Konten dari Pengguna

“Sudahlah, Saya Sudah Lama Menjadi Orang Indonesia”

Danang Aziz Akbarona

Danang Aziz Akbarona

Direktur Eksekutif Strategia Institute, Sekjen Ikatan Doktor Ilmu Manajemen, Dosen Pascasarjana UNPERTI

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danang Aziz Akbarona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sentilan Presiden Prabowo

Dalam beberapa forum Presiden Prabowo Subianto menyampaikan peryataan yang cukup mencuri perhatian publik: “Sudahlah, saya sudah lama menjadi orang Indonesia.” Dalam catatan penulis ada beberapa kali beliau sampaikan hal itu secara terbuka, diantaranya saat acara Konsolidasi Persatuan Kadin (16/1), Pengantar Sidang Kabinet (22/1), lalu saat membuka acara Sarasehan Ekonomi (9/4), juga saat pidato di tengah ribuan buruh dalam peringatan Hari Buruh (1/5).

Bahkan di hadapan buruh, Presiden lebih tegas lagi mengatakan "Gue ini udah lama jadi orang Indonesia, Gue ngerti tipu-tipu mereka." Kalimat tersebut, terdengar ringan di permukaan, tetapi menyimpan makna tajam dan dalam—terutama bagi mereka yang terbiasa bermain dalam lingkaran korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Pernyataan ini adalah bentuk sindiran atau sentilan halus namun keras terhadap segelintir elite yang masih menganggap bahwa “sistem” di Indonesia bisa dengan mudah dibengkokkan. Bagi mereka yang sudah lama bergelut dalam dunia birokrasi, ucapan Presiden seolah menjadi pengingat: “Saya tahu persis permainan lama kalian.

Budaya KKN: Luka Lama yang Belum Sembuh

Korupsi, kolusi, dan nepotisme bukanlah penyakit baru dalam tubuh birokrasi Indonesia. Sejak era Orde Baru hingga era reformasi, praktik ini terus bertransformasi. Jika dulu dilakukan secara terang-terangan, kini lebih licin, rapi, dan tersembunyi. Tapi hasilnya tetap sama: merugikan rakyat dan menggerogoti fondasi keadilan.

Pejabat publik sering kali memanfaatkan jabatan sebagai “ladang basah” alih-alih amanah. Proyek pengadaan barang dan jasa, jabatan strategis, bahkan akses pendidikan dan pelayanan publik sering jadi komoditas transaksional. Ketika seorang Presiden berkata bahwa dirinya “sudah lama menjadi orang Indonesia,” itu adalah refleksi dari kedalaman pengalamannya menyaksikan bagaimana kelicikan dan akal-akalan kerap menyelubungi kebijakan dan keputusan.

Sentilan sebagai Bentuk Peringatan

Ucapan itu bukan sekadar kalimat retoris. Ia adalah tamparan halus kepada para pelaku KKN yang berpikir bisa memperdaya kepemimpinan dengan cara lama. Dengan kata lain, Presiden menyampaikan bahwa ia bukan sosok yang bisa dipermainkan oleh tipu daya birokrat licik, karena ia sendiri sudah kenyang asam garam sistem Indonesia.

Sentilan ini juga menyiratkan bahwa perubahan tidak akan datang jika yang berkuasa masih terus menerus mengulangi kesalahan masa lalu. Ucapan itu, dalam konteksnya, bisa dimaknai sebagai “Saya tahu persis siapa yang jujur dan siapa yang sekadar bersandiwara.

Membangun Refleksi Kolektif

Lebih dari sekadar kritik terhadap elite tertentu, pernyataan itu mengajak kita semua untuk bercermin: apakah kita masih membiarkan budaya KKN hidup di sekitar kita? Apakah kita diam ketika melihat praktik-praktik tidak etis karena merasa itu sudah “lumrah”? Karena sebenarnya, budaya KKN tak hanya hidup karena pelakunya, tapi juga karena diamnya orang-orang baik.

Kini saatnya menjadikan kalimat Presiden itu sebagai pengingat bahwa rakyat tidak buta, dan pemimpin sejati tidak bisa dibohongi dengan tipu muslihat birokrasi. Ucapan itu juga adalah bentuk keberanian untuk menghadapi masa lalu dan menantang status quo yang sudah terlalu lama membudaya.

Dari Sentilan Menuju Perubahan

“Sudahlah, saya sudah lama menjadi orang Indonesia,” bukan hanya sentilan. Itu adalah deklarasi bahwa zaman sudah berubah. Kalimat itu menjadi simbol bahwa pemimpin tahu permainan lama dan tidak akan tinggal diam.

Kini giliran kita semua: apakah kita akan terus membiarkan budaya KKN mengakar, atau kita mulai berani membersihkannya, meski dari langkah-langkah kecil?

Karena perubahan tidak akan datang dari satu pidato saja, tapi dari kesadaran kolektif untuk menghentikan warisan kelam yang selama ini menjerat bangsa ini. Dan semoga Presiden benar-benar memimpin kita untuk membangkitkan kesadaran kolektif tersebut.