Konten dari Pengguna

Estetika Blur dan Slow Shutter: Saat Foto "Gagal" Malah Jadi Tren di Medsos

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daevin Yoga Asa Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu merasa jenuh saat scroll linimasa Instagram atau TikTok yang isinya foto-foto beresolusi tinggi, tajam, dan diedit terlalu mulus?. Sebagai generasi yang lahir dan besar di era digital, kita memang terbiasa dengan visual yang indah. Tapi, belakangan ini sepertinya ada yang berubah. Generasi Z mulai merasa bosan dengan citra visual yang kelewat presisi dan klinis, karena hal itu justru sering kali terasa manipulatif, artifisial, dan kurang otentik. Sadarkan kamu kalau belakangan ini feed kita justru mulai dipenuhi oleh foto-foto yang secara teknis mungkin dianggap "gagal" oleh fotografer zaman dulu?

Ya, tren fotografi kontemporer saat ini perlahan kembali mengeksplorasi estetika yang lebih mentah (raw), salah satunya melalui teknik slow shutter speed. Alih-alih membekukan momen dengan tajam, teknik bukaan kamera yang lambat ini sengaja menciptakan distorsi seperti motion blur (objek yang mengabur) atau light trails (jejak cahaya). Anehnya, alih-alih di-skip, keunikan visual yang tidak terprediksi dan terkesan berantakan ini justru punya daya tarik yang jauh lebih kuat buat Gen Z ketimbang foto biasa yang kaku.

Lalu, pertanyaannya: kenapa kita bisa lebih tertarik pada sesuatu yang buram?Jawabannya ternyata bisa dijelaskan lewat psikologi visual. Dalam Teori Gestalt, ada yang namanya Hukum Penutupan (Law of Closure). Saat mata kita melihat sebuah gambar yang tidak lengkap atau terdistorsi seperti efek motion blur, otak kita secara otomatis akan bekerja keras untuk menebak dan "melengkapi" informasi yang kabur tersebut. Proses mikir sejenak inilah yang memaksa kita untuk menghentikan guliran layar (stop-scrolling behavior) dan menatap foto itu lebih lama. Berbeda dengan foto yang super tajam di mana kita bisa langsung paham isinya dalam sedetik, foto yang buram memancing rasa penasaran kita untuk merasakan emosi di balik gambar tersebut.

Selain itu, tren ini juga jadi semacam bentuk "pemberontakan" visual. Mengacu pada Teori Uses and Gratifications dalam ilmu komunikasi, kita menggunakan media sosial bukan cuma buat mencari info, tapi juga untuk berekspresi dan menunjukkan identitas. Membagikan, menyimpan (save), atau menyukai (like) foto berestetika slow shutter memberi kita kepuasan tersendiri karena ada kebanggaan bisa tampil beda, lepas dari tuntutan norma "estetika standar" atau keharusan tampil sempurna di dunia maya. Pada akhirnya, tren foto blur atau slow shutter ini seolah menjadi pengingat manis di tengah kejenuhan era digital. Di tengah dunia maya yang sering kali memaksakan kesempurnaan palsu melalui filter dan editan berlebihan, sebuah foto yang buram, bergerak, dan sedikit berantakan justru terasa jauh lebih manusiawi, jujur, dan "hidup".

( Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi / Daevin Yoga Asa Pratama )

Mungkin, bagi generasi kita, ketidaksempurnaan adalah bentuk kesempurnaan yang baru.