Lari: Antara Kesadaran Hidup Sehat, FOMO, dan Panggung Gaya Hidup

ASN pada Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Tuban
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari DADANG BUDI SETIAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kalau dulu orang lari supaya sehat. Sekarang, kadang orang sehat supaya bisa ikut lari." Kalimat itu memang terdengar berlebihan, tetapi ada benarnya.
Beberapa tahun terakhir, jalanan kota, alun-alun, ruang terbuka hijau, hingga kawasan car free day dipenuhi pelari. Hampir setiap bulan ada agenda fun run, city run, trail run, hingga marathon. Tiket berbagai event bahkan sering habis dalam hitungan menit. Fenomena ini tentu patut diapresiasi karena menunjukkan semakin banyak masyarakat yang beraktivitas fisik.
Pertanyaannya, benarkah ini murni karena kesadaran hidup sehat? Atau jangan-jangan kita sedang menyaksikan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), ketika seseorang merasa harus ikut tren agar tidak tertinggal dari lingkungan sosialnya?
Data menunjukkan keduanya berjalan beriringan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menyebut sekitar 31 persen orang dewasa di dunia belum cukup aktif secara fisik, sehingga meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga merupakan kabar baik. Di Indonesia sendiri, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga memperlihatkan walau masih cukup rendah, kesadaran masyarakat terhadap aktivitas fisik mulai membaik, meski belum merata. Artinya, tren lari memang memiliki sisi positif sebagai pintu masuk menuju gaya hidup sehat.
Namun, di balik itu terdapat dimensi sosial yang menarik.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menyebut adanya konsep cultural capital atau modal budaya. Pilihan seseorang terhadap pakaian, hobi, hingga aktivitas olahraga menjadi simbol identitas sosial. Lari bukan lagi sekadar olahraga, tetapi juga cara menunjukkan siapa diri kita.
Di sisi lain, Erving Goffman melalui teori Dramaturgi menjelaskan bahwa kehidupan sosial layaknya sebuah panggung. Setiap orang berusaha menampilkan citra terbaik di hadapan publik. Dalam konteks lari, panggung itu berpindah ke media sosial.
Unggahan pace, tangkapan layar Strava, foto saat melintasi garis finis, hingga jersey dengan logo event menjadi bagian dari komunikasi nonverbal. Pesannya sederhana: aku aktif, disiplin, sehat, dan produktif.
Tidak ada yang salah dengan itu. Justru, citra positif dapat memotivasi orang lain ikut bergerak.
Persoalannya muncul ketika simbol lebih penting daripada substansi.
Olahraga yang dulu dikenal paling murah kini berubah menjadi ekosistem konsumsi. Mulai dari sepatu khusus jutaan rupiah, kacamata khusus, apparel teknis, jam tangan GPS, earphone olahraga, langganan aplikasi latihan, hingga biaya pendaftaran event yang tidak bisa dianggap murah. Bahkan banyak fotografer lari yang berjajar di sepanjang rute untuk mengabadikan momen peserta. Setelah lomba selesai, foto-foto itu bisa didapatkan melalui aplikasi berbayar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa lari telah berkembang menjadi bagian dari experience economy, ketika yang dibeli bukan hanya olahraga, tetapi pengalaman, identitas, dan cerita yang bisa dibagikan.
Ledakan jumlah event lari juga menghadirkan tantangan baru.
Semakin banyak penyelenggara berlomba membuat event. Namun, kualitas tidak selalu sejalan dengan kuantitas. Kasus meninggalnya peserta, penggunaan BIB ajudan pejabat tidak sesuai aturan, hingga kericuhan pada salah satu event lari akibat keterlambatan distribusi medali finisher menjadi pengingat bahwa profesionalisme penyelenggara jauh lebih penting daripada sekadar viral di media sosial.
Ironisnya, pada kasus terakhir sebagian peserta begitu kecewa karena tidak segera memperoleh medali. Padahal, jika tujuan utama lari adalah kesehatan, bukankah tubuh yang lebih bugar seharusnya menjadi hadiah terbesar?
Di sinilah kita perlu bertanya ulang: apakah yang sebenarnya kita kejar? Garis finis, medali, unggahan Instagram, atau kesehatan itu sendiri?
Tentu tidak adil jika semua peserta dianggap hanya mengejar validasi sosial. Banyak pelari yang benar-benar konsisten berlatih, menjaga pola makan, hingga menjadikan lari sebagai terapi mental. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa media sosial membuat batas antara olahraga dan pencitraan menjadi semakin tipis.
Saya sendiri sering tergoda ingin ikut berbagai event lari. Melihat teman-teman mengunggah foto dengan medali dan jersey yang keren rasanya memang menyenangkan. Tetapi kemudian saya ingat pesan dokter: berat badan saya saat ini jauh dari ideal untuk lari jarak. Kasihan lututnya.
Kalau diibaratkan, roda motor memang bisa berputar di jalan, tetapi jangan dipaksa menopang beban truk Kopdes, he.... Yang rusak bukan semangatnya, melainkan "suspensinya". Jadi, untuk sementara saya memilih berjalan ringan alias Slow Jogging seperti yang sedang viral di Korea atau bersepeda terlebih dahulu. Toh, tujuan akhirnya sama: tubuh yang lebih sehat.
Pada akhirnya, tren lari adalah fenomena sosial yang menarik. Ia bukan hanya olahraga, tetapi juga komunikasi, identitas, ekonomi kreatif, hingga budaya populer.
Tidak masalah memakai sepatu mahal. Tidak salah mengejar medali. Tidak keliru mengunggah foto terbaik setelah finis.
Asalkan kita tidak lupa: Jangan merasa paling sehat, paling keren, dan paling-paling lainnya. Tapi sepenggal kemenangan sejati adalah bagimana saling memberikan dukungan positif bagi orang lain.
Ingat juga, jangan sampai yang lebih cepat berkembang adalah feed media sosial, sementara kebugaran tubuh justru tertinggal.
Karena sejatinya, garis finis bukan berada di bawah balon start-finish sebuah event, melainkan pada kemampuan kita menjaga kesehatan untuk jangka panjang.
