Konten dari Pengguna

Kopi dan Kehidupan: Menyusuri Slamet Riyadi Solo

Dalfa Syifa Septiani

Dalfa Syifa Septiani

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dalfa Syifa Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Deretan kafe di Slamet Riyadi. Sumber: Dalfa Syifa Septiani.
zoom-in-whitePerbesar
Deretan kafe di Slamet Riyadi. Sumber: Dalfa Syifa Septiani.

Apa jadinya jika sebuah jalan berubah menjadi tempat berkumpulnya para pencari suasana dan secangkir kopi? Di Solo, tepatnya Jalan Slamet Riyadi menjawab pertanyaan itu dengan deretan kafe yang hidup dari pagi hingga malam, menjadikannya ruang pertemuan berbagai lapisan masyarakat.

Slamet Riyadi, jalan utama yang seakan membelah kota dari barat ke timur kota ini bukan hanya sibuk pada siang hari, ia telah lama menjadi pusat perekonomian dan aktivitas masyarakat Solo. Rasanya setiap seratus meter di jalan itu kita bisa melihat coffee shop berjejeran. Ada Laju, RND coffee, Margi, Gettsee, Odds, Sekutu Kopi, Sareh, Slari Coffee, dan entah berapa nama lagi yang saya lihat. Sebagian kafe berdiri tepat di jalan utama, sebagian lainnya berada di balik ruas-ruas jalan yang terhubung dengan Slamet Riyadi.

Ragam Kafe dan Hidupnya Suasana Malam

Setiap kafe di Slamet Riyadi menyuguhkan karakter yang berbeda-beda. Ada yang bergaya minimalis dengan dinding putih, ada pula yang bergaya industrial, hingga kafe berkonsep homey yang membuat pengunjung betah berlama-lama. Ukuran bangunannya pun beragam, mulai dari bangunan yang mungil yang hanya muat beberapa orang, hingga kafe bertingkat empat ada di sana. Tak kalah menarik, di beberapa titik trotoar pun berjejer gerobak street coffee yang nangkring, turut serta menebar aroma kopi bagi siapapun yang lewat. Pilihan harga kopi di sini juga bervariasi, dari yang ramah di kantong hingga sedikit lebih mahal.

Suasana salah satu kafe di Jalan Slamet Riyadi pada malam hari. Sumber: Dalfa Syifa Septiani.

Memasuki malam, suasana di sana berubah total. Lampu-lampu kafe mulai terang benderang membantu pencahayaan jalan dan menciptakan atmosfer hangat. Tak lupa kursi-kursi outdoor pun mulai disiapkan, seolah menyambut gelombang pengunjung yang datang untuk melepas lelah dan berbagi cerita. Spot yang siangnya terlihat biasa saja berubah menjadi ruang berkumpul yang hidup. Tawa terdengar bercampur dengan suara percakapan dan kendaraan yang melintas. Menjadikannya area favorit anak muda untuk bertukar cerita, melepas penat, atau sekadar mengamati arus lalu lintas. Meskipun sebagian kafe sebenarnya akan tutup menuju tengah malam, tetapi malam di sini tidak benar-benar sunyi.

Di Balik Segelas Kopi: Cerita dari Mereka yang Singgah

Di tengah keramaian itu, saya berbincang dengan Ardito Adi Pamungkas (19), salah satu pelanggan yang sudah mencoba kopi di beberapa kafe di Slamet Riyadi. Ia duduk tak jauh dari saya tengah berbincang dengan temannya.

"Tujuanku di sini yang jelas karena mau ngopi dan ketemu sama orang buat berinteraksi,” menjadi alasannya sering berkunjung ke kafe di Slamet Riyadi. “Kadang ada titik dimana ngerasa kesepian, ya buat nyari suasana baru aja," tambahnya.

Ardito mengaku ia merasa tenang jika meminum kopi sambil berbincang dan bertukar pikiran dengan teman-temannya. "Kopi tuh udah mendarah daging lah istilahnya, apalagi americano," ujarnya sambil tersenyum tipis. Dari caranya berbicara, saya tahu bahwa Ardito bukan hanya sekadar penikmat kopi. Ia datang ke sini untuk mengobati rasa kesepian dengan berinteraksi dan menikmati keramaian, mungkin sama seperti kebanyakan orang di sana.

Tak jauh dari sana, saya bertemu Alexa Amanda (20), seorang pengunjung lain yang sedang duduk sendirian di area outdoor salah satu kafe. Sambil menyantap donat coklat dan meminum kopi susu, meskipun laptop berada di depannya sesekali ia menatap jalan, seolah mencari jeda di antara hiruk-pikuk. Berbeda dari Ardito yang datang untuk berinteraksi dengan orang lain, Alexa justru datang untuk mencari motivasi di tengah keramaian.

“Aku ngerasa kayak punya temen buat nugas kan, buat nyari motivasi dan inspirasi juga buat tugas. Apalagi ini udah musim-musim ujian,” katanya sambil tersenyum. Ia tertawa kecil ketika menjelaskan alasan lain ia lebih produktif di kafe. “Soalnya kalo di sini nggak ada godaan kasur kayak di rumah.” Baginya, mengerjakan tugas di kafe dapat membantunya untuk lebih fokus mengerjakan tugas tanpa banyak distraksi.

Suasana salah satu cafe di Slamet Riyadi. Sumber: Dalfa Syifa Septiani.

Perjalanan menyusuri Slamet Riyadi mengungkap beragam cerita. Ada yang asyik mengobrol, mengerjakan tugas, atau hanya duduk menatap lalu lintas. Suasana seperti ini berhasil memberi warna terhadap kehidupan urban. Jalan Slamet Riyadi bukan hanya sakadar urat nadi perekonomian Kota Solo, apa yang ada di dalamnya telah membuktikan diri sebagai ruang publik yang hidup. Saya rasa cocok dengan tulisan yang diterpampang di salah satu cafenya: Psikolog itu mahal, makannya Tuhan menciptakan Jalan Slamet Riyadi. Di setiap teguk kopi dan tawa yang terdengar, tersimpan sejuta cerita yang memperkaya makna. Menyajikan pengalaman yang tak hanya nikmat di lidah, tetapi kaya akan cerita dan makna bagi siapa saja yang singgah.