Mantan Bos Spotify Rilis Startup Pembuat Musik A Vinyl Bar in Shibuya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi music, sing, karaoke. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi music, sing, karaoke. Foto: Pixabay

Menyoroti pendirian startup A Vinyl Bar in Shibuya oleh mantan kepala inovasi Spotify, Máuhan M. Zonoozy, yang baru saja mengamankan pendanaan awal (pre-seed) sebesar 5,5 juta dolar AS. Di tengah maraknya tren kecerdasan buatan (generative AI) yang memproduksi lagu instan, startup ini mengambil pendekatan berbeda dengan fokus pada alat kreasi musik interaktif berskala kecil yang menyenangkan.

Didukung oleh sederet investor papan atas seperti Mantis VC dan mantan petinggi Spotify Dawn Ostroff, startup ini bertujuan mendefinisikan ulang cara manusia berinteraksi dengan musik. Alih-alih hanya menjadi pendengar pasif di platform streaming, pengguna diajak untuk aktif memanipulasi, menyusun, dan menciptakan karya suara mereka sendiri.

Menjembatani Konsumsi Musik dan Kreasi Interaktif

Ide di balik berdirinya startup ini berakar dari pengalaman Zonoozy selama memimpin divisi inovasi di Spotify hingga tahun 2024. Ia melihat bahwa meskipun era streaming telah berhasil memecahkan masalah aksesibilitas lagu, interaksi sebagian besar pengguna masih terbatas pada konsumsi pasif. Menurutnya, ada celah besar yang belum tergarap untuk membawa generasi muda ke dalam ranah pembuatan musik yang lebih partisipatif.

Zonoozy menyadari adanya pergeseran perilaku pada audiens muda yang lebih suka terlibat langsung dalam ekosistem budaya digital. Ia menjelaskan, “Saya rasa ketika saya melihat perilaku baru dan audiens yang lebih muda, semua orang tumbuh dengan berinteraksi dengan budaya lewat game, filter, dan alat kreasi. Saya merasa ada peluang untuk memberdayakan orang-orang agar bisa melakukan hal serupa dengan musik,” ujarnya.

Ekosistem Aplikasi Kreatif Berkonsep Album Musik

Strategi rilis produk yang diterapkan oleh startup ini terbilang unik, di mana mereka merilis serangkaian eksperimen kecil seperti meluncurkan lagu tunggal (singles) sebelum digabungkan menjadi sebuah album utuh. Salah satu contohnya adalah Speed Surfer, sebuah ekstensi peramban Chrome yang memungkinkan pengguna mengubah kecepatan dan filter audio yang sedang diputar di tab browser mereka secara langsung.

Selain itu, mereka juga mengembangkan Usersound, sebuah situs web yang mampu mengubah huruf-huruf pada nama pengguna menjadi nada unik, serta Stacks yang berfungsi sebagai stem player interaktif berbasis kisi 3x3. Ada pula Drops, sebuah eksperimen di mana pengguna memantulkan kelereng virtual pada bidang tertentu untuk menghasilkan melodi, serta Sampler yang bisa mengubah video YouTube menjadi sampel ketukan musik secara otomatis.

Produk paling ambisius mereka saat ini adalah aplikasi iOS bernama bop. Aplikasi ini menyajikan kisi interaktif bagi pengguna untuk menempatkan instrumen musik dan efek suara guna melakukan remix pada lagu dasar. Pengguna bisa mengatur tempo, menambahkan efek sekali pakai, serta mengekspor hasil kreasi mereka dengan mudah ke platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram.

Pandangan Skeptis Terhadap Dominasi Penuh AI

Di tengah gelombang industri teknologi yang berlomba-lomba mengintegrasikan kecerdasan buatan secara masif, startup ini memilih langkah yang lebih pragmatis dan terukur. Meskipun baru-baru ini menambahkan fitur berbasis teks perintah (prompt) untuk memicu pembuatan suara tertentu, mereka sengaja tidak menjejalkan teknologi AI ke setiap lini aplikasi demi menjaga esensi kreativitas manusia.

Zonoozy menekankan bahwa nilai utama dari sebuah karya musik terletak pada kurasi rasa dan interaksi manusia, bukan sekadar otomatisasi mesin. “Kecerdasan buatan jelas sangat kuat, tetapi kami tidak percaya bahwa masa depan musik hanyalah sekadar pembuatan lagu secara otomatis lewat AI. Jika AI membuat konten menjadi terlalu melimpah, hal itu justru membuat selera, perspektif manusia, interaksi, serta partisipasi menjadi jauh lebih penting dan berharga. Kami hanya berusaha memastikan nilai-nilai tersebut tidak menjadi langka,” pungkasnya.