Konten dari Pengguna

Inflasi: Kenapa Harga Barang Bisa Naik? Ini Penjelasannya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Daffa Janwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: (Elizabeth Celestino) https://images.pexels.com/photos/36299332/pexels-photo-36299332.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: (Elizabeth Celestino) https://images.pexels.com/photos/36299332/pexels-photo-36299332.jpeg

Inflasi menjadi salah satu kondisi ekonomi yang sering dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika harga beras, cabai, minyak goreng, atau biaya transportasi mengalami kenaikan, masyarakat biasanya langsung merasakan dampaknya.

Dalam ekonomi makro, kondisi tersebut berkaitan dengan inflasi. Inflasi menjadi salah satu indikator penting untuk melihat perkembangan harga barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Namun, mengapa inflasi bisa terjadi dan bagaimana pemerintah serta Bank Indonesia mengendalikannya?

Apa Itu Inflasi?

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu. Pengukurannya dilakukan melalui perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Sementara secara bulanan, terjadi inflasi sebesar 0,30 persen dan secara year-to-date sebesar 2,17 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat harga konsumen pada September 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Apa yang Menyebabkan Inflasi?

Inflasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah perubahan harga bahan pangan yang termasuk dalam kelompok volatile food atau komponen harga yang cenderung mudah bergejolak.

Pada September 2026, inflasi volatile food secara tahunan mencapai 5,03 persen. Beberapa komoditas seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras memberikan tekanan terhadap kelompok tersebut.

Selain pangan, perubahan harga transportasi dan komoditas lainnya juga dapat memengaruhi inflasi. Kondisi produksi, cuaca, biaya distribusi, hingga ketersediaan barang dapat menjadi faktor yang menyebabkan perubahan harga.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Inflasi dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Ketika harga barang dan jasa meningkat sementara pendapatan tidak mengalami perubahan yang sama, masyarakat perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan.

Dampaknya dapat berbeda pada setiap rumah tangga. Masyarakat yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan, misalnya, dapat lebih merasakan kenaikan harga bahan makanan dibandingkan rumah tangga dengan pola pengeluaran yang berbeda.

Karena itu, inflasi menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam perekonomian karena berkaitan dengan keputusan konsumsi masyarakat dan kegiatan usaha.

Bagaimana Bank Indonesia Mengendalikan Inflasi?

Bank Indonesia memiliki peran dalam menjaga stabilitas harga melalui kebijakan moneter. Salah satu instrumen yang sering menjadi perhatian adalah BI-Rate.

Pada September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas perekonomian dan nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Namun, pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada suku bunga. Ketika tekanan harga berasal dari pasokan pangan, diperlukan pula kebijakan yang berkaitan dengan produksi, distribusi, dan ketersediaan barang.

Apakah Pemerintah Juga Berperan?

Pemerintah memiliki peran dalam mengendalikan inflasi, terutama melalui kebijakan yang berkaitan dengan pasokan dan harga barang. Koordinasi dilakukan bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPIP dan TPID.

Pengendalian tersebut dapat dilakukan melalui berbagai langkah, seperti menjaga ketersediaan bahan pangan, memperlancar distribusi, serta mengantisipasi gangguan produksi akibat kondisi cuaca.

Artinya, menjaga stabilitas harga bukan hanya persoalan menaikkan atau menurunkan suku bunga. Kondisi produksi, distribusi, cuaca, harga komoditas, hingga kebijakan pemerintah juga dapat memengaruhi perkembangan inflasi.

Mengapa Inflasi Perlu Dijaga?

Inflasi yang terlalu tinggi dan berlangsung dalam waktu lama dapat memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat dan meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha. Karena itu, stabilitas harga menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kondisi perekonomian.

Pada September 2026, inflasi Indonesia sebesar 3,28 persen masih berada dalam sasaran inflasi 2,5 persen plus minus 1 persen.

Pada akhirnya, inflasi bukan hanya angka yang muncul dalam laporan ekonomi. Perubahan harga memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari biaya kebutuhan sehari-hari hingga keputusan konsumsi dan kegiatan usaha.

Dengan memahami inflasi, masyarakat dapat melihat bahwa perubahan harga tidak terjadi karena satu faktor saja. Kondisi tersebut merupakan hasil dari berbagai faktor ekonomi yang saling berkaitan, termasuk permintaan, pasokan, kebijakan moneter, serta kebijakan pemerintah.

Ditulis Oleh: Muhammad Daffa Janwar, Muhamad Rama Tri Anggara, Muhammad Rizqi Fadil, Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang