkan kepada dunia maya.
Masalah utamanya bukan terletak pada mereka yang membagikan cerita kesuksesan, itu adalah hak untuk merasa bangga atas hasil kerja kerasnya. Permasalahannya terletak pada bagaimana pengguna media sosial memaknai dan mempersepsi informasi tersebut. Media sosial seharusnya menjadi tempat komunikasi dan sarana hiburan dari penatnya aktivitas. Namun, realitanya saat ini setiap kali membuka akun media sosial, terutama Instagram rasa cemas dan takut mulai muncul. Ada perasaan tidak nyaman melihat pencapaian mereka. Diri ini mulai membandingkan segala pencapaian dan menjadi tekanan akademik yang mengharuskan untuk mengejar ketertinggalan. Ini diperburuk dengan kondisi mahasiswa yang menarik diri dari lingkungan sosial akibat perasaan takut tersebut.
Kondisi ketakutan yang berlebihan atas pencapaian orang sangat mengganggu keberlangsungan aktivitas sehari-hari. Dampak dari fenomena FOMO Akademik terhadap kesehatan mental mahasiswa tidak bisa disepelekan. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat kecemasan, stres, bahkan hingga depresi. Masalah ini muncul akibat dari tekanan di lingkungan sosial yang membuat mahasiswa menjadi burnout. Demi mengejar ketertinggalan prestasi, tak sedikit dari mereka yang kemudian berlomba-lomba mengikuti banyak kegiatan, belajar tanpa istirahat, serta ambisi mengukur pencapaian hanya dari akademik. Di satu sisi ini menjadi dampak positif untuk mendorong produktivitas mahasiswa. Namun, di sisi lain jika semua itu dilakukan hanya demi kebutuhan media sosial dan agar tidak kalah dari teman-teman yang lain, justru berpotensi menjadi tekanan psikologis bila semua itu gagal.
Pada akhirnya pandangan kita terhadap media sosial yang perlu disusun kembali. Media sosial bukanlah musuh yang membawa senjata, melainkan ruang yang perlu kita sikapi dengan lebih bijak. Pencapaian seseorang bukanlah momok menakutkan. Mahasiswa perlu menyadari bahwa setiap orang mempunyai ritme, perjalanan, dan tantangan yang berbeda. Kesuksesan orang lain tidak akan mengurangi nilai diri kita. Tidak ada garis finish yang sama untuk semua orang karena kehidupan ini bukanlah sebuah perlombaan. Dengan demikian, mulailah berhenti membandingkan diri dengan apa yang hanya terlihat di dunia maya. Kita harus bisa lebih fokus pada pengembangan diri dan fokus pada proses yang sedang kita jalani tanpa kehilangan jati diri.
