Menolak Tua di Usia Muda: Ketika Estetika Digital Merampas Masa Kanak-Kanak
Tulisan dari Daaris Salwaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau dulu anak-anak bangga pakai kaus karakter kartun, hari ini banyak dari mereka yang lebih memilih tampil dengan gaya streetwear dewasa demi terlihat "estetik" di media sosial.
Fenomena hilangnya batasan usia, ini bukan sekadar urusan selera fesyen. Ada bahaya psikologis, eksploitasi industri fast fashion, hingga ancaman predator digital yang mengintai di balik pakaian dewasa tersebut.
Mengapa anak-anak kita sekarang begitu haus akan validasi digital hingga terburu-buru meninggalkan masa kecilnya? Dan apa peran kita sebagai orang dewasa untuk menghentikannya?
Pernahkah Anda memperhatikan anak-anak usia sekolah dasar atau awal remaja hari ini saat berada di pusat perbelanjaan? Jauh dari kesan polos dengan kaus bergambar karakter kartun, banyak dari mereka tampil dengan riasan wajah yang rapi, pakaian model "crop top", celana kargo longgar, atau gaya "streetwear" serbaminim. Fenomena ini bukan lagi sekadar kasus salah kostum satu malam, melainkan sebuah pergeseran menjadi budaya yang masif.
Secara global, fenomena penyusutan usia anak-anak ini melahirkan istilah baru yang sempat viral yaitu "Sephora Kids". Istilah ini merujuk pada fenomena anak-anak di bawah umur yang menyerbu toko kecantikan demi produk perawatan wajah dan kosmetik dewasa.
Di Indonesia, tren ini terwujud lewat cara berpakaian. Anak-anak tampak terburu-buru meninggalkan masa kecilnya demi terlihat "estetik", dan gaul. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya sedang mendikte pakaian mereka?
Dahulu, gaya berpakaian anak ditentukan oleh pilihan orang tua yang mengutamakan kenyamanan dan fungsi. Hari ini, kendali itu telah berpindah ke trend di TikTok, Instagram, dan Pinterest.
Melalui layar ponsel, anak-anak setiap hari disuguhi standarisasi visual yang maya. Mereka melihat para content creator remaja atau dewasa muda yang dipuji karena penampilannya yang modis. Bagi anak yang fungsi kognitif dan identitas dirinya masih berkembang, apa yang sering muncul di media sosial adalah sebuah "kebenaran baku".
Akibatnya, muncul kecemasan sosial baru di kalangan anak-anak: takut dianggap tidak keren atau tertinggal jika masih berpakaian layaknya anak-anak. Mereka tidak sedang membeli baju, mereka sedang membeli validasi digital dalam bentuk tombol "like" dan pengikut "followers".
Faktor penentu lainnya adalah pengaruh luar biasa dari idola pop, terutama tren K-Pop dan selebritas global. Gaya busana panggung para idola yang berani, dan sensual kerap ditiru secara mentah-mentah oleh anak-anak sebagai bentuk loyalitas kepada sang idola.
Sialnya, fenomena psikologis ini ditangkap sebagai peluang bisnis yang menggiurkan oleh industri fast fashion. Merek-merek pakaian dengan agresif memproduksi massal pakaian dengan potongan dewasa—seperti gaun ketat, baju dengan potongan dada rendah, atau gaya "grunge" namun dalam ukuran tubuh anak-anak. Pasar dibanjiri opsi pakaian yang mengeksploitasi fisik anak, sementara pilihan pakaian yang ramah anak dan fungsional justru semakin terpinggirkan di sudut toko.
Masalah ini bergerak jauh melampaui urusan selera estetika. Ada bahaya nyata di balik kain-kain dewasa tersebut. Ketika anak-anak berpakaian tidak sesuai usianya, masyarakat secara tidak sadar ikut mendorong mereka ke dalam pusaran seksualitas dini "sexualization of children". Anak-anak mulai dinilai semata-mata berdasarkan komodifikasi fisik, bukan bakat, kecerdasan, atau karakter mereka.
Lebih mengkhawatirkan lagi, di ruang digital yang tanpa batas dan penuh dengan anonimitas, penampilan yang terlalu dewasa pada anak-anak adalah umpan empuk bagi para pelaku kejahatan digital dan predator anak atau pedofil. Sesuatu yang dianggap anak sebagai gaya yang "aesthetic" di media sosial, bisa berubah menjadi ancaman keselamatan yang mengerikan di dunia nyata.
Melarang anak menggunakan media sosial secara total atau mengurung mereka dari dunia luar tentu bukan solusi yang realistis di era digital ini. Benteng pertahanan terkuat tetap berada di lingkungan terdekat mereka yaitu keluarga.
Orang tua harus berani mengambil kembali kendali yang sempat direbut oleh media sosial. Langkah ini dimulai dengan membangun percakapan terbuka, bukan sekadar melarang secara perintah. Anak-anak perlu diberi pengertian bahwa panggung hiburan para idola di layar kaca adalah ruang pertunjukan profesional orang dewasa, bukan cermin untuk kehidupan sehari-hari mereka. Orang tua juga harus lebih selektif dan tegas dalam memilah apa yang dibeli oleh anak.
Masa kanak-kanak adalah fase singkat yang tidak akan pernah bisa diulang. Jangan biarkan layar sekecil ponsel dan tuntutan tren yang fana merampas kepolosan mereka. Sudah saatnya kita membiarkan anak-anak tumbuh sesuai dengan usia mereka sendiri, tanpa perlu dipaksa matang sebelum waktunya.

