Anthropic Temukan Sistem Enzim Baru Mirip CRISPR Menggunakan AI Claude

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi chemist, laboratory, analysis. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi chemist, laboratory, analysis. Foto: Pixabay

Perusahaan kecerdasan buatan Anthropic mengumumkan penemuan sistem enzim baru dengan kemampuan mirip teknologi penyuntingan gen CRISPR melalui laboratorium biologi basah mereka pekan ini. Terobosan ilmiah ini mendemonstrasikan bagaimana model kecerdasan buatan (artificial intelligence) generatif tidak hanya mampu mengolah teks, melainkan juga memandu eksperimen biologi nyata untuk menemukan struktur genetik yang sebelumnya tidak teridentifikasi.

Sistem enzim yang baru ditemukan ini tersembunyi di dalam DNA bakteriofag, yaitu jenis virus yang menginfeksi dan bereplikasi di dalam bakteri. Peneliti dari Anthropic menjelaskan bahwa sistem tersebut memiliki perilaku yang sangat mirip dengan CRISPR, sebuah sistem imun alami bakteri yang kini diadopsi ilmuwan global sebagai alat penyuntingan genom paling mutakhir di dunia medis modern.

Terobosan Kilat Claude dalam Ruang Genomika

Keberhasilan penemuan ini menjadi sangat menarik karena faktor kecepatan komputasi yang ditunjukkan oleh kecerdasan buatan milik Anthropic, yakni Claude. Meskipun laboratorium fisik wet biology lab milik perusahaan di San Francisco Bay Area baru didirikan pada musim semi tahun ini, proses analisis data utama hingga penemuan sistem enzim tersebut hanya membutuhkan waktu 21 jam kerja intensif dari Claude.

Model kecerdasan buatan tersebut menjelajahi tumpukan data genomik menggunakan jaringan yang terdiri dari sekitar 950 autonomous agents dan menghabiskan lebih dari 210 juta tokens komputasi. CEO Anthropic, Dario Amodei, mengonfirmasi bahwa pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi teknologi yang bersandar pada studi ilmiah terdahulu. Amodei menjelaskan bahwa tim akademisi dari Stanford University sebelumnya telah menemukan sistem serupa, namun pencapaian kali ini menegaskan peran dominan kecerdasan buatan dalam mempercepat proses riset dasar.

Eksperimen Fisik yang Tetap Dikendalikan Manusia

Meskipun analisis data dilakukan secara mandiri oleh kecerdasan buatan, Anthropic menegaskan bahwa seluruh pengujian fisik di laboratorium tetap dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Hal ini dilakukan demi menjaga protokol keamanan hayati (biosafety) yang ketat. Langkah ini juga merespons kekhawatiran global mengenai potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan untuk menciptakan senjata biologis berbahaya.

Pihak manajemen menekankan bahwa fasilitas riset mereka dirancang dengan tingkat risiko keselamatan biologis yang rendah guna menghindari paparan patogen berbahaya. “Laboratorium kami, yang berlokasi di Bay Area, tampak seperti laboratorium biologi molekuler biasa. Kami melakukan penelitian yang hanya melibatkan tingkat risiko keselamatan hayati rendah, yakni BSL-1 dan BSL-2, dan kami tidak menangani patogen yang dapat menginfeksi manusia. Semua pekerjaan laboratorium dilakukan oleh ilmuwan manusia,” tulis perwakilan Anthropic dalam pernyataan resminya.

Langkah kehati-hatian ini diambil di tengah perdebatan internal industri mengenai keselamatan kecerdasan buatan. Amodei sendiri secara terbuka mengakui adanya risiko besar dari evolusi kecerdasan buatan yang terlalu cepat, termasuk potensi ancaman terorisme biologis. Namun, dirinya tetap optimis bahwa teknologi komputasi kognitif ini akan mampu mendeteksi sekaligus membantu para ilmuwan menemukan obat untuk sebagian besar penyakit mematikan dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Lanskap Kompetisi AI di Bidang Biologi

Integrasi kecerdasan buatan dalam riset biologi molekuler sebenarnya bukan monopoli Anthropic semata. Google telah memimpin sektor ini sejak tahun 2020 melalui peluncuran AlphaFold, sebuah alat komputasi revolusioner yang mampu memprediksi struktur protein secara presisi. Selain itu, lembaga riset lain seperti UC San Francisco telah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk merancang enzim buatan dari awal melalui metode de novo.

Kendati demikian, Anthropic memproyeksikan visi yang lebih agresif terkait otomatisasi laboratorium di masa depan. Perusahaan tidak menutup kemungkinan untuk menyerahkan kontrol eksperimen secara langsung kepada model kecerdasan buatan apabila standar keamanan dan regulasi global sudah memadai.

“Pada akhirnya, mungkin saja bagi Claude untuk melakukan eksperimen secara aman dengan mengendalikan peralatan laboratorium secara mandiri, dengan pengawasan keselamatan yang tepat, tetapi kami tidak melakukan hal itu saat ini,” ujar Amodei menjelaskan visi jangka panjang perusahaannya. Penemuan enzim baru ini kini diserahkan kepada komunitas ilmiah global untuk divalidasi lebih lanjut guna menguji signifikansi fungsionalnya dalam ranah rekayasa genetika praktis.