Budaya Sebagai Jembatan Diplomasi di Tunisia

Muhammad Dakhlan Gazali adalah mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Al-Zaytuna, Tunisia. Aktif di organisasi pelajar dan jurnalistik, ia menulis tentang isu pendidikan, sosial, budaya, serta dinamika masyarakat Indonesia Di LN
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Dakhlan Gazali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

TUNIS – Lebih dari 200 tamu undangan, termasuk diplomat, akademisi, dan tokoh masyarakat Tunisia, dibuat terpesona saat Kamis malam (18/9/2025) berlangsung Resepsi Diplomasi Indonesia–Tunisia di Radisson Blu Hotel & Convention Center, Tunis. Acara ini menampilkan kemegahan seni budaya Nusantara sekaligus menjadi media diplomasi yang efektif bagi Indonesia.
Acara dibuka dengan penampilan tiga tarian tradisional Indonesia. Ratu Jaroeh dari Aceh menampilkan gerakan anggun penuh ritme, Ondel-Ondel khas Betawi menghadirkan hiburan yang memukau, dan Zapin Muara, yang mencerminkan akulturasi budaya Melayu-Arab, menampilkan gerakan energik yang memikat para tamu undangan.
Suasana semakin hidup ketika mahasiswa Indonesia menampilkan musik tradisional-modern. Kolaborasi gitar, drum, bass, piano, angklung, gambang, dan gendang menciptakan harmoni unik, yang menyatukan nuansa tradisi dan modernitas. Para tamu terlihat antusias, memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk apresiasi.
Momen paling khidmat terjadi ketika seluruh hadirin berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Humat al-Hima, lagu kebangsaan Tunisia. Momentum ini menunjukan rasa hormat dan persahabatan yang erat antara kedua bangsa.
Seorang guru bahasa Arab dari universitas terkemuka di Tunisia mengaku kagum:
“Indonesia sangat indah. Tarian dan musiknya begitu menarik, membuat saya ingin belajar lebih banyak tentang budaya Indonesia,” ujarnya sambil memperlihatkan foto dan video acara.
Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menekankan pentingnya memperkuat hubungan bilateral. “Jarak Indonesia dan Tunisia memang jauh, tetapi hati kita dekat. Persahabatan yang terjalin sejak era Habib Bourguiba dan Soekarno menjadi bukti kuat hubungan kedua negara,” katanya.
Menteri Agama Tunisia, Dr. Ahmed Adhoum, menyampaikan kabar positif terkait Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) yang telah memasuki tahap akhir sebelum penandatanganan, serta pembahasan pengakuan sertifikat halal bersama. “Kerja sama ini akan membuka jalan baru bagi masa depan yang lebih gemilang,” ujarnya.
Acara diakhiri dengan jamuan makan malam khas Indonesia-Tunisia disertai sesi ramah tamah. Kehadiran mahasiswa Indonesia menambah semarak acara, sekaligus menjadi saksi bagaimana budaya tanah air mampu membanggakan di negeri orang.
Resepsi ini menegaskan bahwa seni dan budaya Nusantara bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat diplomasi yang efektif, mempererat hubungan antara Indonesia dan Tunisia, serta membuka peluang kerja sama di bidang budaya, pendidikan, dan perdagangan.
