Mendaki Slamet 3428 MDPL: Antara Healing, Konten, dan Etika Bawa Turun Sampah

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Daijiro Waluyo (Da,i) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gua kira puncak Gunung Slamet itu sepi, angin kencang, dan syahdu. Ekspektasi gue, semua orang bakal duduk diam menikmati kawah belerang yang berasap kuning di bawah. Realitanya? Lebih rame daripada tongkrongan warkop. Semua orang rebutan foto di depan plang hitam "ANDA BERADA DI PUNCAK GUNUNG SLAMET 3428 MDPL" dan "BAWA TURUN SAMPAHMU". Antrinya panjang, tapi bukan buat menikmati pemandangan, melainkan buat dapetin angle terbaik untuk Story Instagram. Di sinilah gue sadar ada fenomena baru: Pendaki Konten. Kita menempuh jalur Bambangan, Purbalingga selama 8 jam dengan napas ngos-ngosan, tapi 7 jam di antaranya kita sibuk mikirin caption. Kita bilang mau healing dan menjauh dari gadget, tapi justru gadget itu yang kita bawa sampai ke titik tertinggi di Jawa Tengah. Kita mengaku ingin hadir di alam, tapi mata kita lebih fokus ke layar daripada ke kaldera. Ironis.

Padahal etika paling dasar sudah ditulis jelas di plang itu sendiri. Di bawah tulisan "JALUR BAMBANGAN PURBALINGGA", ada peringatan dengan huruf kapital: BAWA TURUN SAMPAHMU. Namun di sepanjang jalur, gue masih menemukan tisu basah, bungkus plastik sereal energi, hingga puntung rokok. Kita berhasil membawa 2 kilogram kamera dan tripod ke puncak, tapi tidak berhasil membawa 100 gram sampah kita sendiri turun ke bawah. Gunung diperlakukan seperti tempat sampah raksasa yang estetik. Momen paling jujur gue di puncak justru ketika sinyal HP hilang total. Awalnya panik, tangan refleks mencari sinyal. Setelah 10 menit dipaksa offline, gue baru benar-benar melihat. Kawah Slamet yang kuning kehijauan, bau belerangnya yang menyengat, dan tanah coklat yang rapuh di bawah sepatu. Semua itu jauh lebih indah ketika dinikmati langsung, bukan lewat viewfinder HP.
Jadi untuk apa kita mendaki?
Kalau hanya untuk konten, foto di studio dengan background gunung juga bisa. Tapi kalau untuk belajar sopan santun, Gunung Slamet adalah guru terbaik. Dia mengajarkan kita untuk tidak hanya datang, mengambil foto, dan meninggalkan sampah.
Jangan cuma bawa turun foto. Bawa turun juga sampahmu, egomu, dan kebiasaan burukmu yang selalu menunduk ke layar.
