Airbound Raih Pendanaan 37 Juta Dolar untuk Saingi Logistik Truk Darat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi drone, logistics drone, package drone. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi drone, logistics drone, package drone. Foto: Pixabay

Startup pengembang drone otonom asal India, Airbound, berhasil mengamankan pendanaan Seri A senilai 37 juta dolar AS guna mewujudkan ambisi besar mereka: memangkas biaya logistik udara hingga setara dengan tarif angkutan truk darat. Putaran pendanaan yang dipimpin oleh Greenoaks bersama partisipasi dari investor raksasa seperti DoorDash, Lachy Groom, Lightspeed, dan Humba Ventures ini membawa total modal yang telah dihimpun perusahaan menjadi hampir 50 juta dolar AS hanya dalam kurun waktu tiga tahun sejak berdiri.

Langkah agresif Airbound ini didorong oleh tantangan efisiensi pada industri logistik udara saat ini. Ketika sebagian besar drone konvensional menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengangkut bobot pesawatnya sendiri daripada muatannya, Airbound mendesain ulang arsitektur drone dari nol agar mampu mengangkut beban yang jauh lebih berat dari bobot fisiknya sendiri.

Merevolusi Desain Drone dengan Konsep Roket Vertikal

Untuk memecahkan masalah efisiensi tersebut, Airbound memperkenalkan desain drone vertikal berbentuk mirip roket yang disebut tail-sitter. Pesawat ini dirancang untuk lepas landas dan mendarat secara tegak lurus sebelum bertransisi ke mode terbang horizontal yang hemat energi. Pendiri sekaligus CEO Airbound, Naman Pushp, menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan drone mempertahankan kemampuan manuver vertikal tanpa bergantung pada landasan pacu khusus.

Prototipe drone saat ini, yang dinamai TRT, hanya berbobot sekitar 1,5 kilogram namun mampu membawa muatan hingga 1 kilogram. Airbound kini tengah mengembangkan generasi berikutnya dengan bobot sekitar 3 kilogram yang diklaim sanggup mengangkut logistik hingga 5 kilogram. “Kami ingin membangun dunia di mana segala sesuatu memiliki paritas biaya dengan trucking,” ungkap Pushp dalam wawancara resminya, menekankan visinya untuk menekan ongkos operasional serendah mungkin.

Rekam Jejak dan Ekspansi Jaringan Tiga Kota

Sejak didirikan pada tahun 2023, Airbound telah menyelesaikan lebih dari 13.000 penerbangan otonom di kota Bengaluru dan Guntur. Salah satu pencapaian paling signifikan adalah kemitraan dengan jaringan rumah sakit Narayana Health, di mana drone mereka telah menyelesaikan 1.000 penerbangan untuk mengangkut sampel diagnostik antar-fasilitas medis. Dengan drone aktif, proses pengiriman sampel sejauh 4 kilometer hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit, memangkas waktu tunggu truk darat yang bisa memakan waktu hingga lima jam akibat kemacetan dan proses konsolidasi muatan.

Kini, Airbound menargetkan proyek yang jauh lebih ambisius dengan merancang jaringan logistik udara yang menghubungkan tiga kota di negara bagian Andhra Pradesh. Melalui kesepakatan non-subsidi dengan pemerintah setempat, startup ini menargetkan hingga 10.000 penerbangan per hari untuk melayani sektor ritel, e-commerce, dan perawatan kesehatan. Jaringan skala besar ini diperkirakan akan membutuhkan armada berkisar antara 250 hingga 1.000 unit drone.

Menjadi Boeing di Industri Drone Global

Alih-alih sekadar menjadi operator pengiriman barang biasa seperti kompetitor lokal Skye Air Mobility atau Garuda Aerospace, Airbound memiliki fokus bisnis yang berbeda. Mereka ingin memposisikan diri sebagai produsen teknologi pesawat utama yang akan diadopsi oleh berbagai jaringan logistik pihak ketiga secara global. “Itulah peran Boeing—pesawat yang diandalkan oleh maskapai penerbangan di mana pun, bukan maskapai penerbangan itu sendiri,” tegas Pushp mengenai strategi jangka panjang perusahaannya.

Seluruh proses manufaktur dan pengembangan sistem inti saat ini dilakukan secara mandiri di fasilitas seluas 43.000 kaki persegi di Bengaluru. Kendati kapasitas produksi bukan lagi menjadi hambatan utama, Airbound masih harus berhadapan dengan regulasi ketat, terutama izin penerbangan di luar batas pandangan mata atau beyond visual line of sight. Batasan regulasi inilah yang membuat perusahaan dengan 150 karyawan ini masih berada di fase pra-pendapatan, namun Pushp optimistis bahwa fokus utama mereka saat ini adalah membangun fondasi teknologi raksasa untuk masa depan, bukan sekadar mengejar keuntungan instan.