Dari Cinta Kebijaksanaan Menuju Kebijaksanaan Cinta dalam Potret Kehidupan
Tulisan dari Muhammad Dakhlan Gazali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Benang takdir dalam kehidupan manusia rasa-rasanya tak pernah benar-benar terputus. Sejak lahir, balita, hingga dewasa, selalu ada seseorang yang menuntun kita untuk menjadi manusia yang budiman: diajarkan membaca, menulis, berhitung, dan yang paling penting dari semuanya, berpikir. Semua tahapan itu kita lewati sebagaimana manusia pada umumnya, sebuah proses wajar dalam perjalanan menjadi insan yang utuh.
Namun di balik proses yang tampak wajar itu, ada sebuah pertanyaan yang diam-diam tumbuh di sudut pikiran saya sejak lama, bukan pertanyaan yang lahir dari buku teks atau ruang kelas, melainkan sesuatu yang jauh lebih personal: mengapa saya belajar? Bukan dalam arti teknis soal metode atau tujuan akademis, tetapi dalam arti yang paling dalam, apa yang sebenarnya saya cari di balik tumpukan kitab, di balik malam-malam panjang di bilik pesantren, dan kini di balik perjalanan menuju sebuah negeri yang dahulu namanya pun masih asing di telinga saya.
Angin kehidupan ketika itu membawa saya menuju sebuah gudang ilmu, tempat saya ditempa dan dibimbing selama enam tahun lamanya. Hingga suatu hari saya memberanikan diri untuk mempertanyakan diri saya sendiri: mengapa saya hidup? Apa sebenarnya makna kehidupan? Apa tujuan saya diciptakan? Bertahun-tahun saya mencari jawabannya di sana, namun yang saya dapati hanyalah ketidakpuasan atas apa yang disampaikan guru-guru saya, hingga akhirnya saya dinyatakan pantas untuk keluar darinya.
Pertanyaan itu tidak pernah berhenti saya cari jawabannya. Ia terus saya lontarkan berulang-ulang dalam pikiran, hingga angin takdir membawa saya mengembara ke Tunisia, sebuah negeri yang sejujurnya bukan destinasi yang saya rencanakan sejak kecil. Tetapi hidup memiliki cara tersendiri untuk mempertemukan seseorang dengan apa yang paling ia butuhkan, bukan selalu apa yang ia inginkan. Dan di sinilah saya, duduk di tengah peradaban yang pernah melahirkan Ibn Khaldun dan menyimpan jejak para pemikir besar, berhadapan dengan pandangan keilmuan dan gagasan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Dialektika terjadi setiap hari, hermeneutika diajarkan, gagasan-gagasan disandingkan sebagaimana santapan sehari-hari, hingga suatu ketika saya mulai memahami bahwa bukan jawaban yang sesungguhnya saya cari selama ini, melainkan makna di balik pertanyaan itu sendiri. Makna kehidupan setiap orang tidak bisa ditemukan secara instan, melainkan harus dicari oleh setiap insan yang memiliki kebijaksanaan yang mulia.
Barulah ketika saya mulai bersentuhan dengan tradisi filsafat, bukan sebagai pelajaran tambahan, melainkan sebagai cara pandang, saya menemukan kata untuk apa yang selama ini saya rasakan: philosophia, cinta kebijaksanaan. Kata yang datang dari Yunani, namun maknanya hidup di mana-mana, jauh sebelum kata itu sampai ke telinga saya.
Ketika filsafat pertama kali masuk ke dunia Islam, ia datang bukan sebagai musuh, melainkan sebagai tamu yang disambut. Para khalifah Abbasiyah mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad, sebuah pusat penerjemahan dan pembelajaran yang menjadi titik temu antara tradisi Yunani, Persia, India, dan Arab. Sebagaimana disebutkan oleh Sulaiman Basyir Diyan dalam Da’wah ila al-Aqlaniyyah, proyek penerjemahan besar-besaran yang ia sebut aslamah al-falsafah, penyerapan filsafat ke dalam nadi pemikiran Islam.
Dari sinilah lahir nama-nama yang hingga kini menghuni buku-buku teks peradaban dunia: Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Tufail. Mereka bukan sekadar pensyarah Aristoteles, melainkan pemikir yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru dari dalam tradisi mereka sendiri. Mereka tidak memilih antara akal dan iman; mereka hidup di dalam ketegangan di antara keduanya, dan dari sanalah lahir sesuatu yang indah.
