Ambisi Teknologi dan Kekhawatiran AI Perdana Menteri Yunani

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PM Yunani, Kyriakos Mitsotakis.
zoom-in-whitePerbesar
PM Yunani, Kyriakos Mitsotakis.

Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis menawarkan berbagai insentif investasi teknologi sekaligus menyuarakan kekhawatirannya tentang masa depan kecerdasan buatan dalam kunjungannya ke San Francisco pekan ini. Langkah diplomasi ekonomi ini sengaja dilakukan untuk menarik minat para raksasa teknologi Silicon Valley agar bersedia menanamkan modal mereka di kawasan Mediterania.

Mitsotakis memanfaatkan misi dagang tersebut untuk meyakinkan para pendiri startup, investor, dan pelaku industri bahwa ekonomi Yunani telah pulih sepenuhnya dari krisis finansial masa lalu. Ia memaparkan berbagai reformasi digital nasional, mulai dari pemangkasan birokrasi hingga pembangunan infrastruktur komputasi modern untuk menyambut era artificial intelligence.

Pemulihan Ekonomi dan Infrastruktur Digital Yunani

Dalam pertemuan tersebut, Mitsotakis menekankan bahwa Yunani tidak lagi dipandang sebagai kasus khusus yang bermasalah secara finansial. Negara tersebut kini membayar utangnya dengan kecepatan rekor dan bahkan mampu meminjam dengan biaya yang lebih murah dibandingkan Amerika Serikat. Obligasi jangka panjang Yunani mencatatkan imbal hasil sekitar 4,3 persen, sebuah pencapaian luar biasa mengingat angka tersebut sempat menembus 40 persen pada masa krisis utang tahun 2012.

Pemerintah Yunani juga mengalokasikan dana pemulihan pascapandemi dari Uni Eropa sebesar 36 miliar euro untuk membangun infrastruktur digital nasional. Proyek ini mencakup pengembangan portal administrasi publik daring dan perakitan sebuah supercomputer baru di kota pelabuhan Lavrio bekerja sama dengan Hewlett Packard Enterprise. Komputer super tersebut dijadwalkan aktif dalam beberapa bulan mendatang untuk menyokong riset ilmiah serta pengembangan teknologi kecerdasan buatan secara lokal.

Reformasi Kebijakan untuk Menarik Talenta Global

Guna menarik minat perusahaan teknologi global, Yunani meluncurkan serangkaian reformasi regulasi yang sangat progresif bagi para pekerja industri kreatif. Pemerintah telah mengubah skema pajak untuk opsi saham atau stock options, melonggarkan undang-undang ketenagakerjaan, serta menawarkan insentif pemotongan pajak yang signifikan selama tujuh tahun bagi warga Yunani yang bersedia kembali ke tanah air mereka.

Selain mempermudah birokrasi bagi ekspatriat melalui program visa, Mitsotakis juga menyoroti transformasi di sektor pendidikan tinggi. Universitas negeri di Yunani yang dahulu dikenal berjarak dengan korporasi kini mulai aktif melahirkan berbagai perusahaan rintisan atau startup. Langkah ini diharapkan dapat memicu kembalinya para talenta muda terdidik yang sempat bermigrasi ke luar negeri saat krisis ekonomi melanda.

Dilema Etika dan Regulasi Kecerdasan Buatan

Kendati sangat agresif dalam membangun infrastruktur fisik seperti pusat data atau data center, Mitsotakis bersikap sangat hati-hati ketika membahas dampak sosial dari teknologi kecerdasan buatan. Yunani berencana memberlakukan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 15 tahun mulai Januari mendatang, namun ia khawatir kebijakan tersebut sudah terlambat mengantisipasi perkembangan teknologi interaktif modern.

Mitsotakis khawatir bahwa regulasi yang ada saat ini tidak akan mampu mengejar kecepatan evolusi teknologi masa kini. Ia menyatakan, “Terkadang saya merasa kita sedang bertempur di medan perang kemarin. Apa artinya bagi anak-anak kita untuk tumbuh dengan pendamping digital, atau bahkan pacar digital?”

Mitsotakis juga menyuarakan kekhawatirannya terhadap penggunaan teknologi ini di sekolah, meskipun negaranya sedang menguji coba proyek percontohan dengan OpenAI untuk membantu meringankan beban administratif guru. Menurutnya, siswa yang memanfaatkan chatbot untuk mengerjakan pekerjaan rumah berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran dasar yang krusial. Ia mengingatkan bahwa kepuasan instan dan kelengahan adalah sifat alami manusia, sehingga regulasi yang cerdas sangat mendesak untuk segera dirumuskan secara global demi menjaga batas-batas kemanusiaan kita.