Google Borong Energi Panas Bumi Fervo Guna Sokong Pusat Data AI

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi power plant, geothermal, geothermal energy. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi power plant, geothermal, geothermal energy. Foto: Pixabay

Raksasa teknologi Google baru saja menandatangani kesepakatan besar untuk membeli daya listrik hampir setengah gigawatt dari perusahaan energi panas bumi, Fervo. Langkah strategis ini diambil guna memasok kebutuhan energi bagi pusat data data center baru milik Google yang direncanakan beroperasi di Utah, Amerika Serikat. Langkah ini mempertegas komitmen Google dalam mengamankan sumber energi bersih di tengah lonjakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan.

Melalui perjanjian pembelian daya ini, Google berkomitmen membeli 396 megawatt listrik dari pembangkit listrik Cape Station milik Fervo di Utah, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2028. Kontrak ini juga memberikan opsi kepada Google untuk menambah pembelian hingga 600 megawatt tambahan sebelum Juni 2030, menjadikannya salah satu transaksi energi bersih berskala terbesar di sektor teknologi saat ini.

Ambisi Kecerdasan Buatan dan Target Bebas Emisi Google

Kesepakatan bernilai masif ini terjadi di saat Google dan para penyedia layanan komputasi awan skala besar lainnya (hyperscaler) tengah gencar berburu sumber listrik baru di seluruh penjuru negeri. Selama bertahun-tahun, Google dikenal sebagai salah satu pembeli energi bersih terbesar di Amerika Serikat, yang mengandalkan kombinasi energi angin, surya, dan penyimpanan baterai demi memenuhi komitmen mencapai emisi net-zero emissions pada tahun 2030.

Namun, pemenuhan target ambisius tersebut menemui jalan terjal. Pada April lalu, Google menandatangani kesepakatan dengan pengembang pusat data Crusoe untuk membeli 933 megawatt listrik bertenaga gas alam di Texas. Keputusan beralih ke bahan bakar fosil demi menyokong kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan memicu kekhawatiran komitmen lingkungan mereka akan meleset. Kemitraan baru dengan Fervo ini diharapkan dapat menjadi penyelamat yang menyuplai energi ramah lingkungan bagi ambisi kecerdasan buatan Google tanpa harus mengorbankan target netralitas karbonnya.

Teknologi Panas Bumi Generasi Baru Milik Fervo

Fervo memegang izin untuk mengembangkan hingga 2 gigawatt energi panas bumi di Cape Station. Namun, potensi riil dari wilayah tersebut diyakini jauh melampaui angka tersebut. Sarah Jewett, selaku Senior Vice President of Strategy Fervo, mengungkapkan, “Seorang insinyur pihak ketiga menyatakan bahwa situs ini memiliki panas yang cukup untuk menghasilkan listrik dua kali lipat dari kapasitas awal.”

Jika dikembangkan secara penuh, kapasitas sebesar 4 gigawatt tersebut akan menggandakan total kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di seluruh Amerika Serikat saat ini. Teknologi yang diusung oleh Fervo sendiri merupakan sistem panas bumi tingkat lanjut atau enhanced geothermal yang mampu mengebor lebih dalam untuk menjangkau sumber panas bumi yang sebelumnya tidak dapat diakses oleh metode tradisional. Menurut laporan Departemen Energi Amerika Serikat, implementasi teknologi ini secara nasional berpotensi menghasilkan listrik hingga 57 terawatt.

Kolaborasi Jangka Panjang dan Dampak Pasar

Kerja sama antara Google dan Fervo sebenarnya bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari kemitraan erat yang telah terjalin selama lebih dari lima tahun. Google tercatat sebagai salah satu pembeli listrik pertama yang dihasilkan dari proyek awal Fervo. Tidak hanya bertindak sebagai pelanggan, Google bahkan ikut berinvestasi dalam putaran pendanaan terakhir Fervo sebelum perusahaan rintisan (startup) energi tersebut resmi melantai di bursa saham.

Dampak dari pengumuman kerja sama raksasa ini langsung terasa di pasar keuangan. Nilai saham Fervo sempat melonjak hingga sekitar 30 persen setelah berita kesepakatan dengan Google ini dipublikasikan, sebelum akhirnya para pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. Keberhasilan kemitraan ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi panas bumi mutakhir kini mulai dipandang sebagai pilar utama yang sangat andal dalam menyuplai listrik bebas emisi secara konstan bagi industri teknologi modern.