Konten dari Pengguna

Ancaman Karier atau Era Baru? Ketakutan Generasi Z Terkait AI dalam Dunia Kerja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cyrilla Nur Khulaida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan generasi muda.Foto : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan generasi muda.Foto : Shutterstock

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita dapat menemukannya dalam berbagai aktivitas, mulai dari mencari informasi, membuat desain, mengolah data, hingga membantu menyusun tulisan. Perkembangan ini tentu memberikan banyak kemudahan, tetapi di sisi lain juga menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi Generasi Z yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Pertanyaan seperti, "Apakah pekerjaan saya nantinya akan digantikan AI?" atau "Apakah masih ada kesempatan kerja ketika teknologi semakin pintar?" mulai sering muncul. Kekhawatiran tersebut sebenarnya cukup wajar karena Generasi Z akan memasuki dunia kerja ketika perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan teknologi.

Namun, melihat AI hanya sebagai ancaman rasanya kurang tepat. Jika melihat perkembangan teknologi dari masa ke masa, perubahan teknologi memang dapat mengurangi beberapa jenis pekerjaan, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan kebutuhan dan jenis pekerjaan baru. Komputer dan internet, misalnya, telah mengubah cara manusia bekerja dan menjalankan bisnis, tetapi keduanya juga melahirkan berbagai profesi baru.

Hal yang sama kemungkinan terjadi pada AI. Pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang memang lebih mudah dibantu oleh otomatisasi, seperti pengolahan data sederhana, pembuatan laporan dasar, pencarian informasi, hingga pekerjaan administratif tertentu. Namun, pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kerja sama, pengambilan keputusan, dan pemahaman terhadap manusia masih membutuhkan peran manusia.

Sebagai contoh, seorang desainer dapat menggunakan AI untuk mencari inspirasi atau membuat rancangan awal. Namun, desainer tetap perlu memahami keinginan klien, menentukan konsep, memilih desain yang sesuai, dan memberikan sentuhan kreatif. Begitu juga dengan seorang penulis yang dapat menggunakan AI untuk mencari ide atau membuat kerangka tulisan, tetapi sudut pandang, pengalaman, dan penilaian terhadap suatu persoalan tetap membutuhkan kemampuan manusia.

Gen Z Harus Beradaptasi dengan AI

Menurut saya, tantangan terbesar Generasi Z bukanlah melawan AI, tetapi belajar menggunakan AI dengan tepat. Teknologi sebaiknya dipandang sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan kemampuan dan produktivitas, bukan sebagai pesaing yang harus ditakuti.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan Generasi Z untuk menghadapi perubahan dunia kerja:

1. Terus belajar dan meningkatkan keterampilan

Perkembangan teknologi membuat kebutuhan dunia kerja terus berubah. Mengikuti kursus, pelatihan, sertifikasi, atau mempelajari keterampilan baru dapat menjadi bekal untuk menghadapi perubahan tersebut.

2. Mengembangkan kemampuan yang sulit digantikan AI

Kemampuan seperti komunikasi, berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, kerja sama, dan pemecahan masalah perlu terus dikembangkan. Keterampilan tersebut dapat menjadi nilai tambah karena tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi.

3. Belajar menggunakan AI secara bijak

Generasi Z perlu memahami cara memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan tanpa sepenuhnya bergantung kepadanya. Hasil dari AI tetap perlu diperiksa dan disesuaikan dengan kebutuhan.

4. Membangun pengalaman dan portofolio

Pendidikan formal memang penting, tetapi pengalaman dan hasil karya juga dapat menunjukkan kemampuan seseorang. Mengikuti proyek, organisasi, magang, atau kegiatan lainnya dapat membantu membangun portofolio sebelum memasuki dunia kerja.

AI: Ancaman atau Peluang?

Ketakutan terhadap AI tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Rasa khawatir justru dapat menjadi pengingat bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan dan kita perlu mempersiapkan diri. Yang perlu dihindari adalah membiarkan rasa takut tersebut membuat kita berhenti belajar dan berkembang.

Menurut saya, pertanyaan tentang AI seharusnya tidak hanya berhenti pada, "Apakah AI akan mengambil pekerjaan saya?" Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Apa yang harus saya kuasai agar mampu bekerja di tengah perkembangan AI?"

AI memang akan mengubah cara manusia bekerja, tetapi perubahan tersebut tidak selalu berarti berakhirnya kesempatan bagi manusia. Bagi Generasi Z, perkembangan AI dapat menjadi kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru, meningkatkan kemampuan diri, dan menemukan cara kerja yang lebih efektif.

Pada akhirnya, bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi yang penting, tetapi juga kemampuan untuk berpikir, beradaptasi, dan menggunakan teknologi secara bijak. AI mungkin mengubah dunia kerja, tetapi kesiapan manusia akan menentukan bagaimana kita menghadapi perubahan tersebut.