Current AI Membangun Infrastruktur AI Publik Global

Organisasi nirlaba Current AI tengah meluncurkan inisiatif ambisius untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan publik yang bersifat terbuka dan dapat diakses secara gratis oleh masyarakat global. Langkah ini diambil sebagai respons atas dominasi model AI yang saat ini sepenuhnya dikendalikan oleh segelintir perusahaan teknologi swasta di Silicon Valley, dengan tujuan mengembalikan kedaulatan data dan teknologi kepada komunitas lokal di seluruh dunia.
Menghadirkan Aksesibilitas Bahasa bagi Komunitas Global
Salah satu fokus utama Current AI adalah mengatasi bias bahasa dalam model AI yang selama ini sangat bergantung pada Bahasa Inggris. Melalui kolaborasi dengan Bhashini di India, organisasi ini telah menciptakan Suno Sutra, sebuah perangkat luring yang mampu memproses AI dalam 22 bahasa lokal India tanpa memerlukan koneksi internet.
CEO Current AI, Ayah Bdeir, menekankan pentingnya peran teknologi sebagai sarana pelestarian budaya. “Jika AI adalah teknologi transformatif yang akan mengubah aspek kehidupan setiap orang, maka harus ada alternatif publik yang tersedia bagi siapa saja secara gratis,” ungkap Bdeir dalam sebuah wawancara.
Kedaulatan Data dan Model Pembiayaan Independen
Current AI beroperasi sebagai kemitraan publik-swasta yang didanai oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah Prancis dan yayasan global seperti Ford Foundation, dengan total komitmen pendanaan mencapai 400 juta dolar AS. Pendekatan mereka memprioritaskan penyimpanan data dan model secara lokal, memastikan komunitas pemilik data memiliki kendali penuh atas privasi dan hak kekayaan intelektual mereka.
- Pendanaan telah disalurkan sebesar 3,2 juta dolar AS untuk proyek-proyek di Kenya, Lebanon, dan Amazon Brasil.
- Fokus proyek mencakup digitalisasi sejarah budaya, audit akuntabilitas AI, dan alat berbasis AI luring untuk komunitas adat.
- Protokol konsen tertanam dalam setiap alur kerja untuk memastikan komunitas dapat menghentikan proses pengembangan kapan saja sesuai keinginan mereka.
Bdeir menegaskan perbedaan mendasar antara model bisnis perusahaan besar dengan misi nirlabanya. “Perusahaan teknologi besar membangun model multibahasa untuk memperluas pasar tanpa memedulikan persetujuan atau konteks budaya. Kami hadir untuk memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam revolusi teknologi ini,” pungkasnya.

