Cinta dan Bahasa yang Terasa Nyata: Opini tentang Can This Love Be Translated?

ASN pada Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Tuban
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari DADANG BUDI SETIAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awalnya saya kira Can This Love Be Translated? cuma akan jadi drama romantis biasa yang enak ditonton sambil rebahan. Ternyata saya salah. Drama ini pelan-pelan berubah jadi pengalaman emosional yang hangat, reflektif, dan—anehnya—relatable banget, bahkan buat saya yang tidak hidup di dunia selebritas atau penerjemah internasional.
Sejak tayang pertengahan Januari 2026, serial ini langsung ramai dibicarakan. Bukan cuma karena dibintangi Kim Seon-ho dan Go Yoon-jung yang sama-sama punya magnet kuat, tapi karena konsep ceritanya terasa segar: cinta yang tumbuh di antara seorang aktris global dan penerjemah pribadinya. Dari premisnya saja, sudah kebayang kalau yang diuji bukan cuma perasaan, tapi cara memahami satu sama lain.
Bukan romansa berisik, tapi romansa yang tumbuh pelan
Yang paling saya rasakan sepanjang menonton adalah: drama ini tidak terburu-buru. Hubungan Ju Ho-jin dan Cha Mu-hee tidak langsung manis. Justru banyak canggungnya, banyak jedanya, banyak momen salah paham yang terasa “manusia banget”.
Ho-jin itu jenius dalam bahasa asing, tapi kikuk soal perasaan. Mu-hee tampil percaya diri di depan kamera, tapi justru kesulitan jujur soal emosi pribadinya. Kombinasi ini bikin dinamika mereka menarik—dua orang yang sama-sama “pintar” di bidangnya, tapi sama-sama gagap saat berhadapan dengan hati sendiri.
Romantisnya tidak meledak-ledak. Tidak penuh adegan dramatis berlebihan. Tapi justru karena dibangun lewat percakapan kecil, tatapan yang ditahan, dan kehadiran yang konsisten, hubungan mereka terasa lebih nyata.
Akting yang bikin lupa kalau ini “drama”
Chemistry Kim Seon-ho dan Go Yoon-jung jadi salah satu kekuatan utama. Interaksi mereka terasa alami, tidak dibuat-buat. Ada banyak adegan di mana dialognya sedikit, tapi ekspresi wajah mereka sudah “bicara” panjang.
Saya beberapa kali merasa seperti sedang melihat dua orang sungguhan yang lagi belajar memahami satu sama lain, bukan sekadar karakter di layar. Detail kecil seperti nada suara yang melembut, senyum yang setengah ragu, atau cara mereka menghindari tatapan—semuanya bikin emosi adegan terasa hidup.
Visual lintas negara yang bukan sekadar tempelan
Drama ini juga memanjakan mata lewat lokasi syuting di berbagai negara: Korea Selatan, Jepang, Kanada, sampai Italia. Tapi buat saya, keindahan visualnya tidak terasa tempelan. Setiap tempat seperti punya suasana emosional sendiri.
Ada ruang yang terasa hangat dan intim, ada yang terasa dingin dan jauh. Tanpa sadar, latar tempat ikut memperkuat jarak atau kedekatan antar tokoh. Jadi visual di sini bukan cuma indah, tapi ikut “bercerita”.
Konflik yang datang dari dalam, bukan sekadar orang jahat
Menariknya, drama ini tidak bergantung pada sosok antagonis yang jahat. Konflik terbesarnya justru datang dari dalam diri karakter: rasa takut membuka diri, tekanan sebagai figur publik, dan kebingungan menghadapi perasaan yang tidak terkontrol.
Bahkan ketika Mu-hee terlibat dalam program dating reality show sebagai bagian dari pekerjaannya, konflik yang muncul tetap terasa emosional, bukan sensasional. Fokusnya bukan sekadar cemburu, tapi pada pergulatan batin Ho-jin yang harus profesional sebagai penerjemah, sekaligus menahan perasaan yang tumbuh.
Sedikit dari sudut komunikasi
Di balik romansa, drama ini sebenarnya kuat menggambarkan komunikasi interpersonal. Ia menunjukkan bahwa memahami orang lain tidak cukup dengan kata yang benar, tapi juga butuh empati, konteks, dan keberanian untuk benar-benar mendengar.
Ho-jin bisa menerjemahkan banyak bahasa dunia, tapi memahami “bahasa hati” Mu-hee justru jadi tantangan terbesarnya. Dan di situ saya merasa drama ini sedang menyindir kita juga: sering kali kita fasih bicara, tapi belum tentu benar-benar paham.
dan akhirnya...
Buat saya, Can This Love Be Translated? bukan sekadar tontonan romantis, tapi cerita tentang dua orang yang belajar pelan-pelan untuk jujur—pada diri sendiri dan pada satu sama lain.
Drama ini mengingatkan bahwa cinta bukan hanya soal menemukan orang yang tepat, tapi tentang kesediaan untuk terus mencoba memahami, bahkan ketika makna yang kita terima tidak selalu sama dengan yang dimaksudkan.
Dan mungkin di situlah jawabannya: cinta memang tidak selalu mudah “diterjemahkan”, tapi selalu layak diusahakan.
