Sekolah Tidak Lagi Bersaing pada Gedung, tetapi pada Reputasi
Tulisan dari Dadang Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, menjelang penerimaan murid baru, banyak sekolah berlomba menampilkan wajah terbaiknya. Gedung dicat ulang, halaman dipercantik, video profil dipublikasikan, hingga berbagai promosi digencarkan melalui media sosial. Namun di tengah berbagai upaya itu, ada satu kenyataan yang semakin sulit diabaikan: keputusan orang tua memilih sekolah kini tidak lagi semata ditentukan oleh kemegahan bangunan atau kelengkapan fasilitas.
Di era digital, sekolah tidak hanya dinilai dari apa yang ditampilkan, tetapi terutama dari apa yang dialami para murid dan orang tua. Pengalaman itulah yang kemudian berubah menjadi cerita, testimoni, ulasan, hingga rekomendasi yang menyebar dengan sangat cepat. Dalam situasi seperti ini, reputasi telah menjadi modal yang jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar aset fisik.
Perubahan ini sesungguhnya merupakan pergeseran cara masyarakat memandang sekolah. Dahulu, kualitas sekolah sering diidentikkan dengan ukuran gedung, laboratorium, jumlah fasilitas, atau banyaknya spanduk prestasi yang dipasang di depan sekolah. Kini, pertanyaan orang tua jauh lebih sederhana namun mendasar: apakah anak saya akan merasa aman, didengar, berkembang, dan diperlakukan dengan baik di sekolah tersebut?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu ditemukan dalam brosur promosi. Justru lebih sering ditemukan melalui pengalaman orang lain. Percakapan antarsesama orang tua, testimoni alumni, unggahan media sosial, hingga ulasan di berbagai platform digital kini menjadi sumber informasi yang tidak kalah berpengaruh dibandingkan promosi resmi sekolah.
Karena itu, reputasi sekolah tidak lagi dibangun melalui slogan, melainkan melalui pengalaman nyata yang dirasakan setiap hari. Cara guru berkomunikasi dengan murid, kecepatan sekolah merespons keluhan, penanganan perundungan, keterbukaan terhadap orang tua, hingga budaya saling menghargai di lingkungan sekolah perlahan membentuk kepercayaan masyarakat. Kepercayaan inilah yang pada akhirnya berkembang menjadi reputasi.
Fenomena tersebut berlaku bagi semua sekolah, baik negeri maupun swasta. Selama ini sekolah swasta terbiasa bergantung pada kepercayaan masyarakat untuk memperoleh murid baru. Namun sekolah negeri pun tidak dapat menganggap reputasi sebagai persoalan yang dapat diabaikan. Kebijakan penerimaan murid dapat berubah mengikuti dinamika pemerintah, tetapi kepercayaan masyarakat merupakan modal jangka panjang yang harus terus dipelihara. Sekolah yang hanya mengandalkan status atau perlindungan administratif tanpa memperhatikan kualitas layanan berisiko kehilangan kepercayaan ketika ekspektasi masyarakat semakin tinggi.
Tantangan lain datang dari perkembangan media digital. Dulu, reputasi sekolah terbentuk melalui cerita yang berpindah dari satu keluarga ke keluarga lainnya selama bertahun-tahun. Kini proses tersebut berlangsung dalam hitungan jam. Satu pengalaman positif dapat menjadi promosi yang sangat efektif. Sebaliknya, satu persoalan yang ditangani secara buruk dapat menyebar luas dan membentuk persepsi negatif dalam waktu yang sangat singkat. Era digital membuat reputasi menjadi lebih mudah dibangun, tetapi juga jauh lebih mudah runtuh.
Sayangnya, banyak sekolah masih memusatkan perhatian pada promosi dibandingkan evaluasi. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang mengalokasikan sumber daya untuk mempercantik citra di media sosial, tetapi belum memiliki mekanisme yang memadai untuk mengukur kepuasan murid dan orang tua. Padahal promosi hanya mampu menarik perhatian, sedangkan pengalamanlah yang menentukan apakah reputasi akan menguat atau justru melemah.
Karena itu, membangun reputasi tidak dapat diserahkan kepada tim humas semata. Reputasi merupakan hasil dari keseluruhan kualitas layanan sekolah. Evaluasi terhadap pembelajaran perlu diimbangi dengan evaluasi terhadap layanan nonakademik, seperti komunikasi dengan orang tua, penanganan konflik, layanan bimbingan konseling, keamanan lingkungan sekolah, hingga budaya organisasi yang dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Umpan balik dari alumni dan orang tua juga perlu dipandang sebagai sumber data untuk perbaikan, bukan sekadar kumpulan keluhan yang diabaikan.
Pada akhirnya, persaingan antarsekolah bukan lagi semata-mata tentang siapa yang memiliki gedung paling megah atau fasilitas paling lengkap. Persaingan sesungguhnya adalah tentang siapa yang mampu membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat melalui kualitas layanan yang konsisten. Gedung dapat dibangun dalam beberapa tahun, fasilitas dapat dibeli dengan anggaran, tetapi reputasi hanya lahir dari pengalaman baik yang terus-menerus dirasakan oleh murid dan orang tua. Di era ketika setiap pengalaman dapat menjadi cerita yang tersebar luas, reputasi bukan lagi pelengkap bagi sebuah sekolah. Reputasi telah menjadi aset paling berharga yang menentukan keberlangsungan dan masa depan lembaga pendidikan.***
____________________________________________
Dadang Setiawan
Merupakan Guru di SMAN 1 Cigugur, Kabupaten Kuningan, sekaligus mahasiswa Pascasarjana Pengembangan Kurikulum di Universitas Negeri Semarang. Menulis tentang pendidikan, kurikulum, dan hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.
“Saya lebih sering belajar dari hal-hal yang tidak masuk kurikulum-seperti kenapa orang dewasa berhenti bertanya, dan sejak kapan sekolah membuat rasa ingin tahu jadi pelan-pelan hilang.”

