Sampah Mahasiswa: Limbah Kecil di Sekitar Kampus yang Diam-Diam Berdampak Besar

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dalfa Syifa Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali ke kampus, seberapa sering kamu melihat sampah kecil berserakan? Misalnya sampah bungkus permen, tisu bekas, plastik gorengan, atau sedotan. Sampah kecil yang dianggap sepele itu muncul setiap hari dan bertebaran di sekitar kampus, seakan tak ada hentinya. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar ideal, justru menyimpan “krisis kecil”.
Fenomena ini bukan hanya ada di satu universitas saja, tetapi hampir di semua kampus di Indonesia. Dimana ribuan mahasiswa tidak sadar meninggalkan sampah kecil. Menariknya, sampah ini datang dari kebiasaan yang sepele, seperti jajan di kantin, memakan permen, atau membuang kertas resi. Terlihat sepele, tetapi memiliki dampak yang signifikan.
Mengenal Sampah Mikroplastik
Salah satu masalah yang sering tidak disadari adalah sampah-sampah kecil ini menyumbang peningkatan mikroplastik di lingkungan. Data dari Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SPSN) per April 2025 mencapai 33,621 juta ton sampah per tahun. Sementara itu, laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2019 mengatakan bahwa mikroplastik sudah ditemukan dalam air minum, tanah, udara, bahkan tubuh manusia.
Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berdiameter kecil. Ia berasal dari plastik-plastik besar dan bisa jadi berasal dari plastik kopi yang kamu minum hari ini. Masalahnya mikroplastik ini dapat “menyelinap” masuk ke tanah, air, bahkan udara dan tidak akan hilang. Dari kampus, partikel ini bisa terbawa ke saluran air sekitar dan akhirnya akan menyebar lebih jauh hingga ke sungai.
Mungkin tidak membuang satu gelas plastik atau bahkan satu plastik bekas permen akan terlihat sepele. Tapi, ketika satu orang setidaknya menghasilkan lima sampai sepuluh sampah setiap harinya, bayangkan ketika perilaku itu dilakukan oleh ribuan orang, akumulasi mikroplastik akan menjadi masalah lingkungan yang nyata. Kita jarang memikirkan konsekuensinya karena otak memang cenderung mengabaikan hal kecil. Sampah yang tidak mencolok nyaris tidak dipedulikan.
Dampaknya terhadap Lingkungan di Kampus
Membiarkan sampah kecil tak terbuang di lingkungan kampus memiliki dampak yang tidak kecil. Masalah ini berakibat serius terhadap ekosistem jika tidak segera ditangani.
1. Drainase cepat tersumbat
Bungkus plastik dan tisu bisa menyumbat aliran air. Akibatnya jika tidak segera dibersihkan bisa menyebabkan genangan air bahkan banjir saat hujan datang. Kampus menjadi tidak nyaman dan rawan mengakibatkan penyakit.
2. Pencemaran tanah dan air
Partikel mikroplastik yang terkandung dapat mencemari ekosistem. Tanah yang terpapar mikroplastik akan mengganggu organisme penting seperti cacing tanah, sehingga berdampak terhadap kesuburan tanah. Di air, mikroplastik dapat menyebar sehingga mengancam ekosistem dan makhluk hidup lain. Selain itu, partikel mikroplastik yang terbawa lewat saluran akan menyebar juga ke saluran di sekitar kampus. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem semakin meluas.
3. Merusak estetika kampus
Selain berdampak terhadap lingkungan, area kampus akan terlihat kotor dan tidak sehat. Padahal suasana kampus turut memengaruhi motivasi dan kenyamanan belajar mahasiswa.
Mengapa Buang Sampah Sembarangan Sulit Diatasi?
Selain karena kurangnya kesadaran mahasiswa atau sekadar karena malas tentunya ada sudut pandang psikologi yang bisa menjelaskan hal terkait, yaitu konsep Diffusion of Responsibility atau Penyebaran Tanggung Jawab yang dipopulerkan oleh John Darley dan Bibb Latane pada tahun 1960-an.
Teori menjelaskan bahwa ada fenomena psikologis di mana individu merasa kurang bertanggung jawab untuk membantu apabila ada orang lain disekitar. Maka, semakin banyak orang di tempat itu, semakin kecil rasa tanggung jawab individu. Oleh karena itu, perilaku membuang sampah sembarangan bisa jadi dikarenakan adanya perasaan orang lain akan membersihkan, contohnya merasa akan dibersihkan oleh petugas kebersihan. Namun, hal tersebut tentu saja tidak dapat dibenarkan.
Peran Kampus dalam Menumbuhkan Kesadaran Mahasiswa
Perubahan perilaku tidak datang begitu saja. Lingkungan memiliki peran yang lebih besar dalam membentuk kebiasaan. Itu sebabnya menumbuhkan budaya kampus bersih dimulai dari dukungan kampus itu sendiri. Alih-alih hanya memasang poster “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”, lebih baik menyediakan tempat sampah yang mudah dijangkau, kampanye yang kreatif, dan papan informasi yang menarik.
Tak hanya itu, kampus perlu membangun budaya kebersihan lewat kolaborasi antara Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus agar turut berkampanye. Contohya dengan mengajak mahasiswa untuk membawa tumbler dan wadah makan sendiri guna mengurangi sampah plastik. Harapannya, kampanye kecil ini mendorong mahasiswa agar menjadi pergerakan bersama.
Kebersihan kampus merupakan tanggung jawab bersama. Ketika kampus menyediakan ruang untuk menunjukkan bahwa kebersihan merupakan prioritas, mahasiswa akan lebih mudah merasa terlibat dan bertanggung jawab.
Krisis Mini yang Bisa Kita Bereskan
Pada akhirnya, sampah-sampah kecil di lingkungan kampus mengajarkan kita bagaimana harus membentuk lingkungan yang nyaman bagi kita sendiri. Kampus adalah ruang belajar dan kebersihannya juga merupakan bagian dari pelajaran itu.
Krisis ini memang tidak terlihat besar bahkan dianggap sepele oleh sebagian orang, tetapi jika dibiarkan dapat membahayakan ekosistem di dalamnya. Kita bisa menyelesaikannya lewat langkah kecil. Mari membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik. Perubahan sederhana ini bisa kita lakukan bersama, perlahan bisa mengubah wajah kampus menjadi lebih bersih, sehat, dan layak menjadi ruang tumbuh.
