Konten dari Pengguna

Sesederhana Pelas, Sedalam Kehidupan

DADANG BUDI SETIAWAN

DADANG BUDI SETIAWAN

ASN pada Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Tuban

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DADANG BUDI SETIAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: RRI
zoom-in-whitePerbesar
sumber: RRI

Sejak kecil, saya sudah akrab dengan bentuknya yang sederhana, pipih, hangat, kadang tak simetris, dengan pinggiran yang sedikit garing. Aromanya selalu lebih dulu sampai daripada tampilannya, saat ibu di dapur sedang memasaknya. Dan yang paling penting—ia tidak pernah butuh banyak teman. Nasi putih hangat saja sudah cukup menghadirkan rasa yang utuh, jujur, dan entah kenapa… menenangkan.

Ada semacam kejujuran dalam pelas. Ia tidak berusaha tampil mewah, tidak pula rumit dalam komposisi. Jagung yang ditumbuk atau diulek kasar, kurang enak kalau di blender, sedikit tepung, bumbu yang secukupnya—lalu digoreng dengan kesabaran. Tidak ada pretensi. Tidak ada kepura-puraan. Mungkin itu sebabnya ia terasa dekat.

Waktu berjalan, hidup membawa saya ke fase yang berbeda. Bekerja, berkeluarga, dan akhirnya menetap di Tuban, sebuah kota pesisir pantai utara jawa. Di sinilah saya berkenalan dengan satu varian yang memberi dimensi baru pada kenangan lama: pelas palang. Bukan sekadar variasi rasa, tapi juga cara baru memaknai yang sederhana.

Pelas palang khas Tuban punya karakter yang lebih tegas. Teksturnya, aromanya, bahkan cara penyajiannya terasa membawa identitas lokal yang kuat. Ia seperti mengatakan bahwa kesederhanaan pun bisa punya aksen—punya cerita khas dari tempat ia lahir.

Di titik ini, saya mulai melihat pelas bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai simbol budaya dan metafora kehidupan.

Bahwa hidup, seperti pelas, tidak harus selalu rumit untuk bisa bermakna. Justru dalam hal-hal sederhana, kita menemukan keaslian. Dalam proses yang tidak instan, kita menemukan rasa.

Pelas juga mengajarkan tentang komunikasi, tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menyampaikan pesan yang dalam. Ia tidak berbicara, tapi kehadirannya selalu dimengerti. Ia tidak menjelaskan, tapi selalu dirasakan.

Dalam dunia yang semakin riuh oleh citra dan tampilan, pelas mengingatkan bahwa esensi tetap lebih penting daripada kemasan. Bahwa yang otentik akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk dihargai.

Mungkin itu sebabnya, sampai hari ini, saya masih bisa duduk tenang hanya dengan sepiring nasi putih dan beberapa potong pelas. Bukan karena itu makanan istimewa dalam definisi umum, tapi karena di dalamnya ada potongan-potongan hidup yang ikut tersaji.

Tentang masa kecil yang sederhana. Tentang perjalanan yang membawa pada tempat baru. Tentang rasa yang tidak berubah, meski waktu terus berjalan.

Dan tentang satu hal yang semakin terasa penting, bahwa yang paling membekas, seringkali justru yang paling sederhana.