Mencari Jalan Tengah Antara Agama dan Sains

Penulis. Tinggal di Bantul.
Tulisan dari Dani Ismantoko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampai sekarang masih banyak orang yang mempertentangkan antara agama dan sains. Kelompok yang pro agama mengatakan bahwa sains sesat karena dianggap banyak produk sains yang bertentangan dengan agama. Kelompok yang pro sains mengatakan agama tidak logis. Oleh karenanya agama tak perlu dianut.
Kedua kelompok tersebut lupa, bahwa sebenarnya ada jalan tengah. Orang beragama perlu sains. Logika sains, tentang genom, atom, alam semesta, bisa meningkatkan kadar dari instrumen rohani yang sangat penting dalam agama, yang disebut sebagai iman.
Orang sains, saat mencapai limitasinya, misalnya tak bisa menghitung seberapa batas alam semesta, tak bisa membuat organ biologis canggih seperti organ tubuh manusia, perlu agama. Minimal supaya tak frustrasi. Maksimalnya untuk tetap merasa rendah hati. Supaya tetap sadar bahwa saintis punya limitasi.
Jalan tengah tersebut bukanlah sebuah kepengecutan ideologis. Bukan karena tidak konsisten beragama. Juga bukan karena tidak konsisten menggunakan sains.
Dalam sejarah, agama dan sains hadir hampir seperti kakak beradik. Ketika agama sedang populer di sebuah zaman, pasti ada saja di antara mereka, para penganut agama itu, yang menekuni bidang sains.
Di salah satu periode sejarah Islam di zaman Abbasiyah, tak hanya ada ahli agama, tetapi ada juga ahli sains. Ada Ibnu Sina yang ahli kesehatan, Al-Khawarizmi yang ahli matematika, Jabir Ibnu Hayyan yang ahli kimia, Ibnu Khaldun yang ahli historiografi. Yang menarik adalah, dalam bidang agama, mereka ini juga bisa dikatakan mumpuni. Artinya, jalan tengah seperti yang dijelaskan di awal sudah dijalani oleh para ilmuwan tersebut.
Kesepakatan yang sudah tertanam dalam diri para ilmuwan Islam tersebut tak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya karena pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan memorak-porandakan Bani Abbasiyah. Salah satu yang sangat disayangkan adalah hilangnya referensi-referensi keilmuan Islam karena dibakar sampai habis oleh pasukan Mongol.
Di bagian sejarah lain, saat Eropa dikendalikan oleh Gereja juga muncul orang-orang yang ahli dalam sains. Ada Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei yang ahli Astronomi, Rene Descartes yang ahli Matematika dan Filsafat, Giordano Bruno yang ahli Kosmologi, Charles Darwin yang mencetuskan teori evolusi.
Dalam kedua fragmen sejarah tersebut seakan menegaskan bahwa agama dan sains adalah saudara namun hubungannya seperti malu-malu kucing. Memang di antara ilmuwan-ilmuwan tersebut tidak sedikit yang dihukum dengan dalih melanggar aturan agama. Yang saya maksud dengan malu-malu kucing adalah pada sisi kehadirannya. Saat hadir agama, hadir sains, namun seakan tak bisa bersatu. Seperti dua sejoli yang kasmaran tetapi malu-malu kucing. Akhirnya saling benci, padahal cinta.
Di tahun 1990-an sampai 2000-an sebenarnya ada seseorang yang mencoba mewujudkan kembali jalan tengah itu. Harun Yahya dengan teori penciptaannya. Ia mencoba menjelaskan secara ulang alik antara agama dan sains tentang persoalan agama maupun sains.
Tetapi, belakangan teorinya runtuh dengan sendirinya. Selain karena analisis dan argumentasi yang kurang kokoh serta data yang kurang memadai, juga karena perilakunya. Penipuan, bersenang-senang dengan wanita-wanita seksi. Semuanya terungkap kepada publik. Mungkin di antara orang yang pro sains, perilaku pribadi tak ada pengaruhnya. Namun, di kalangan penganut pro agama perilaku tersebut tidak bisa dimaafkan.
Di hadapan saintis runtuhnya teori yang diperjuangkannya karena kurangnya data, analisis dan argumentasi. Di hadapan para agamawan runtuhnya teori yang diperjuangkannya karena perilaku buruknya yang terungkap kepada publik.
Runtuhnya teori penciptaan bukan berarti menandakan bahwa kesepakatan antara agama dan sains tak punya masa depan. Di dalam budaya Jawa ada prinsip "ngerti empan papan". Jika ditafsirkan kira-kira seperti ini, dalam bertindak kita harus menyesuaikan situasi, kondisi dan tempatnya. Agama ataupun sains harus kita gunakan sesuai situasi, kondisi dan tempatnya.
Jika kita sedang membuat sebuah solusi tentang pengelolaan sampah di sebuah dusun yang belum beres pengelolaan sampahnya tidak mungkin kita mengatakan, “Kita serahkan pada kuasa Tuhan,” tanpa melakukan apa-apa. Dalam keadaan lain, kita bisa membangun mental bersyukur dengan menalar bahwa segala yang ada di dalam hidup kita merupakan anugerah Tuhan.
Agama dan Sains jika dilihat secara sekilas memang terlihat kontradiktif. Padahal tidak. Keduanya saling melengkapi. Bayangkan, manusia bersemangat untuk memajukan kehidupan dengan memaksimalkan fungsi akal melalui sains. Dan tetap berpijak pada agama yang inti ajarannya adalah cinta dan kasih sayang. Asyik bukan?
