Replikasi Big Bang Mini Ungkap Asal-usul Pembentukan Semesta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi uncertainty relation, board, physics. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uncertainty relation, board, physics. Foto: Pixabay

Ilmuwan di Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) berhasil mereplikasi kondisi awal alam semesta sesaat setelah Big Bang menggunakan tabrakan atom berskala jauh lebih kecil dari sebelumnya. Eksperimen ini berhasil menciptakan quark-gluon plasma (QGP), sebuah sup primordial super panas yang mengisi alam semesta pada sepersejuta detik pertama sebelum materi modern terbentuk.

Terobosan ini dicapai dengan memanfaatkan penumbuk partikel (particle collider) untuk membenturkan elemen ringan seperti oksigen-16 dan neon-20 pada kecepatan mendekati cahaya. Keberhasilan ini membuka jalan baru untuk memahami bagaimana materi cair purba tersebut berevolusi menjadi atom-atom penyusun kosmos saat ini.

Eksperimen Skala Kecil Menembus Batas Fisika

Selama bertahun-tahun, fisikawan mempelajari QGP dengan menabrakkan inti atom berat yang padat seperti timbal. Namun, eksperimen terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Physical Review Letters membuktikan bahwa kondisi ekstrem tersebut ternyata dapat direplikasi menggunakan atom yang jauh lebih ringan. Oksigen-16 dan neon-20, yang massanya kurang dari sepersepuluh atom timbal, terbukti mampu menghasilkan cairan primordial yang sama.

Upaya memperkecil skala tabrakan ini krusial untuk menguji batas fisis dari materi purba tersebut. Para peneliti ingin mengetahui seberapa kecil volume partikel yang dapat dihasilkan namun tetap berperilaku menyerupai tetesan fluida QGP. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa transisi fase ke materi ekstrem tidak membutuhkan energi masif dari atom berat saja.

Perilaku Unik Sup Primordial Kosmis

Pada mikrodetik pertama setelah Big Bang, quark dan gluon belum terikat di dalam proton dan neutron. Alih-alih membentuk atom, mereka bergerak bebas dalam wujud plasma super panas bertekanan tinggi. Seiring mengembang dan mendinginnya alam semesta, materi cair ini mengalami kondensasi, memaksa quark bergabung menjadi partikel yang lebih besar dan stabil.

Melalui detektor canggih di CERN, ilmuwan mendeteksi bahwa tabrakan atom ringan menghasilkan sinyal ekspansi kolektif yang konsisten dengan karakteristik fluida QGP. Dalam waktu yang sangat singkat, materi hasil tabrakan tersebut memuai seperti cairan sebelum akhirnya mendingin dan kembali berubah menjadi partikel subatom biasa.

Implikasi Terhadap Pemahaman Evolusi Semesta

Penemuan ini memberikan perspektif baru bagi para kosmolog yang mempelajari evolusi kosmos awal. Mengingat tidak ada lagi sumber alami QGP yang tersisa di alam semesta modern, replikasi laboratorium melalui tabrakan mikro ini menjadi satu-satunya jendela untuk mengintip kondisi awal penciptaan materi.

Peneliti dari Niels Bohr Institute di Belanda sekaligus salah satu penulis studi ini, You Zhou, menjelaskan signifikansi temuan mereka. Zhou memaparkan, “Kami telah melampaui batas seberapa kecil inti atom yang dapat digunakan untuk menciptakan kembali materi primordial ini—yang bisa disebut sebagai ‘big bang kecil’. Kini kita tahu lebih banyak tentang kondisi fundamental yang diperlukan agar materi dapat bertransisi ke dalam keadaan ekstrem ini.”

Melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika QGP skala mikro, para ilmuwan berharap dapat memecahkan misteri besar mengenai transisi energi pasca-ledakan dahsyat. “Mudah-mudahan, ini akan membantu kita memahami lebih baik bagaimana plasma berperilaku selama momen-momen pertama alam semesta—dan bagaimana ia kemudian berevolusi menjadi bentuk-bentuk materi yang menyusun segala sesuatu di sekitar kita,” tambah Zhou.