Upaya Hukum X Berhasil Mematikan Layanan Alternatif Nitter dan XCancel

Layanan alternatif untuk mengakses platform X tanpa akun, Nitter dan XCancel, dilaporkan resmi berhenti beroperasi secara permanen. Keputusan ini diambil setelah kedua platform tersebut menerima tekanan hukum yang berat dari X terkait tuduhan pelanggaran hak cipta dan penyalahgunaan data.
Bagi para pengguna internet yang memprioritaskan privasi, penutupan ini menjadi pukulan telak. Nitter dan XCancel selama ini menjadi andalan untuk membaca unggahan di X secara bersih tanpa perlu mendaftar, melewati algoritma yang mengganggu, atau terpapar pelacak iklan.
Tekanan Hukum dan Penutupan Akses
Perseteruan ini memuncak ketika X mengirimkan surat peringatan keras atau cease-and-desist kepada pengembang Nitter bulan lalu. Perusahaan milik Elon Musk tersebut menuduh Nitter melakukan tindakan ilegal berupa penembusan sistem keamanan dan scraping data secara tidak sah untuk mendapatkan token sesi atau session token serta mengakses akun pengguna.
Meskipun sempat menyatakan akan bertahan berdasarkan saran dari penasihat hukumnya, pengembang Nitter akhirnya harus menyerah pada realitas hukum. Pada hari Jumat, 11 September, halaman GitHub resmi milik Nitter resmi diarsipkan menjadi status read-only, menandakan bahwa proyek open-source ini tidak akan lagi menerima pembaruan atau modifikasi kode di masa mendatang.
Langkah penutupan ini segera diikuti oleh XCancel, salah satu layanan populer yang menginduk pada sistem Nitter. Melalui halaman utamanya, XCancel mengumumkan penghentian operasional dengan pernyataan resmi: “Sayangnya, karena adanya perkembangan baru dalam proses hukum yang sedang berjalan, kami diharuskan untuk menangguhkan layanan ini kembali hingga pemberitahuan lebih lanjut.”
Strategi Monetisasi dan Pembersihan Pihak Ketiga
Langkah agresif yang diambil oleh manajemen X ini bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari strategi bisnis yang bertujuan memaksimalkan pendapatan iklan. Nitter bekerja dengan cara menarik data publik dari X, kemudian menyaring dan membuang iklan, cookies pelacak, serta skrip JavaScript yang memberatkan kinerja peramban.
Bagi pihak X, model operasional seperti ini dinilai sangat merugikan. Platform media sosial tersebut tidak dapat memonetisasi lalu lintas pengunjung yang masuk melalui Nitter, karena para pengguna tersebut tidak melihat iklan yang disajikan. Di bawah kepemimpinan baru, X sangat bergantung pada impresi iklan untuk menstabilkan kondisi finansial perusahaan.
Kebijakan antipihak ketiga ini sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu ketika platform ini masih bernama Twitter. Pada saat itu, mereka memblokir akses API untuk aplikasi pihak ketiga legendaris seperti Twitterrific dan Tweetbot, yang memaksa jutaan pengguna setianya berpindah ke aplikasi resmi.
Hilangnya Alternatif Ramah Privasi bagi Publik
Sebelum penutupan permanen ini, Nitter sebenarnya sudah berulang kali menghadapi kendala teknis akibat pembatasan API yang ketat oleh X sejak tahun 2024. Saat itu, pengembang yang ingin menjalankan instance Nitter secara mandiri diwajibkan untuk menghubungkannya dengan akun X asli yang aktif, sebuah langkah yang sangat menyulitkan dan merusak konsep privasi itu sendiri.
Bagi para pengamat pasif atau biasa disebut sebagai lurkers, matinya kedua layanan ini menyisakan ruang kosong yang sulit digantikan. Banyak orang yang hanya ingin memantau informasi penting atau perkembangan berita di X tanpa harus berkontribusi pada metrik jumlah pengguna aktif harian platform tersebut.
Hingga saat ini, pihak Nitter belum memberikan respons resmi terkait langkah hukum selanjutnya atau apakah ada potensi proyek baru yang akan dikembangkan untuk menggantikan peran platform privasi ini di masa depan.

