Belajar Berkata Tidak: Keterampilan Menentukan Keutamaan dalam Kehidupan

Penulis dan mahasiswa Universitas Pamulang yang aktif menulis tentang isu sosial dan gaya hidup.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Cyrilla Nur Khulaida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kita menerima terlalu banyak hal hanya karena merasa nggak enak untuk menolak? Misalnya ketika teman meminta bantuan, ada kegiatan baru yang mengajak kita bergabung, atau ada pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak bisa kita kerjakan saat itu. Awalnya mungkin terasa biasa saja, tetapi kalau terlalu banyak mengatakan “iya”, lama-lama kita sendiri yang kewalahan.
Mengatakan “tidak” memang bukan hal yang mudah. Kadang kita takut dianggap tidak peduli, takut mengecewakan orang lain, atau merasa bersalah karena tidak bisa membantu. Akhirnya, kita memilih menerima meskipun sebenarnya sudah punya banyak urusan yang belum selesai.
Padahal, mengatakan tidak bukan berarti kita menjadi orang yang egois. Ada saatnya kita memang perlu menolak karena harus menyelesaikan tanggung jawab yang lebih penting. Kita juga perlu sadar bahwa waktu dan tenaga setiap orang ada batasnya.
Ketika Semua Hal Terasa Penting
Masalahnya, kita sering menganggap semua kegiatan sama-sama penting. Ada tugas yang harus diselesaikan, ajakan teman, kegiatan organisasi, pekerjaan, sampai urusan pribadi. Karena ingin melakukan semuanya, kita justru kesulitan menentukan mana yang harus didahulukan.
Kalau sudah seperti itu, fokus kita bisa terbagi ke mana-mana. Pekerjaan yang seharusnya selesai hari ini malah tertunda karena perhatian digunakan untuk hal lain. Pada akhirnya, kita merasa sudah melakukan banyak hal, tetapi masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
Menurut saya, di sinilah pentingnya menentukan prioritas. Kita tidak harus melakukan semuanya sekaligus. Ada hal yang memang harus dikerjakan sekarang, tetapi ada juga yang sebenarnya masih bisa menunggu.
Mengatakan Tidak Bukan Berarti Tidak Peduli
Banyak orang mungkin masih menganggap bahwa menolak berarti tidak mau membantu. Padahal, tidak selalu seperti itu. Terkadang kita menolak justru karena tahu bahwa kita sedang tidak punya cukup waktu atau tenaga untuk memberikan bantuan dengan baik.
Contohnya, seorang mahasiswa sedang mengejar deadline tugas kuliah. Kemudian, temannya meminta bantuan untuk mengurus suatu kegiatan. Membantu teman tentu merupakan hal yang baik, tetapi kalau menerima permintaan tersebut membuat tugas kuliah terbengkalai, kita perlu mempertimbangkannya kembali.
Menolak juga tidak harus dilakukan dengan kasar. Kita bisa menjelaskan keadaan dengan baik dan mengatakan bahwa saat ini belum bisa membantu. Kalau memang memungkinkan, kita bisa menawarkan waktu lain ketika pekerjaan utama sudah selesai.
Ada Hubungannya dengan Manajemen
Kalau dilihat dari ilmu manajemen, menentukan prioritas sebenarnya merupakan bagian dari cara kita mengelola sumber daya. Dalam kehidupan sehari-hari, sumber daya tersebut bukan hanya uang atau fasilitas, tetapi juga waktu, tenaga, dan perhatian.
Waktu menjadi hal yang penting karena jumlahnya terbatas. Ketika terlalu banyak kegiatan diterima tanpa melihat kemampuan diri sendiri, waktu yang kita punya akan semakin terbagi. Karena itu, memilih kegiatan mana yang perlu dilakukan dan mana yang bisa ditolak merupakan bagian dari manajemen diri.
Hal yang sama berlaku untuk tenaga. Kita tidak mungkin memiliki energi yang sama sepanjang hari. Kalau semua pekerjaan dianggap harus dilakukan sekarang, kita justru bisa kelelahan dan hasil pekerjaan menjadi kurang maksimal.
