Mengapa Insight Partners Menolak Taruhan Tunggal di Tengah Demam AI

Sektor modal ventura venture capital saat ini tengah dilanda euforia kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa, dengan banyak firma investasi mempertaruhkan sebagian besar dana mereka pada raksasa teknologi seperti OpenAI dan Anthropic. Di tengah tren konsentrasi modal tersebut, Insight Partners, salah satu raksasa investasi global dengan dana kelolaan mencapai 90 miliar dolar AS, memilih jalan yang berbeda dengan tetap berpegang teguh pada strategi diversifikasi portofolio.
Deven Parekh, yang telah memimpin Insight Partners selama 26 tahun, mengungkapkan bahwa meskipun mereka memiliki saham di OpenAI dan Anthropic, strategi diversifikasi portofolio jangka panjang tetap menjadi kunci keberhasilan industri ini. Menurutnya, mengonsentrasikan terlalu banyak dana pada satu atau dua perusahaan merupakan langkah berisiko tinggi yang mengabaikan sejarah siklus investasi teknologi.
Dilema Konsentrasi Modal dan Pentingnya Likuiditas bagi Investor
Parekh menyoroti fenomena beberapa dana modal ventura baru yang mengalokasikan hingga 40 persen dari total dana mereka hanya untuk OpenAI atau Anthropic. Meskipun langkah tersebut mungkin meningkatkan performa di atas kertas secara instan, ia mengingatkan bahwa sebagian besar limited partner (LP) atau investor penyedia dana tidak menyukai eksposur risiko yang terlalu terpusat pada segelintir entitas saja. Bagi Insight Partners, fondasi bisnis modal ventura selalu menghargai keragaman portofolio dalam cakrawala investasi yang panjang.
Isu likuiditas atau pengembalian modal distribution to paid-in capital atau DPI juga menjadi perhatian utama. Banyak manajer investasi yang gagal mengembalikan uang tunai kepada LP mereka setelah masa keemasan penggalangan dana pada tahun 2021 hingga 2023. Parekh menegaskan pentingnya merealisasikan keuntungan melalui pasar sekunder secondaries atau penjualan strategis. “LPs ingin tahu bahwa Anda dapat mengubah posisi portofolio menjadi uang tunai; itulah pekerjaan utama kita,” ujar Parekh, menekankan bahwa Insight Partners telah mengembalikan lebih dari 20 miar dolar AS kepada investor mereka dalam dua tahun terakhir melalui IPO dan akuisisi.
Dinamika Valuasi Tinggi dan Pergeseran ke Investasi Tahap Awal
Tren pasar saat ini menunjukkan kenaikan valuasi perusahaan rintisan startup yang melaju sangat cepat, mirip dengan situasi gelembung teknologi pada tahun 2021. Di masa lalu, putaran pendanaan lanjutan biasanya didasarkan pada data performa yang lebih lengkap untuk meminimalkan risiko. Namun, saat ini kesepakatan investasi terjadi begitu cepat sehingga investor dipaksa membayar harga yang lebih tinggi tanpa adanya data tambahan untuk memitigasi risiko tersebut.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian ini, Insight Partners memilih taktik defensif yang agresif dengan beralih ke investasi tahap awal early-stage. Melalui pendekatan skala dana besar, mereka dapat menulis cek dengan nilai lebih kecil, sekitar 20 hingga 25 juta dolar AS, alih-alih langsung menggelontorkan ratusan juta dolar. Strategi ini memungkinkan mereka untuk menduplikasi investasi pada startup yang menunjukkan performa unggul. Contoh sukses dari strategi ini adalah Wiz, di mana Insight memulai dari pendanaan Seri A dan terus menyuntikkan modal dalam putaran-putaran berikutnya guna memaksimalkan keuntungan secara eksponensial.
Peluang Emas IPO Teknologi dan Prospek Industri Kecerdasan Buatan
Menatap masa depan, industri teknologi bersiap menyambut gelombang penawaran umum perdana initial public offering atau IPO raksasa seperti Anthropic, OpenAI, dan SpaceX dalam 18 bulan ke depan. Parekh memprediksi ketiga perusahaan dengan valuasi fantastis tersebut akan melantai di bursa saham, namun ia mengingatkan bahwa hal itu belum tentu menjadi jaminan kesuksesan bagi startup di lapis kedua. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana pasar publik menilai perusahaan teknologi dengan pertumbuhan normal setelah masa pertumbuhan eksponensial mereka mulai melambat.
Terlepas dari perdebatan mengenai risiko eksistensial AI, Parekh sangat optimistis terhadap potensi implementasi teknologi ini, khususnya di sektor kesehatan. Sebagai anggota dewan di NYU Langone, ia melihat langsung bagaimana AI menganalisis jutaan data pasien untuk memprediksi risiko penyakit kritis seperti serangan jantung dengan akurasi tinggi. “Ada probabilitas yang jauh lebih tinggi bahwa kita akan melihat penurunan signifikan dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan obat baru dan menyembuhkan penyakit. Saya berani bertaruh untuk hal itu,” pungkas Parekh.

