Ketika Diplomasi Masuk Ruang Kelas: Ambisi Global atau Prioritas Pendidikan?

Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhamad Daffa Septian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa Asing Kembali Menjadi Agenda Pendidikan
Wacana penambahan bahasa asing dalam kurikulum sekolah kembali menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menyampaikan rencana penguatan pembelajaran bahasa internasional usai kunjungan diplomatik ke sejumlah negara.
Dalam berbagai kesempatan, Prabowo mendorong siswa Indonesia untuk mempelajari lebih banyak bahasa asing, mulai dari Bahasa Inggris, Mandarin, Portugis, hingga Prancis. Gagasan tersebut muncul sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan internasional Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia di era globalisasi.
Pada April 2026, pemerintah mendorong penguatan pembelajaran Bahasa Inggris dan Mandarin di tingkat sekolah dasar. Beberapa bulan kemudian, usai pertemuan dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, muncul wacana pengajaran Bahasa Portugis di sekolah Indonesia. Terbaru, saat kunjungan ke Paris pada Mei 2026, Presiden Prabowo menyatakan keinginannya agar Bahasa Prancis dipelajari di seluruh tingkatan pendidikan sebagai bagian dari kerja sama Indonesia-Prancis di bidang pendidikan, sains, dan teknologi.
Bahasa sebagai Instrumen Diplomasi
Tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan bahasa asing memiliki nilai strategis dalam hubungan internasional. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana memperluas akses pendidikan, kerja sama ekonomi, pertukaran budaya, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penguatan kemampuan bahasa asing dapat membuka peluang yang lebih besar bagi generasi muda Indonesia untuk bersaing di tingkat global. Kemampuan berbahasa internasional juga berpotensi meningkatkan mobilitas akademik, peluang kerja, serta akses terhadap berbagai sumber pengetahuan dunia.
Dari sudut pandang diplomasi, kebijakan ini dapat dipahami sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan berbagai negara mitra strategis.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski demikian, sejumlah pihak menilai bahwa wacana tersebut perlu dibarengi dengan perencanaan pendidikan yang matang. Hingga saat ini, belum terlihat langkah konkret terkait implementasi Bahasa Portugis maupun Bahasa Prancis dalam kurikulum nasional.
Belum ada regulasi resmi, peta jalan implementasi, standar kompetensi, maupun strategi penyediaan tenaga pendidik yang disampaikan kepada publik. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan sistem pendidikan nasional dalam mengakomodasi penambahan mata pelajaran bahasa asing baru.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, bahkan mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak dipandang semata sebagai bagian dari agenda diplomasi internasional tanpa perencanaan pendidikan yang jelas dan terukur.
Persoalan Dasar Pendidikan yang Belum Terselesaikan
Di tengah wacana penambahan bahasa asing, sektor pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Kesejahteraan guru, terutama guru honorer, masih menjadi perhatian publik. Di berbagai daerah masih ditemukan guru dengan pendapatan yang jauh dari layak. Selain itu, ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah juga masih menjadi tantangan besar.
Kemampuan literasi pelajar Indonesia pun belum menunjukkan capaian yang memuaskan. Berbagai hasil asesmen internasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca, memahami informasi, dan berpikir kritis siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai prioritas kebijakan pendidikan. Sebagian kalangan menilai bahwa pemerintah perlu lebih dahulu memperkuat fondasi pendidikan dasar sebelum memperluas beban kurikulum dengan bahasa asing baru.
Peluang dan Manfaat bagi Generasi Muda
Di sisi lain, banyak pengamat pendidikan melihat bahwa penambahan bahasa asing bukanlah kebijakan yang sepenuhnya negatif. Jika dilakukan secara bertahap dan berdasarkan kebutuhan nasional, kebijakan ini dapat menjadi investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Penguasaan bahasa asing memberikan keuntungan dalam dunia pendidikan tinggi, penelitian, perdagangan internasional, hingga perkembangan teknologi. Dalam konteks ekonomi global yang semakin kompetitif, kemampuan berbahasa asing dapat menjadi modal penting bagi generasi muda untuk memperluas peluang karier dan jaringan internasional.
Namun manfaat tersebut hanya dapat tercapai apabila didukung oleh kurikulum yang jelas, tenaga pendidik yang kompeten, fasilitas pembelajaran yang memadai, serta pemerataan akses pendidikan di seluruh daerah.
Menentukan Prioritas Pendidikan Nasional
Perdebatan mengenai bahasa asing pada akhirnya bukan hanya soal mata pelajaran baru, melainkan tentang arah pembangunan pendidikan nasional. Pertanyaan yang muncul bukan apakah bahasa asing penting atau tidak, melainkan apakah sistem pendidikan Indonesia telah cukup siap untuk menerapkannya secara efektif dan merata.
Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik dan kondisi nyata di lapangan. Penguatan kemampuan bahasa internasional memang penting untuk menghadapi tantangan global, tetapi upaya tersebut juga harus berjalan seiring dengan penyelesaian persoalan mendasar seperti kesejahteraan guru, peningkatan literasi, dan pemerataan kualitas pendidikan.
Dengan demikian, penambahan bahasa asing tidak hanya menjadi simbol diplomasi internasional, tetapi benar-benar menjadi bagian dari strategi pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia secara berkelanjutan.
