Konten dari Pengguna

Bersih Desa Tambakasri 2025 sebagai Sarana Melestarikan Wayang Kulit

Danar Rayhan

Danar Rayhan

Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danar Rayhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertunjukkan wayang kulit pada Bersih Desa Tambakasri 2025. Foto oleh Danar Rayhan.
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukkan wayang kulit pada Bersih Desa Tambakasri 2025. Foto oleh Danar Rayhan.

Pada hari Sabtu, 19 Juli 2025, masyarakat Tambakasri memeriahkan kegiatan Bersih Desa 2025 dengan berbagai macam kegiatan, seperti kirap jolen, ruwatan, resepsi bersih desa, campur sari, dan wayang kulit. Seluruh kegiatan ini melibatkan seluruh warga masyarakat Tambakasri. Mahasiswa FISIP Bakti Desa kelompok 40 pun turut serta memeriahkan kegiatan ini. Seluruh lapisan masyarakat dengan antusias berbondong-bondong mempersiapkan dan memeriahkan seluruh rangkaian Bersih Desa Tambakasri.

Dari seluruh rangkaian Bersih Desa ini, wayang kulit merupakan puncak sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan. Diadakan setiap tahun pada momentum tertentu, pertunjukan wayang ini menjadi panggung untuk menjaga agar seni tradisional tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, melainkan tetap hidup dan relevan. Nyatanya, masih banyak masyarakat luas yang masih belum mengetahui lebih dalam mengenai wayang kulit ini. Mari kita mengenal lebih dalam wayang kulit, khususnya mereka yang mengisi pada Bersih Desa Tambakasri, bersama mahasiswa FISIP Bakti Desa kelompok 40.

Bagaimana wayang sebagai kesenian?

Wayang merupakan salah satu kesenian tradisional Indonesia yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak 2003. Seni ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sarana pendidikan, penyampaian nilai-nilai moral, filosofi hidup, dan spiritualitas yang mendalam. Pertunjukan wayang biasanya diiringi gamelan dan dipandu oleh dalang, yang berperan sebagai pencerita, pengatur alur, sekaligus penyampai pesan moral kepada penonton.

Cerita wayang tidak jauh berbeda dengan dinamika yang terjadi di tengah masyarakat. Nilai-nilai moral, konflik, cinta, hingga perjuangan, semua tercermin dalam lakon yang dibawakan.

Dalang, Pengrawit, dan Sinden: Jiwa dari Pertunjukan Wayang Kulit

Bayu Aryo Kusumo, dalang dalam penayangan wayang kulit Bersih Desa Tambakasri 2025, mengatakan bahwa cerita wayang yang dibawakan tidak jauh berbeda dengan dinamika yang terjadi di tengah masyarakat. Nilai-nilai moral, konflik, cinta, hingga perjuangan, semua tercermin dalam lakon yang dibawakan. Maka dari itu, pertunjukkan wayang kulit diharapkan selalu memberikan pesan yang tepat bagi penonton.

Pravda Reysano, seorang pengrawit muda dari Blitar, menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan sangat bergantung pada kekompakan para penabuh gamelan. Karawitan adalah seni yang menuntut keharmonisan. Jika satu instrumen saja keluar dari tempo atau intonasi, maka nyawa pertunjukan bisa hilang. Tak hanya teknis, pengrawit juga harus membawakan rasa. Setiap ketukan, setiap denting gamelan, harus selaras dengan emosi cerita yang sedang dibawakan. Gamelan ageng, lengkap dengan berbagai instrumen seperti demung, saron, bonang, gong, hingga pemanis seperti siter dan suling, semuanya berpadu menciptakan atmosfer yang menyihir penonton. Bahkan, kini beberapa pertunjukan sudah mengadopsi instrumen modern seperti bass drum untuk memperkaya nuansa musikal.

Mahasiswa FISIP Bakti Desa dengan Pravda Reysano, pengrawit Bersih Desa Tambakasri 2025. Foto oleh Danar Rayhan.

Galuh Sri Setiyani, sinden yang telah berkecimpung sejak 2013, memaparkan bahwa tugas sinden bukanlah perkara mudah. Ia bertugas mengisi vokal yang berpadu dengan iringan gamelan, menyampaikan tembang-tembang tradisional seperti macapat yang terdiri dari jenis-jenis seperti pucung, gambuh, sinom, pangkur, dan lainnya. Latihan vokal pun tidak sembarangan. Nada-nada gamelan berbeda jauh dengan musik modern. Diperlukan latihan dasar nada serta penghayatan yang mendalam agar suara sinden bisa menyatu dengan cerita dan musik yang dimainkan.

Mahasiswa FISIP Bakti Desa dengan Galuh Sri Setiyani, sinden Bersih Desa Tambakasri 2025. Foto oleh Danar Rayhan.

Berdasarkan ketiga jiwa dari pertunjukkan wayang kulit di atas, dapat kita lihat bahwa wayang kulit merupakan cerminan kehidupan dan juga pengingat akan nilai-nilai yang sering terlupakan. Maka dari itu, upaya pelestarian seperti yang dilakukan oleh Desa Tambakasri melalui Bersih Desa Tambakasri 2025 ini, patut mendapat apresiasi.

Melalui irama gamelan, nyanyian sinden, dan narasi dalang, wayang kulit mengajak kita merenung, merasa, dan mengenali jati diri sebagai bagian dari budaya luhur Nusantara.