Kampanye Influencer Pertama OpenAI Menuai Kritik Keras Publik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kampanye Influencer Pertama OpenAI Menuai Kritik Keras Publik
zoom-in-whitePerbesar

OpenAI baru-baru ini menyelenggarakan acara liburan khusus pembuat konten atau influencer pertama mereka yang bertajuk “Summer Club” di kawasan peristirahatan mewah Wildflower Farms, New York. Namun, kampanye pemasaran digital ini justru memicu reaksi negatif yang masif dari publik, yang menyoroti dampak buruk industri kecerdasan buatan terhadap kelestarian lingkungan dan kestabilan lapangan kerja.

Kemewahan yang Memicu Kritik Lingkungan dan Sosial

Acara liburan gratis yang didanai penuh oleh OpenAI ini dirancang untuk mempromosikan platform ChatGPT melalui konten media sosial yang estetis. Para pembuat konten yang didominasi oleh pelaku industri karier dan bisnis membagikan foto serta video kabin mewah mereka yang dilengkapi dengan cinderamata eksklusif dari OpenAI.

Namun, unggahan tersebut segera dibanjiri komentar pedas dari warganet. Banyak pengguna media sosial mengecam para pembuat konten karena dinilai mengabaikan krisis iklim yang disebabkan oleh pembangunan pusat data bertenaga besar untuk menyokong infrastruktur kecerdasan buatan. Salah satu komentar populer menyatakan, “Orang-orang benar-benar akan menjual jiwa dan planet mereka demi kamar hotel gratis yang bagus.” Sementara komentar lain menyindir keindahan alam lokasi acara dengan menulis, “Luar biasa hijau! Mereka seharusnya mendirikan pusat data di sana!”

Tuduhan Pencucian Reputasi dan Reaksi Defensif Kreator

Kritik publik juga mengarah pada pemilihan demografis peserta yang didominasi oleh pembuat konten perempuan muda. Beberapa pihak mencurigai adanya upaya dari industri teknologi untuk menggunakan figur publik perempuan guna memulihkan reputasi sektor kecerdasan buatan yang tengah berada dalam pengawasan ketat. Berdasarkan data dari lembaga riset Pew, kelompok perempuan memang cenderung memandang kecerdasan buatan secara lebih negatif serta khawatir akan dampak buruk teknologi tersebut terhadap kehidupan mereka.

Menanggapi gelombang protes tersebut, Grace McCarrick, salah satu pembuat konten yang hadir, memberikan pembelaan melalui media sosial profesional LinkedIn. Ia menyatakan, “Saya benar-benar tidak tahu bahwa orang-orang sangat anti-AI.” McCarrick juga menambahkan bahwa reaksi negatif yang ia terima telah memperlihatkannya pada “psikosis AI mengejutkan yang merajalela secara online,” yang merujuk pada kemarahan kolektif masyarakat internet terhadap perkembangan teknologi ini.