Konten dari Pengguna

Kol Goreng, Kamu Jahat tapi Enak

Arief Wahyu Pradana

Arief Wahyu Pradana

Mahasiswa Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arief Wahyu Pradana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sajian sepiring kol goreng. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sajian sepiring kol goreng. Foto: Shutterstock

Bila mengacu pada lagu Sisitipsi yang berjudul Alkohol, tampaknya kol goreng pun demikian. Bagaimana tidak? Kenikmatan kol goreng menjadi pendamping serasi ketika disandingkan dengan ayam, bebek, ataupun lele. Sambal dan lalap kian menambah cita rasa saat mencicipinya bersamaan.

Sebuah tenda warung makan pecel lele atau ayam penyet di tengah hiruk pikuk ibu kota menemani santap malam. Warna kecokelatan, gumpalan asap mengepul, dan sedikit minyak tersaji dalam sepiring kol goreng. Dilengkapi pula dengan Ayam goreng, tahu, dan tempe goreng, sambal, lalapan, serta nasi uduk menjadi satu set menu menarik.

Meski secara tampilan kol goreng ini kurang menggugah selera, tetapi rasanya luar biasa. Rasa sedikit pahit kol goreng ini cocok sekali berpadu semuanya. Apalagi tekstur kol goreng yang agak garing di bagian luar. Beragam rasa muncul pada suapan demi suapan.

Namun ketika saya coba pertama kali, dominan sekali minyak pada kol goreng. Rasanya seperti makan minyak dengan wujud kol. Patut dicurigai, ini mungkin siasat buruk minyak goreng merasuki tubuh manusia melalui kol. Akibatnya terdapat beragam penyakit yang dihasilkannya. Antara lain seperti kolesterol serta dapat memicu kanker.

Proses penggorengan kol dengan minyak yang berulang kali digunakan, terkontaminasi di dalamnya. Tak heran, terkadang tersaji kol goreng dengan cita rasa ikan lele akibat minyak jelantah. Lemak jenuh dan kolesterol jahat juga mengintai selepas menyantapnya. Hal ini tentunya berdampak bagi kesehatan pada tubuh kita.

Di balik semua ancaman dan bahaya dari kol goreng, setidaknya kamu membawa warna baru saat dimakan. Menu pada warung pecel lele dan ayam penyet tampak lebih bervariasi. Entah siapa orang yang pertama kali memperkenalkan dan mencetuskan ide untuk menggoreng kamu di kuali besar dengan minyak panas. Terima kasih, kol goreng!