ScrollEd Ubah Buku Teks Membosankan Jadi Konten Ala TikTok

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi man, mobile phone, cold. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi man, mobile phone, cold. Foto: Pixabay

Di tengah kekhawatiran global mengenai penurunan rentang perhatian manusia akibat paparan media sosial secara terus-menerus, sebuah inovasi revolusioner mencoba membalikkan keadaan. Alih-alih memaksa generasi muda berhenti melakukan scrolling di ponsel pintar mereka, sebuah perusahaan rintisan bernama ScrollEd justru memanfaatkan kebiasaan ini untuk merevolusi metode pembelajaran konvensional. Melalui aplikasi besutannya, startup asal Palo Alto ini mengubah format buku teks akademis yang tebal dan menjemukan menjadi umpan vertikal interaktif yang sangat mirip dengan antarmuka TikTok atau Instagram Reels.

ScrollEd terpilih sebagai salah satu peserta dalam ajang kompetisi bergengsi TechCrunch Disrupt Startup Battlefield 200. Langkah berani ini didasari atas pemikiran bahwa jika siswa enggan membuka buku fisik, maka materi pembelajaran itu sendiri yang harus beradaptasi dan masuk ke dalam ekosistem digital kegemaran mereka. Pengguna cukup mengunggah berkas teks seperti dokumen PDF, yang kemudian akan diproses oleh kecerdasan buatan menjadi kombinasi video, audio, teks ringkas, hingga kuis interaktif.

Cara Kerja Format Pembelajaran Vertikal

Aplikasi ini dirancang agar terasa sangat akrab bagi generasi yang tumbuh bersama algoritma media sosial. Navigasi di dalam ScrollEd mengadopsi gerakan usap yang intuitif. Ketika pengguna mengusap layar ke atas, sistem akan menyajikan topik atau bab baru. Sementara itu, jika pengguna melakukan usapan ke samping (horizontal), mereka dapat menggali informasi lebih dalam pada topik yang sedang dipelajari, yang biasanya diakhiri dengan evaluasi mandiri berupa kuis interaktif di bagian akhir bab.

Pendekatan vertical feed ini sengaja dipilih untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan konsumsi informasi yang mendalam dengan preferensi visual generasi Z serta generasi Alfa. Melalui konversi otomatis berbasis kecerdasan buatan, teks akademis yang rumit dipecah menjadi unit-unit informasi kecil yang lebih mudah dicerna tanpa kehilangan substansi akademisnya.

Berawal dari Fenomena Doomscrolling

Ide pembuatan ScrollEd lahir dari pengalaman pribadi para pendirinya, Utsav Gupta dan istrinya, Rebecca Neff. Keduanya merupakan mahasiswa aktif; Gupta menempuh studi kecerdasan buatan dan tujuan manusia di Stanford University, sedangkan Neff mendalami ilmu komputer di University of Pennsylvania. Mereka mendirikan startup ini setelah menyadari rasa tidak puas dan lelah secara mental akibat kebiasaan doomscrolling atau berselancar tanpa arah di media sosial sebelum tidur malam.

Dalam sebuah korespondensi, Gupta menjelaskan bahwa generasi muda saat ini cenderung hanya menyukai format konten video pendek berbasis vertikal. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan yang menuntut kedalaman berpikir. Dia menyatakan, “Kami ingin menemui mereka di tempat mereka biasa menghabiskan waktu. Kita hanya perlu lebih bijak tentang bagaimana kita menggunakannya dan memilih untuk tidak memaksimalkan metrik keterlibatan pengguna semata.”

Menurutnya, format video pendek dapat memicu rasa penasaran awal yang sangat krusial dalam proses belajar. Gupta menambahkan, “Sebuah video pendek bisa membuat Anda penasaran, dan mengikuti rasa penasaran tersebut bisa berarti mencari penjelasan lain atau bahkan meninggalkan aplikasi. Kami ingin proses mendalami materi tersebut semudah bergeser ke video berikutnya.”

Strategi Bisnis dan Ekspansi Institusi

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, ScrollEd menerapkan model bisnis gabungan antara akses gratis dan berlangganan (freemium). Selain menyediakan umpan konten gratis untuk pengguna umum, mereka menawarkan paket berbayar ScrollEd Pro serta lisensi tahunan khusus untuk institusi pendidikan dan program pelatihan korporat. Melalui lisensi institusional ini, sekolah atau perusahaan dapat mendistribusikan materi pembelajaran mereka secara khusus sekaligus mendapatkan laporan analitik mendalam terkait kemajuan belajar dan tingkat keaktifan para siswa.

Ke depannya, ScrollEd berencana untuk fokus pada peluncuran konsumen secara massal, memperbanyak pustaka materi pembelajaran, serta memperketat proses verifikasi sumber informasi agar terhindar dari bias kecerdasan buatan. Mereka juga sedang mengembangkan infrastruktur teknologi yang memungkinkan para pendidik untuk menilai kemampuan individu pelajar secara personal dan menyesuaikan kurikulum secara otomatis demi mewujudkan visi besar mereka membangun jaringan sosial yang membawa dampak positif bagi kehidupan penggunanya.