Mengapa Kita Lebih Percaya Influencer daripada Ahli?

Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Dafa Afrizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu menyadari bahwa sebelum membeli suatu produk, langkah pertama yang dilakukan bukan lagi membuka Google atau membaca artikel, melainkan mencari video di TikTok?
Saya pernah melakukannya. Saat ingin membeli sunscreen, saya tidak mencari rekomendasi dokter kulit. Saya justru mengetik, "sunscreen terbaik versi TikTok." Dalam hitungan detik, puluhan video bermunculan. Ada yang mengklaim produknya ampuh menghilangkan jerawat, ada yang menyebutnya "wajib beli", bahkan ada yang mengatakan produk itu akan mengubah kondisi kulit hanya dalam beberapa hari.
Anehnya, saya lebih percaya pada video berdurasi satu menit dibandingkan penjelasan panjang dari seorang ahli.
Fenomena ini mungkin terdengar sepele. Namun, jika diamati lebih jauh, ada perubahan besar dalam perilaku konsumen yang sedang terjadi. Keputusan membeli tidak lagi hanya dipengaruhi oleh kualitas produk atau reputasi merek, tetapi oleh siapa yang berbicara tentang produk tersebut.
Di era media sosial, kepercayaan telah bergeser.
Dulu, konsumen mencari informasi dari pakar, media, atau orang yang memiliki pengalaman profesional. Hari ini, banyak orang justru lebih yakin setelah melihat kreator favorit mereka mengulas sebuah produk. Bukan karena mereka memiliki keahlian khusus, melainkan karena mereka dianggap lebih dekat, lebih jujur, dan lebih mudah dipahami.
Kedekatan inilah yang menjadi kekuatan utama influencer.
Setiap hari kita melihat mereka muncul di layar ponsel. Mereka berbagi cerita tentang rutinitas pagi, pekerjaan, liburan, hingga produk yang digunakan. Lama-kelamaan, muncul rasa akrab, seolah-olah mereka adalah teman sendiri. Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dikenal sebagai parasocial relationship, yaitu hubungan satu arah yang membuat audiens merasa memiliki kedekatan emosional dengan seseorang yang sebenarnya tidak mereka kenal secara pribadi.
Akibatnya, rekomendasi yang mereka berikan terasa lebih personal daripada iklan.
Di sisi lain, algoritma media sosial juga memperkuat kondisi tersebut. Semakin sering kita menonton konten tentang skincare, gadget, atau makanan, semakin banyak rekomendasi serupa yang muncul. Tanpa disadari, kita berada dalam ruang digital yang terus mengulang pesan yang sama. Produk yang awalnya tidak kita butuhkan perlahan terasa penting karena terus muncul di hadapan kita.
Batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.
Namun, persoalan sebenarnya bukan terletak pada influencer. Banyak kreator yang memberikan ulasan secara jujur, transparan, bahkan menyampaikan kelebihan dan kekurangan suatu produk. Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana konsumen memaknai informasi tersebut.
Tidak sedikit konten yang sebenarnya merupakan bagian dari strategi pemasaran, tetapi dikemas seperti pengalaman pribadi. Label paid partnership atau affiliate sering kali luput dari perhatian penonton. Ketika promosi dibungkus sebagai rekomendasi, konsumen menjadi lebih mudah percaya tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.
Di sinilah perilaku konsumen mengalami perubahan yang menarik. Kita tidak lagi membeli karena benar-benar memahami sebuah produk, tetapi karena mempercayai orang yang merekomendasikannya.
Padahal, popularitas bukanlah jaminan kompetensi.
Seorang influencer bisa memiliki jutaan pengikut, tetapi bukan berarti memiliki pengetahuan yang cukup mengenai semua produk yang diulas. Sebaliknya, seorang ahli yang memiliki kompetensi justru sering kalah populer karena cara penyampaiannya dianggap terlalu teknis atau kurang menarik bagi algoritma media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perhatian telah menjadi mata uang baru di era digital. Mereka yang mampu menarik perhatian publik memiliki peluang lebih besar untuk memengaruhi keputusan konsumsi dibandingkan mereka yang memiliki keahlian.
Bukan berarti kita harus berhenti mengikuti influencer. Konten mereka tetap dapat menjadi sumber informasi awal, inspirasi, atau referensi sebelum membeli suatu produk. Namun, keputusan akhir seharusnya tidak berhenti pada satu video berdurasi singkat.
Sebagai konsumen, kita perlu membiasakan diri untuk membandingkan informasi, membaca ulasan dari berbagai sumber, dan memahami apakah suatu produk benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita.
Karena pada akhirnya, tantangan terbesar konsumen saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan memilih informasi yang layak dipercaya.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi "produk apa yang sedang viral?" melainkan "mengapa saya mempercayai rekomendasi ini?" Sebab, bisa jadi keputusan membeli hari ini tidak ditentukan oleh kualitas produk, tetapi oleh siapa yang paling berhasil merebut perhatian kita.
