Sisi Gelap Robotaxi dan Ambisi Industri Kendaraan Otonom

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi vehicle, autonomous, autonomous driving. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi vehicle, autonomous, autonomous driving. Foto: Pixabay

Pengembangan teknologi kendaraan otonom atau robotaxi selama ini selalu dipromosikan sebagai solusi mutakhir untuk menekan angka kecelakaan di jalan raya. Namun, di balik narasi keselamatan publik tersebut, terdapat harga mahal yang harus dibayar oleh para pekerja yang menguji teknologi ini secara langsung di lapangan.

Laporan terbaru mengungkap adanya risiko cedera fisik yang signifikan bagi para pengemudi uji (test driver) di dalam kabin kendaraan otonom. Di saat yang sama, industri autonomous vehicle global terus bergerak agresif dengan kucuran investasi baru senilai ratusan juta dolar untuk memperluas skala operasional logistik darat hingga udara.

Cedera Fisik yang Tersembunyi di Balik Kemudi Otomatis

Berdasarkan data yang diserahkan kepada Occupational Safety and Health Administration (OSHA), pengemudi uji untuk Waymo dan Zoox dilaporkan mengalami lebih dari dua lusin cedera sepanjang tahun 2024 dan 2025. Cedera tersebut mayoritas dipicu oleh aksi pengereman mendadak (hard braking) atau manuver tidak terduga yang dilakukan oleh sistem kecerdasan buatan kendaraan.

Beberapa pekerja bahkan terpaksa absen selama berbulan-bulan setelah mengalami cedera leher akibat hentakan keras atau whiplash saat kendaraan otonom berhenti secara mendadak. Fenomena cedera ini diyakini tidak hanya terbatas pada Waymo dan Zoox, melainkan juga berpotensi terjadi di perusahaan pengembang lain yang mungkin terbebas dari kewajiban pelaporan berkala kepada OSHA.

Ledakan Investasi dan Lompatan Komersial Sektor Logistik

Meskipun dibayangi isu keselamatan pekerja, sektor komersialisasi kendaraan otonom justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Gatik, sebuah perusahaan rintisan (startup) yang memfokuskan diri pada truk boks otonom, berhasil mengamankan pendanaan baru sebesar 200 juta dolar yang dipimpin oleh Qatar Investment Authority dan Koch Disruptive Technologies untuk memperluas jangkauan operasionalnya.

Langkah Gatik melampaui fase riset didukung oleh kontrak komersial bernilai fantastis mencapai 600 juta dolar, termasuk kemitraan jangka panjang dengan PepsiCo untuk pengiriman logistik dari pusat distribusi ke jaringan ritel. Selain Gatik, aliran modal juga mengalir deras ke Airbound sebesar 37 juta dolar untuk pengembangan pesawat tanpa awak (drone), serta Regent Craft yang mengantongi 120 juta dolar demi memproduksi kapal terbang listrik (seaglider).

Koreksi Teknis dan Tantangan Keamanan yang Tersisa

Di sisi lain, regulator keselamatan transportasi di Amerika Serikat kini memperketat pengawasan terhadap raksasa otomotif General Motors menyusul adanya laporan puluhan insiden pengereman pada armada kendaraan listrik mereka. Masalah teknis ini dilaporkan telah memicu lebih dari 20 kasus kecelakaan atau kebakaran serta menyebabkan setidaknya enam orang mengalami luka-luka.

Tantangan teknis juga memicu klarifikasi penting dari pihak Waymo terkait spesifikasi cip silikon (silicon chip) kustom terbaru mereka. Perusahaan sebelumnya mengeklaim dalam blog resmi mereka: “Meskipun ASIC ini sendiri menghasilkan kinerja ML lebih dari 1.000 TOPS yang didedikasikan untuk pemrosesan front-end dan model ML, kami melakukan optimalisasi di seluruh sistem untuk memaksimalkan kinerja yang dicapai, terutama dalam rezim batch rendah yang sering kami operasikan.” Juru bicara Waymo kemudian meluruskan bahwa kapasitas komputasi masif tersebut merujuk pada kinerja sistem secara keseluruhan, bukan kemampuan satu cip tunggal saja.