Berkurban dan Berkorban: Tentang Keikhlasan dan Cinta

ASN pada Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Tuban
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari DADANG BUDI SETIAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap Iduladha, kita akrab dengan suara takbir, aroma sate, dan hiruk-pikuk pembagian daging kurban. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita renungkan: apakah kita sudah benar-benar memahami makna antara berkurban dan berkorban?
Dua kata ini terdengar mirip, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar perbedaan huruf.
Berkurban mungkin bisa dilakukan setahun sekali. Membeli kambing atau sapi, lalu menyerahkannya untuk disembelih atas nama ibadah. Tetapi berkorban adalah perkara yang lebih panjang: tentang mengalahkan ego, menahan gengsi, mengikhlaskan waktu, tenaga, bahkan perasaan demi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Tidak semua orang mampu membeli hewan kurban. Namun semua orang sebenarnya punya kesempatan untuk berkorban.
Ada orang tua yang diam-diam menahan lelah demi pendidikan anaknya. Ada ibu yang mengurangi kebutuhan pribadinya agar dapur tetap mengepul. Ada pekerja yang tetap tersenyum meski tekanan hidup datang bertubi-tubi. Ada pula seseorang yang memilih mengalah dalam pertengkaran demi menjaga hubungan tetap utuh. Bukankah itu juga bentuk pengorbanan?
Iduladha sejatinya bukan hanya tentang hewan yang disembelih, tetapi tentang ego yang ditundukkan.
Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan dan nilai kebaikan harus berada di atas kepentingan pribadi. Sedangkan Nabi Ismail AS menunjukkan keteladanan tentang kepatuhan, keikhlasan, dan kepercayaan penuh. Dari sana kita belajar, bahwa pengorbanan terbesar manusia sering kali bukan soal harta, melainkan soal hati.
Hari ini, di tengah dunia yang serba cepat dan penuh pencitraan, pengorbanan justru menjadi sesuatu yang mahal. Banyak orang ingin dihargai, tetapi sedikit yang mau mengalah. Banyak yang ingin didengar, tetapi enggan memahami. Banyak yang ingin diprioritaskan, tetapi sulit berkorban untuk orang lain.
Padahal hidup tidak pernah benar-benar berjalan tanpa pengorbanan.
Persahabatan butuh pengertian. Keluarga membutuhkan keikhlasan. Pekerjaan membutuhkan perjuangan. Bahkan mimpi pun meminta kita mengorbankan rasa nyaman.
Karena itu, Iduladha seharusnya tidak berhenti di momentum seremonial. Setelah daging dibagikan, semestinya ada hati yang ikut dibersihkan. Setelah takbir berkumandang, semestinya ada ego yang ikut diredam.
Sebab pada akhirnya, nilai manusia bukan hanya diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang rela ia berikan.
Dan mungkin, pengorbanan paling sulit memang bukan kehilangan sesuatu yang kita punya, melainkan merelakan sesuatu yang kita cinta.