Dalam novel filosofis Hayy ibn Yaqzan, Ibn Tufail melukiskan ketegangan tersebut melalui sebuah perjumpaan yang menyentuh. Hayy, yang tumbuh sendirian di sebuah pulau terasing dan menemukan kebenaran-kebenaran tertinggi semata-mata lewat akalnya sendiri, pada akhirnya bertemu dengan Absal, seorang yang datang dari dunia dengan teks dan syariat. Mereka tidak saling menolak, mereka saling melengkapi. Hayy menyadari bahwa pengetahuannya yang murni perlu dibahasakan agar bisa menyentuh orang lain, sementara Absal menemukan bahwa teks yang ia bawa selama ini jauh lebih hidup ketika dibaca bersama seseorang yang mengenal hakikatnya secara langsung. Akal dan wahyu, sebagaimana dua mata air yang berbeda, pada akhirnya bermuara pada kebenaran yang satu dan sama.
Begitu pula yang ditegaskan oleh Al-Qur’an sendiri, yang mengajak kita untuk berfilsafat, sebagaimana diuraikan Ibn Rusyd dalam risalahnya ” Fashl al-Maqal fi Ma Bayna al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal” Salah satu ayat yang kerap dirujuk untuk menunjukkan hal ini adalah:
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ(Ali Imran: 7 )
Dengan berfilsafat, kita memotret kehidupan. Layaknya sebuah foto yang menangkap satu momen, filsafat mengabadikan esensi kehidupan kita, memberi kita jeda untuk merenungi makna di baliknya. Ibn Rusyd bahkan menegaskan bahwa kebenaran dapat diraih melalui dua jalan, yaitu agama dan filsafat, dua saudara yang menempuh jalan berbeda namun menuju kebenaran yang satu dan sama.
Di titik inilah saya mulai memahami esensi dari cinta kebijaksanaan secara lebih utuh, philein yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan, sebuah tingkatan awal bagi seorang pencari jati diri. Cinta kebijaksanaan bukan berarti sekadar menyukai kebijaksanaan atau kebenaran itu sendiri; ia lebih dalam dari itu, yaitu sebuah kerinduan yang terus menerus mendorong jiwa untuk menaiki anak tangga demi anak tangga menuju kebenaran. Barangkali di sinilah pula saya memahami bahwa setiap orang sesungguhnya menemukan pengetahuannya sendiri; tidak ada dua perjalanan intelektual yang identik, dan yang paling penting bukan di mana kita belajar, melainkan bagaimana kita belajar, dengan niat apa, dan ke mana kita hendak membawa apa yang kita peroleh. Mungkin di situlah letak titik temu antara filsafat dan kehidupan yang sesungguhnya yakni keduanya sama-sama dimulai dari pertanyaan, bukan jawaban.
Namun ada satu hal yang semakin lama semakin saya sadari, sesuatu yang tidak saya temukan secara eksplisit di buku mana pun, tetapi perlahan hadir dalam pengalaman sehari-hari: bahwa kebijaksanaan yang sejati tidak berhenti di kepala. Jika philosophia adalah cinta kepada kebijaksanaan, maka ada sesuatu yang lebih jauh dari itu, yaitu ketika kebijaksanaan itu sendiri mengajarkan kita untuk mencintai, bukan mencintai konsep atau gagasan abstrak, melainkan mencintai manusia, kehidupan, dan seluruh ciptaan dengan cara yang lebih penuh dan lebih sadar.
Dahulu, saya belajar karena ingin tahu, karena rasa ingin tahu itu sendiri terasa menyenangkan, menggairahkan, dan membebaskan, dan itu tidak salah, itulah philosophia dalam bentuknya yang paling awal dan paling jujur. Tetapi kini, saya mulai belajar juga karena ingin menjadi lebih baik dalam mencintai, lebih baik dalam memahami orang lain, lebih baik hadir di dunia ini dengan cara yang bermakna, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi mereka yang ada di sekitar saya. Filsafat mengajarkan saya untuk mencintai kebijaksanaan, dan kehidupan dengan segala perjalanan, kesendirian, dan perjumpaannya, perlahan mengajarkan saya sesuatu yang lebih dalam yaitu kebijaksanaan cinta.
Sebab pengetahuan yang tidak melahirkan kasih sayang hanyalah kesombongan yang terpelajar, dan akal yang tidak dibimbing oleh cinta akan kehilangan sesuatu yang paling esensial dari kemanusiaan. Tan Malaka pernah mengingatkan hal yang serupa, bahwa pendidikan yang justru membuat seorang pemuda memandang rendah masyarakat yang bekerja keras dengan tangannya sendiri, lebih baik tidak pernah diberikan sama sekali.
Pada akhirnya, berfilsafat bukan hanya tentang mengetahui kebenaran. Ia tentang menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam mencintai sesama, kehidupan, dan Tuhan.
”Hikmah itu ibarat harta yang hilang dari orang beriman; di mana pun ia menemukannya kembali, di sanalah haknya.”
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

