Satelit Swift NASA Bersiap Jalani Misi Terakhir Sebelum Jatuh ke Bumi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi satellite, spacecraft, space. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi satellite, spacecraft, space. Foto: Pixabay

Satelit legendaris milik NASA, Neil Gehrels Swift Observatory, kini berada di jalur penurunan yang tidak bisa dihindari menuju atmosfer Bumi setelah upaya penyelamatan yang berisiko tinggi resmi dibatalkan. Kegagalan misi penyelamatan robotik yang dirancang untuk mendorong kembali satelit tersebut ke orbitnya yang aman memaksa para ilmuwan untuk mengubah fokus dari penyelamatan menjadi pemanfaatan maksimal di sisa usia operasionalnya.

Meskipun waktu operasinya kini sangat terbatas, satelit pemantau fenomena kosmik paling dahsyat di alam semesta ini tidak akan mati dalam sunyi. Tim operator di Bumi telah mengaktifkan kembali instrumen ilmiah di dalam satelit untuk melakukan pengamatan sebanyak mungkin sebelum wahana antariksa ini terbakar habis saat bergesekan dengan atmosfer Bumi pada akhir tahun ini.

Sebelumnya, NASA bekerja sama dengan perusahaan teknologi Katalyst Space untuk meluncurkan wahana penyelamat khusus bernama LINK pada Juli lalu. Misi ambisius ini dirancang untuk menggunakan lengan robotik guna mencengkeram satelit Swift yang menua dan menggunakan sistem pendorong (thruster) kuat untuk mendorongnya kembali ke orbit semula. Namun, sesaat setelah meluncur, robot penyelamat tersebut mengalami kegagalan fungsi pada sistem kontrol ketinggiannya yang krusial untuk bernavigasi di ruang angkasa, sehingga misi terpaksa dihentikan sepenuhnya.

Sebelum peluncuran, CEO Katalyst Space, Ghonhee Lee, sempat menyatakan bahwa satelit ini memang memiliki tantangan teknis yang sangat besar karena desain awalnya. “Swift tidak dirancang untuk diservis,” ungkapnya. Kendati demikian, urgensi nilai ilmiah satelit tersebut membuat NASA tetap mengambil langkah berani. Direktur Divisi Astrofisika NASA, Shawn Domagal-Goldman, juga menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan “misi berisiko tinggi dengan potensi hasil yang besar” yang layak untuk dicoba demi memperpanjang umur sang observatorium.

Efek Aktivitas Matahari Mempercepat Kehancuran

Satelit Swift, yang mengorbit di wilayah low Earth orbit, secara alami terus mengalami hambatan udara dari lapisan teratas atmosfer Bumi yang menyebabkan ketinggiannya menurun secara bertahap sejak diluncurkan pada tahun 2004. Awalnya, para ilmuwan memproyeksikan bahwa satelit seberat dua ton ini masih mampu bertahan di orbitnya dan tidak akan mencapai batas kritis setidaknya hingga tahun 2030.

Namun, peningkatan aktivitas matahari yang sangat intens dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah prediksi tersebut secara drastis. Badai matahari yang kuat memanaskan dan mengembangkan atmosfer terluar Bumi ke ruang angkasa, sehingga meningkatkan gaya hambat (drag) terhadap satelit yang berada di orbit rendah. Akibat peningkatan hambatan atmosfer ini, waktu jatuh Swift melesat jauh lebih cepat dari perkiraan semula dan diprediksi akan menembus atmosfer Bumi paling cepat pada akhir tahun ini.

Pesan Terakhir dari Kedalaman Semesta

Selama 21 tahun masa baktinya, Swift telah menjadi mata andalan NASA dalam memantau peristiwa kosmologi yang paling eksplosif, mulai dari ledakan bintang (supernova), ledakan sinar gamma (gamma-ray burst), hingga fenomena lubang hitam yang mencabik-cabik bintang. Dilengkapi dengan tiga teleskop utama yang sensitif terhadap cahaya tampak, ultraviolet, sinar-X, dan sinar gamma, satelit ini telah memberikan kontribusi tak ternilai bagi komunitas astronomi global dalam mendeteksi dan memperingatkan tim di Bumi tentang fenomena transien di alam semesta.

Kini, sebelum wahana tersebut menyentuh batas kritis di ketinggian 185 mil (sekitar 297 kilometer) di mana kontrol instrumen menjadi sangat sulit dan akselerasi jatuhnya meningkat tajam, tim operasi berhasil menghidupkan kembali dua dari tiga instrumen ilmiahnya. Teleskop sinar-X milik satelit tersebut bahkan langsung mengirimkan gambar sisa-sisa supernova Tycho yang terletak sekitar 13.000 tahun cahaya dari Bumi, membuktikan bahwa observatorium antariksa ini masih memiliki taji di akhir masa tugasnya sebelum akhirnya hancur selamanya.