Konten dari Pengguna

Baling-Baling Bambu yang Melintasi Zaman: Doraemon Tak Pernah Benar-Benar Pergi

DADANG BUDI SETIAWAN

DADANG BUDI SETIAWAN

ASN pada Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Tuban

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DADANG BUDI SETIAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Doraemon
zoom-in-whitePerbesar
Doraemon

Bagi saya, dan mungkin bagi jutaan dari Anda, hari Minggu tidak pernah benar-benar dimulai sebelum lagu pembuka itu berkumandang. Kabar bahwa Doraemon berhenti tayang di salah satu stasiun TV yang telah menghidupinya selama 35 tahun terasa seperti sebuah perpisahan personal. Rasanya seperti mendengar kabar bahwa rumah masa kecil kita telah dijual; ada bagian dari identitas saya yang seolah ikut tercerabut, walaupun sebenarnya saya pun sudah lama tidak menonton TV.

Namun, di tengah rasa kehilangan itu, terselip kabar bahwa ia hanya sedang "pindah rumah" ke stasiun TV lain. Dan di sinilah saya menyadari satu hal: Doraemon tidak akan pernah benar-benar pergi.

Sahabat yang Tumbuh Bersama Saya

Sejak saya masih kesulitan mengeja alfabet hingga kini saya harus bergelut dengan pekerjasn, Doraemon selalu ada di sana. Bagi saya, Doraemon bukan sekadar hiburan visual. Ia adalah "jangkar" yang menjaga saya agar tetap terhubung dengan sisi kanak-kanak yang jujur.

Dulu, saya melihat diri sangat dekat pada sosok Nobita, walaupun berbadan Takeshi Gouda atau dikenal dengan Giant. Saya tahu rasanya gagal, rasanya malas, dan rasanya ingin lari dari masalah menggunakan "Pintu Kemana Saja". Menonton Doraemon setiap pukul 08.00 pagi adalah ritual sakral. Tanpa sadar, saya membangun sebuah hubungan parasosial—sebuah istilah komunikasi untuk menggambarkan bagaimana saya merasa memiliki ikatan emosional satu arah yang sangat kuat dengan karakter-karakter fiksi tersebut. Saya mengenal tangis Nobita, kemarahan Ibu, hingga aroma kamar mereka sesak di ingatan saya.

Pelajaran tentang Menjadi Manusia

Semakin dewasa, saya mulai melihat Doraemon dengan cara yang berbeda. Bukan lagi tentang alat-alat ajaibnya, tapi tentang filosofi di baliknya. Saya belajar dari setiap kesalahan Nobita bahwa teknologi adalah pelayan, bukan pengganti usaha.

Hampir semua episode berakhir dengan kekacauan karena Nobita menyalahgunakan alat dari kantong ajaib. Itu adalah tamparan lembut bagi saya di masa kini: bahwa di dunia yang serba instan ini, tidak ada "Roti Hafalan dari Doraemon" yang bisa menggantikan proses belajar yang sesungguhnya. Doraemon mengajarkan saya untuk berempati melalui hubungan persahabatan yang tidak sempurna, namun selalu ada di saat sulit.

Memori Kolektif dalam Lensa Komunikasi

Jika saya tinjau dari kacamata teori komunikasi, pengalaman saya dan Anda adalah bagian dari Memori Kolektif. Doraemon bukan hanya milik saya, ia adalah "bahasa rahasia" generasi milenial. Kita bisa bertemu orang asing di mana saja, dan saat membicarakan "Baling-baling Bambu", kita langsung merasa satu frekuensi.

Secara teoritis, ini adalah Teori Kultivasi yang bekerja secara masif. Selama puluhan tahun, nilai-nilai kebaikan, harapan, dan persistensi yang ditawarkan Doraemon telah mengultivasi cara kita memandang dunia. Ia membentuk standar moral kita tentang apa itu sahabat sejati dan bagaimana seharusnya sebuah harapan dirawat.

Melepas Tradisi, Merawat Esensi

Meskipun kini slot waktu Minggu pagi saya tidak lagi sama, dan Doraemon harus bermigrasi ke "rumah" baru, saya tidak merasa kehilangan esensinya. Sejarah 35 tahun itu sudah terpatri sebagai struktur permanen dalam ingatan saya.

Doraemon mungkin tidak lagi menemani saya dengan cara yang sama seperti saat saya masih berseragam merah-putih. Namun, setiap kali saya merasa lelah dengan dunia dewasa yang rumit, saya tahu ada satu sudut di memori saya—sebuah kamar dengan laci meja belajar yang bisa membawa saya kembali ke masa di mana semua masalah bisa selesai dengan segenggam harapan dan seorang sahabat biru yang tak pernah lelah memberi kesempatan kedua.