Amazon Akui Belum Tahu Cara Capai Target Net-Zero Karbon pada 2040

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perusahaan e-commerce, Amazon.
zoom-in-whitePerbesar
Perusahaan e-commerce, Amazon.

Raksasa e-commerce Amazon mengakui ketidakpastian langkah dalam memenuhi target emisi karbon bersih pada tahun 2040 di tengah lonjakan kebutuhan energi untuk operasional kecerdasan buatan. Pernyataan jujur sekaligus mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Chief Sustainability Officer Amazon, Kara Hurst, dalam sebuah acara diskusi. Pengakuan tersebut memicu keraguan global mengenai kemampuan korporasi raksasa dalam menekan pemanasan global secara mandiri.

Sebagai salah satu korporasi terbesar di dunia dengan pendapatan mencapai 717 miliar dolar AS, Amazon memikul tanggung jawab ekologis yang setara dengan sebuah negara. Namun, ekspansi bisnis yang masif dan ketergantungan pada sektor energi fosil untuk menyokong infrastruktur digital baru membuat komitmen iklim mereka berada di persimpangan jalan.

Pengakuan Realistis di Tengah Ambisi Besar

Dalam sebuah forum diskusi, Kara Hurst menegaskan bahwa Amazon tetap berupaya keras menuju target tersebut, meskipun ia enggan berpura-pura telah memiliki semua solusi teknis yang dibutuhkan. “Kami masih berjuang keras menuju target tersebut,” ujar Hurst. Ia menambahkan, “Saya tidak akan duduk di sini dan mengatakan bahwa kami mengetahui semua cara untuk melakukan hal ini.”

Hurst berargumen bahwa penanganan krisis iklim global tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja secara sepihak. “Ini bukan pertanyaan tentang perusahaan melawan pemerintah,” tulis Hurst dalam tanggapan tertulisnya. “Mengatasi perubahan iklim pada skala yang dibutuhkan menuntut peran keduanya, dan membutuhkan kerja sama di antara mereka.”

Hambatan utama dekarbonisasi ini terletak pada jaringan pasokan global Amazon yang sangat luas. Sektor operasional korporasi ini tidak hanya mencakup logistik ritel, melainkan merambah hingga ke industri penerbangan, konstruksi, hingga infrastruktur server berskala masif yang membutuhkan solusi teknologi ramah lingkungan yang belum sepenuhnya matang di pasar.

Paradoks Energi Bersih dan Ekspansi Kecerdasan Buatan

Di satu sisi, Amazon tercatat sebagai salah satu pembeli energi bersih terbesar di dunia dengan portofolio mencapai 42 gigawatt. Perusahaan juga mengklaim telah berhasil menurunkan intensitas karbon mereka per unit pendapatan dalam jangka panjang. Meski demikian, pencapaian tersebut tampak kontradiktif dengan realitas di lapangan, di mana intensitas karbon mereka justru sempat mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun operasional sebelumnya.

Kehadiran teknologi artificial intelligence memperumit situasi ini secara signifikan bagi para petinggi teknologi. Kebutuhan daya komputasi untuk menjalankan model kecerdasan buatan menuntut pasokan energi yang sangat besar dan stabil sepanjang waktu. Karakteristik ini sulit dipenuhi secara konsisten oleh sumber energi terbarukan yang pasokannya masih bersifat fluktuatif.

Akibatnya, target pengurangan emisi jangka panjang sering kali harus berbenturan langsung dengan kebutuhan komersial jangka pendek. Korporasi dihadapkan pada pilihan sulit antara menunda adopsi teknologi mutakhir demi menjaga kelestarian lingkungan atau mengorbankan komitmen iklim mereka demi mendominasi pasar digital global yang sedang berkembang pesat.

Investasi Gas Alam yang Mengancam Komitmen Iklim

Penyelidikan terbaru mengungkap bahwa Amazon berencana membangun pembangkit listrik bertenaga gas alam berkapasitas 7,65 gigawatt guna menyokong kompleks data center AI mereka. Proyek raksasa yang dilengkapi dengan 35 turbin ini diperkirakan akan melepaskan hingga 33 juta ton karbon dioksida per tahun ke atmosfer bumi, menjadikannya salah satu sumber polusi tunggal terbesar di Amerika Serikat.

Langkah taktis ini mengonfirmasi bahwa pertumbuhan pendapatan tetap menjadi prioritas utama korporasi melampaui komitmen pelestarian lingkungan. Fenomena ini menunjukkan batas nyata dari pasar climate tech saat ini, di mana urgensi komersial dari revolusi AI terbukti mampu mendepak agenda dekarbonisasi jangka panjang ke masa depan.

Melalui kebijakan tersebut, para raksasa teknologi seolah menyerahkan penyelesaian masalah perubahan iklim kepada generasi eksekutif berikutnya. Sikap pragmatis ini memicu kekhawatiran bahwa komitmen net-zero global hanya akan menjadi janji manis di atas kertas tanpa adanya aksi nyata yang konsisten dari para pemain industri terbesar dunia.