Konten dari Pengguna

Perjalanan darat Indonesia ke Eropa: Berawal dari Dumai

Famega Syavira Putri

Famega Syavira Putri

Sedang dalam perjalanan darat dari Indonesia ke Eropa.

clock

Tulisan dari Famega Syavira Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan darat Indonesia ke Eropa: Berawal dari Dumai
zoom-in-whitePerbesar

Dumai, Riau, adalah titik nol saya untuk mengawali perjalanan darat dari Indonesia menuju Eropa. Saya akan menyeberang dari Dumai ke Malaka, Malaysia, naik bis ke Hatyai, Thailand. Dari Thailand ke Laos, kemudian lanjut ke Vietnam, lalu Cina, Mongolia, Rusia dan masuk kawasan Schengen, Eropa.

Saya memperkirakan waktu yang saya butuhkan untuk semua itu sekitar tiga bulan. Saya sengaja berangkat bulan April dengan harapan bahwa saya tiba di Rusia saat cuaca sudah tidak terlalu beku. Sebagai anak yang menghabiskan seluruh hidupnya di negeri tropis, saya tidak suka cuaca dingin. Apalagi suhu dingin ekstrim di Rusia bisa mencapai -20 sampai -40. Aduh! Suhu 25 saja saya sudah pakai jaket tebal!

Terdengar rumit? Sebenarnya sederhana saja. Anggap saja seperti perjalanan dari satu kota ke kota lain di Indonesia, hanya lebih jauh saja. Pokoknya sambung-menyambung angkutan umum entah kapal, kereta, bis atau angkot.. ojek juga boleh. Yang penting tidak pakai kapal terbang, jadi sekali-kali travelling dengan angkutan umum dan menghemat tumpukan jejak karbon.

Nantinya saya tahu bahwa ternyata perjalanan darat lintas negara itu tidak sesederhana naik bis AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) dari Jogja ke Jakarta. Ternyata banyak tantangan dan cobaan yang menghadang di seluruh perjalanan. Ada perbedaan bahasa, budaya, dan kurangnya informasi. Belum lagi birokrasi yang berbeda di setiap negara, bahkan juga di negara-negara yang memberlakukan bebas visa untuk Indonesia.

Saya memilih Dumai karena pertimbangan sederhana saja sih. Penyeberangannya hanya 2 jam, dan langsung sampai Malaka, tidak perlu melewati Singapura seperti kalau saya menyeberang dari Bintan atau Batam. Ada kapal Indomal dari Dumai ke tiga pelabuhan di Malaysia. Saya memilih kapal ke Malaka beroperasi tiap hari jam 09.30 pagi, dan bonus sekalian melihat kota bersejarah Malaka yang diakui UNESCO. Hanya dua jam, dan kami pun sampai.

Perjalanan darat Indonesia ke Eropa: Berawal dari Dumai (1)
zoom-in-whitePerbesar

Ini pengalaman pertama saya melintasi perbatasan dengan kapal, setelah sebelumnya pernah melintas batas dengan pesawat, bis, mobil, dan jalan kaki. Para penumpang turun dari kapal, dan langsung antre imigrasi masuk Malaysia. Dari imigrasi, bisa langsung jalan kaki ke pusat kota tua Malaka, dekat sekali.

Perjalanan darat Indonesia ke Eropa: Berawal dari Dumai (2)
zoom-in-whitePerbesar

Melihat gedung-gedung tua Malaka yang tertata indah dan rapi, saya menyimpan rasa iri dalam hati. Saya cuma bisa membayangkan jika kota tua Jakarta tertata serapi ini, pasti jadi lebih keren dari Malaka. Sayangnya penataan kota tua yang sudah direncanakan sejak masa Gubernur Ali Sadikin (sudah 50 tahun berlalu) dan dilanjurkan dari Gubernur ke Gubernur itu masih belum menghasilkan sesuatu yang mirip seperti Malaka. Ada kemajuan sih sudah, tapi masih kumal. Semoga Gubernur Jakarta yang baru bisa melanjutkan lagi (sekalian curcol).

Dari Malaka saya lanjut ke Krabi, kota-pantai di Thailand di mana saya ingin menghindari Songkran. Songkran adalah festival air menyambut tahun baru yang dirayakan di negara-negara Indochina. Simak kenapa akhirnya saya gagal menghindar di tulisan selanjutnya.