Startup Energi Fusi Mulai Merapat ke Industri Pertahanan Global

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi nuclear, reactor, energy. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nuclear, reactor, energy. Foto: Pixabay

Industri energi fusi global kini tengah mengalami pergeseran arah yang signifikan. Di kala berbagai startup fusi terus mengejar ambisi utama mereka untuk mengalirkan listrik bersih ke jaringan publik, banyak di antaranya kini mulai merangkul kembali sektor pertahanan (defense applications) yang dahulu menjadi fondasi awal lahirnya teknologi ini. Hubungan historis antara sains fusi dan keamanan nasional kini kembali menguat seiring dengan mandeknya aliran dana modal ventura (venture capital) di sektor teknologi iklim (climate tech).

Keterlibatan sektor militer dalam pengembangan fusi bukan hal baru, mengingat eksperimen fusi bersejarah pada tahun 2022 juga berlangsung di National Ignition Facility yang disokong oleh lembaga keamanan nasional Amerika Serikat. Namun, kolaborasi yang terjalin saat ini jauh lebih taktis dan berorientasi bisnis, didorong oleh kebutuhan mendesak industri pertahanan akan sistem senjata energi terarah (directed-energy weapons) seperti senjata laser untuk menangkal ancaman pesawat tanpa awak (drone) modern.

Kebutuhan Pendanaan Baru di Tengah Seretnya Modal Ventura

Bisnis fusion power merupakan industri yang sangat mahal dan membutuhkan modal yang masif sebelum dapat menghasilkan produk komersial yang layak. Ketika investasi di sektor teknologi iklim mengalami penurunan atau stagnasi, para pemodal ventura menyambut baik langkah perusahaan portofolio mereka untuk mencari sumber dana alternatif yang lebih stabil. Sektor pertahanan pun hadir menawarkan likuiditas segar sekaligus komitmen jangka panjang.

Salah satu pemicu utamanya adalah perubahan lanskap peperangan modern yang kini didominasi oleh penggunaan drone murah dalam jumlah besar. Sistem pertahanan udara tradisional yang dirancang untuk menyasar pesawat tempur berawak kini dinilai sangat tidak efisien dari segi biaya. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, sekutu Amerika Serikat pernah menggunakan satu rudal Patriot seharga 3 juta dolar hanya untuk menembak jatuh sebuah drone konsumen seharga 200 dolar. Ketimpangan biaya yang drastis ini memaksa militer mencari alternatif teknologi pertahanan yang lebih efisien.

Senjata Laser Militer dan Teknologi Fusi Berbasis Laser

Di sinilah teknologi fusi berbasis laser (laser-based fusion reactor) masuk sebagai solusi potensial. Dibandingkan menembakkan satu rudal mahal sekali pakai, sistem laser weapons menawarkan tembakan cepat dan murah dengan memanfaatkan energi listrik yang dihasilkan oleh generator atau reaktor kapal militer. Startup fusi yang berfokus pada teknologi laser pun menjadi mitra ideal bagi kontraktor pertahanan terkemuka dalam mengembangkan senjata masa depan ini.

Menangkap peluang tersebut, startup fusi berbasis laser asal Denver, Xcimer, mengumumkan kemitraan strategis sekaligus investasi dari RTX Ventures, lengan investasi dari konglomerat pertahanan RTX yang menaungi Raytheon. Melalui kesepakatan ini, Xcimer memperoleh suntikan dana segar untuk mengembangkan pembangkit listrik mereka, sementara RTX mendapatkan akses untuk mengeksplorasi pemanfaatan sistem laser berkekuatan tinggi milik Xcimer. Saat ini, Xcimer mengoperasikan Phoenix, sistem laser swasta terbesar di dunia yang dirancang untuk membombardir target bahan bakar fusi hingga menghasilkan energi bersih.

Reaktor Fusi Sipil untuk Eksperimen Senjata Nuklir

Selain Xcimer, startup fusi lainnya, Pacific Fusion, juga resmi menjalin kemitraan melalui kesepakatan kesepahaman dengan National Nuclear Security Administration (NNSA). Kolaborasi ini berfokus pada eksperimen fusi dengan densitas energi tinggi (high-energy-density fusion). Pacific Fusion baru saja memulai pembangunan fasilitas demonstrasi mereka di New Mexico, yang berlokasi tidak jauh dari dua laboratorium nasional ternama, yakni Sandia dan Los Alamos.

Reaksi fusi yang akan dihasilkan di fasilitas Pacific Fusion ini diklaim jauh lebih kuat dibandingkan dengan eksperimen senjata nuklir yang saat ini dijalankan oleh pemerintah. Chief Technical Officer Pacific Fusion, Keith LeChien, mengonfirmasi nilai strategis proyek ini bagi militer. “Ternyata fasilitas yang sedang kami bangun ini juga memiliki kegunaan dalam aplikasi pertahanan terkemuka di dunia,” ujar LeChien. Co-founder sekaligus Chief Operating Officer Pacific Fusion, Carrie von Muench, juga menambahkan bahwa aplikasi pertahanan “selalu ada dalam pikiran kami,” menunjukkan bahwa orientasi ganda ini telah dipertimbangkan sejak awal pengembangan perusahaan mereka.