Bagaimana Menentukan Prioritas?
Menentukan prioritas sebenarnya tidak harus menggunakan cara yang rumit. Kita bisa mulai dengan mencatat apa saja yang harus dilakukan, kemudian melihat mana yang paling penting dan mana yang memiliki batas waktu paling dekat.
Sebelum menerima permintaan atau kegiatan baru, kita juga bisa bertanya kepada diri sendiri:
1. Apakah hal ini memang penting untuk saya lakukan?
Kalau tidak terlalu penting, mungkin kita bisa menundanya atau mempertimbangkan untuk tidak mengambilnya.
2. Apakah saya punya waktu untuk melakukannya?
Jangan sampai kita mengatakan “iya” hanya karena tidak enak menolak, tetapi akhirnya pekerjaan tersebut tidak selesai dengan baik.
3. Apakah kegiatan ini sesuai dengan tanggung jawab saya saat ini?
Tidak semua kegiatan harus kita ikuti. Pilih kegiatan yang memang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang sedang dijalankan.
4. Apa yang akan terjadi kalau saya menolak?
Terkadang kita terlalu takut membayangkan reaksi orang lain. Padahal, belum tentu penolakan kita akan menimbulkan masalah sebesar yang kita bayangkan.
Tidak Semua Kesempatan Harus Diambil
Saat ini banyak sekali kesempatan yang datang dari berbagai arah. Ada tawaran untuk mengikuti organisasi, kegiatan kampus, pekerjaan, kepanitiaan, atau aktivitas lainnya. Karena takut kehilangan kesempatan, kita sering merasa harus mengambil semuanya.
Padahal, mengambil terlalu banyak kegiatan juga memiliki risiko. Waktu yang seharusnya digunakan untuk sesuatu yang lebih penting bisa habis karena terlalu banyak aktivitas. Pada akhirnya, kita mungkin memang memiliki banyak pengalaman, tetapi tidak semuanya dapat dijalankan dengan maksimal.
Menurut saya, memilih kesempatan bukan berarti kita sedang menyia-nyiakan peluang. Justru, kita sedang belajar menentukan mana yang benar-benar sesuai dengan kemampuan dan tujuan kita.
Belajar Menolak dengan Cara yang Baik
Menolak permintaan seseorang tidak harus membuat hubungan menjadi buruk. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menyampaikannya. Kita bisa tetap menghargai orang tersebut sambil menjelaskan bahwa saat ini ada tanggung jawab lain yang harus diselesaikan.
Misalnya, ketika ada teman yang meminta bantuan saat kita sedang sibuk, kita bisa mengatakan bahwa saat ini belum bisa membantu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika memungkinkan, kita dapat menawarkan untuk membantu di waktu lain.
Cara seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya penting. Kita belajar menghargai orang lain sekaligus belajar menghargai batas kemampuan diri sendiri.
Belajar Menentukan Apa yang Benar-Benar Penting
Pada akhirnya, hidup bukan tentang menerima semua hal yang datang kepada kita. Akan selalu ada ajakan, pekerjaan, kesempatan, dan permintaan dari orang lain. Namun, kita tetap harus memilih karena waktu dan tenaga yang kita miliki terbatas.
Belajar mengatakan tidak adalah salah satu cara untuk menentukan apa yang benar-benar penting. Dengan berani menolak sesuatu yang kurang sesuai dengan prioritas, kita bisa memberikan perhatian yang lebih besar pada hal yang memang menjadi tanggung jawab kita.
Manajemen diri juga bukan berarti membuat jadwal penuh dari pagi sampai malam. Justru, kita perlu tahu kapan harus bekerja, kapan harus menyelesaikan sesuatu, dan kapan harus mengatakan cukup.
Jadi, mengatakan “tidak” tidak selalu berarti kita tidak peduli. Terkadang, kata tersebut justru menunjukkan bahwa kita tahu apa yang sedang menjadi prioritas.
Sebab, kita tidak harus melakukan semuanya. Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang perlu dilakukan, apa yang bisa ditunda, dan apa yang memang harus kita tolak.
