Skandal Data Manipulasi Seret Akademisi Duke University Dan Ariely

Jurnal ilmiah terkemuka Psychological Science resmi menarik kembali (retracted) makalah penelitian tahun 2002 tentang prokrastinasi yang ditulis oleh Dan Ariely, profesor administrasi bisnis di Duke University. Langkah ini diambil setelah platform analisis data akademik, Data Colada, mengungkap adanya indikasi manipulasi data yang serius dalam studi yang telah dikutip lebih dari 2.200 kali tersebut.
Kasus ini memperpanjang daftar kontroversi yang menjerat Ariely, seorang pakar terkemuka di bidang ekonomi perilaku (behavioral economics). Selain menghadapi tuduhan pemalsuan data ilmiah untuk kedua kalinya, Ariely kini berada di bawah pengawasan ketat akibat rekam jejak hubungannya di masa lalu dengan terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.
Kejanggalan Data Studi Dekade Lalu Terungkap
Penarikan studi berjudul Procrastination, deadlines, and performance: Self-control by precommitment dilakukan setelah tim peninjau menemukan hilangnya kredibilitas pada dataset asli. Editor jurnal menyatakan bahwa mereka tidak lagi dapat menjamin keandalan temuan artikel tersebut setelah hasil investigasi Data Colada dipublikasikan. Penarikan ini disetujui oleh kedua penulis makalah tersebut demi menjaga integritas komunitas ilmiah.
Menanggapi keputusan tersebut, Ariely memberikan pernyataan resmi yang menegaskan pentingnya akurasi dalam sains. Ia mengakui adanya anomali serius pada data penelitiannya. “Sebagai seorang ilmuwan sosial, saya meyakini bahwa ketika bukti yang mendasari suatu hipotesis atau kesimpulan berubah, sangat penting untuk memperbarui catatan tersebut guna menjaga integritas dan memfasilitasi pencarian kebenaran,” tulis Ariely. Ia menambahkan bahwa catatan dokumentasi eksperimen berusia dua dekade itu sudah tidak lagi memadai untuk menjawab keraguan yang muncul.
Jejak Hubungan dengan Jeffrey Epstein dan Kasus Hukum
Di luar isu integritas akademik, reputasi Ariely juga diguncang oleh dokumen Departemen Kehakiman Amerika Serikat yang mengungkap interaksinya dengan Jeffrey Epstein. Nama Ariely muncul sebanyak 636 kali dalam berkas hukum terkait mendiang pelaku perdagangan seks tersebut. Keduanya diketahui telah bertemu setidaknya tujuh kali dalam kurun waktu enam tahun, bahkan setelah Epstein divonis bersalah atas kasus prostitusi anak pada tahun 2008.
Ariely berkilah bahwa hubungannya dengan Epstein murni didasari oleh kebutuhan riset ilmiah mengenai ketidakjujuran dan kriminalitas. Ia sempat mengirim surat elektronik kepada Epstein untuk meminta diperkenalkan dengan Bernie Madoff, dalang skema Ponzi terbesar di dunia. “Pada saat pertemuan kami, saya sedang mendalami penelitian tentang ketidakjujuran dan kejahatan, serta berbicara dengan banyak individu yang telah melanggar hukum,” ujar Ariely dalam klarifikasinya kepada The New York Times. Ia juga menegaskan tidak ada transaksi finansial maupun hubungan profesional berkelanjutan di antara mereka.
Dampak Terhadap Reputasi Akademik Duke University
Ini bukan pertama kalinya karya ilmiah Ariely ditarik dari peredaran karena masalah fabrikasi data. Pada tahun 2021, makalah lain yang terbit tahun 2012 mengenai metode untuk mencegah ketidakjujuran juga ditarik setelah Data Colada menemukan bukti manipulasi serupa. Berulangnya kasus pemalsuan data ini memicu tekanan publik terhadap pihak Duke University untuk segera meluncurkan investigasi menyeluruh serta tindakan disipliner kepada sang profesor.
Dampak dari rangkaian skandal ini mulai terasa di lingkungan kampus. Pihak universitas baru-baru ini resmi menutup Center for Advanced Hindsight, sebuah pusat penelitian ilmu perilaku yang sebelumnya dipimpin langsung oleh Ariely. Kendati pejabat universitas mengeklaim penutupan ini tidak berkaitan langsung dengan rilis dokumen Epstein, hilangnya pusat riset tersebut menandai kemunduran besar bagi karier akademik Ariely yang sebelumnya diakui secara global.

