Konten dari Pengguna

Saya, QRIS, dan Cara Kita Mengubah Kebiasaan

DADANG BUDI SETIAWAN

DADANG BUDI SETIAWAN

ASN pada Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Tuban

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DADANG BUDI SETIAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya, QRIS, dan Cara Kita Mengubah Kebiasaan
zoom-in-whitePerbesar

Dulu saya termasuk generasi yang kalau beli apa-apa masih refleks pegang dompet dulu. Bahkan kadang ada rasa tenang kalau mendengar bunyi receh di saku atau melihat lembar uang terselip di balik casing HP. Rasanya “aman”. Rasanya nyata.

Tapi sekarang, saya justru lebih sering panik ketika baterai HP tinggal 3 persen daripada saat dompet tertinggal di rumah.

Karena hidup pelan-pelan berubah. Dan salah satu simbol perubahan itu bernama QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

Awalnya saya menganggap QRIS cuma alat pembayaran biasa. Tempel kode. Scan. Selesai. Praktis, iya. Cepat, iya. Tapi setelah diamati, QRIS ternyata bukan cuma soal transaksi. Ia sedang mengubah budaya, psikologi, bahkan cara manusia membangun relasi sosial.

Di warung kopi pinggir jalan, penjual es teh, tukang parkir, sampai pedagang pasar malam, sekarang mulai akrab dengan kalimat: “Bisa QRIS, Kak.”

Kalimat sederhana itu sebenarnya revolusioner.

Dulu digitalisasi identik dengan mall besar, kafe mahal, atau kota metropolitan. Sekarang digitalisasi nongkrong di warung kecil sambil makan gorengan. Teknologi akhirnya turun dari menara elitnya dan duduk lesehan bersama masyarakat biasa.

Yang menarik, QRIS juga mengubah perilaku konsumsi kita.

Karena uang tidak lagi “terlihat”, pengeluaran terasa lebih ringan. Secara psikologis, manusia cenderung lebih emosional ketika menyerahkan uang tunai dibanding hanya menempelkan kamera ke barcode. Ada jarak emosional yang hilang. Transaksi menjadi cepat, instan, nyaris tanpa jeda berpikir.

Mungkin itu sebabnya sekarang kita bisa berkata: “Cuma jajan dikit.” Padahal mutasi rekening panjangnya seperti daftar hadir rapat.

Dalam kajian komunikasi dan teknologi, fenomena ini bisa dilihat sebagai bagian dari mediasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi ikut membentuk kebiasaan, keputusan, bahkan identitas sosial manusia.

QRIS membuat semua orang terlihat “modern”. Mau beli cilok lima ribu atau kopi susu tiga puluh ribu, gesturnya sama: buka HP, scan, lalu muncul suara notifikasi sukses.

Ada rasa menjadi bagian dari zaman.

Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa kemudahan bisa membuat manusia kehilangan kesadaran atas nilai uang. Kita memasuki era ketika transaksi semakin cepat, tetapi refleksi semakin lambat.

Dulu sebelum membeli sesuatu, orang masih sempat membuka dompet, menghitung uang, lalu berpikir ulang. Sekarang? Terlalu cepat untuk menyesal.

Meski begitu, saya tetap percaya QRIS adalah salah satu inovasi paling demokratis dalam dunia finansial Indonesia. Ia mempertemukan pedagang kecil dengan ekosistem digital tanpa membuat mereka harus terlihat “besar” dulu.

Dan mungkin itu yang paling menarik dari teknologi: bukan ketika ia terlihat canggih, tetapi ketika ia terasa biasa.

Sampai akhirnya kita lupa, bahwa hidup kita sudah berubah total hanya karena sebuah kotak barcode hitam putih di meja kasir.