Dampak Penggunaan Mesin Self-Order Terhadap Kebutuhan Tenaga Kerja Pada Restoran

Saya adalah mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang yang memiliki minat pada bidang sumber daya manusia, dunia kerja, dan ekonomi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aulia Nisa Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan teknologi digital mendorong industri restoran mengubah cara memberikan pelayanan kepada konsumen. Salah satunya melalui self-order atau self-service technology yang memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan secara mandiri. Teknologi ini telah diterapkan di restoran cepat saji Indonesia, salah satunya McDonald’s TB Simatupang, Jakarta. Teviningrum dan Urfa (2021) menjelaskan bahwa self-ordering kiosk menjadi alternatif pelayanan bagi konsumen, meskipun penerapannya tetap perlu didukung pengelolaan pelayanan yang baik.

Penggunaan self-order juga mengubah proses kerja karyawan. Aziz (2022) menjelaskan bahwa sistem self-order memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan dan pembayaran secara mandiri melalui e-menu sehingga proses transaksi dapat dilakukan lebih cepat, terutama ketika jumlah pelanggan meningkat. Kondisi ini membuat tugas kasir tidak lagi sepenuhnya berfokus pada menerima pesanan dan transaksi. Karyawan dapat dialihkan untuk membantu pelanggan menggunakan mesin, menangani kendala pembayaran, memastikan pesanan berjalan dengan benar, serta mendukung kegiatan operasional lainnya.
Perubahan tersebut berpengaruh terhadap analisis kebutuhan tenaga kerja. Perusahaan tidak hanya perlu mempertimbangkan jumlah karyawan, tetapi juga jenis pekerjaan, beban kerja, dan kompetensi yang dibutuhkan setelah teknologi diterapkan. Sebagian pekerjaan transaksi dapat dilakukan oleh sistem, sementara tenaga kerja lebih diarahkan pada pelayanan, pengawasan, dan penanganan masalah yang membutuhkan keterlibatan manusia.
Di sisi lain, penerapan teknologi menuntut karyawan memiliki kemampuan digital. Anggono dan Supriyanto (2025) menjelaskan bahwa peningkatan keterampilan tenaga kerja penting dalam menghadapi perkembangan teknologi, sementara kesulitan beradaptasi menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memberikan pelatihan agar karyawan mampu menggunakan sistem digital dan menjalankan fungsi baru dalam operasional restoran. Dengan penyesuaian jumlah, pembagian tugas, dan kompetensi tenaga kerja, penggunaan self-order dapat mendukung efisiensi sekaligus mempertahankan peran SDM dalam pelayanan restoran.
Aulia Nisa Putri Adits Wiyadi, Mahasiswa Manajemen S1 Universitas Pamulang
