Konten dari Pengguna

Apakah Otoritarianisme Menyelamatkan Bumi?

Danasmoro Brahmantyo

Danasmoro Brahmantyo

ASN Tugas Belajar di S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM. Pemerhati pendidikan dan media sosial. Penikmat kopi, film, musik, dan kuliner.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danasmoro Brahmantyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eva Stratt, pemimpin satgas Petrova yang dingin, tegas, dan kuat. Antagonis atau Realis? (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Eva Stratt, pemimpin satgas Petrova yang dingin, tegas, dan kuat. Antagonis atau Realis? (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)

Selain terhibur dengan fantasi sains luar angkasa ala Hollywood, Anda mungkin juga bisa belajar kepemimpinan dengan menonton film Project Hail Mary (2026), yang diadaptasi dari novel karya Andy Weir.

"I’m a pragmatist, Dr. Grace. I don’t care if you like me. I don’t care if you think I’m a monster. I just care about the mission."

Eva Stratt: Antagonis yang Kita Butuhkan saat Dunia di Ambang Kehancuran?

Pernahkah Anda membayangkan sebuah beban di mana nasib delapan miliar orang hanya bergantung pada satu keputusan Anda hari ini? Di titik itu, apakah Anda akan tetap memilih menjadi "orang baik" yang disukai semua orang, atau berani menjadi sosok "jahat" demi memastikan hari esok masih ada? Dilema moral inilah yang menghantui Eva Stratt, pemimpin "Petrova Taskforce", satuan tugas beranggotakan para ilmuwan global yang mencoba menyelamatkan bumi dan kepunahan umat manusia dari ancaman Astrophage.

Melalui akting Sandra Huller yang luar biasa, karakter Eva Stratt bertransformasi menjadi potret nyata seorang pemimpin yang harus menavigasi krisis di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Stratt bukan sekadar administrator. Ia adalah representasi dari kepemimpinan yang dipaksa bergerak melampaui batas etika konvensional demi tujuan yang jauh lebih besar.

Otoritas di Labirin Post-Truth

Dalam kajian komunikasi krisis, kita sering mengagungkan transparansi sebagai kunci utama. Namun, Stratt menunjukkan sebuah anomali yang tajam. Di era post-truth, fakta ilmiah sering kali kalah oleh ledakan sentimen subjektif karena emosi dan keyakinan personal lebih dipercaya daripada data objektif. Stratt memahami bahwa informasi yang terlalu terbuka tanpa navigasi justru akan menjadi api yang menyulut sumbu kepanikan publik.

Strategi komunikasinya yang selektif adalah bentuk mitigasi terhadap "kebisingan" informasi yang berpotensi menyabotase misi penyelamatan.

Jika kita meminjam kerangka Cynefin Framework dari Dave Snowden, Stratt sedang mengelola domain chaotic atau kekacauan yang membutuhkan tindakan cepat sebelum penjelasan. Inilah yang dilakukan Stratt: ia mengambil kendali absolut demi meredam distorsi kebenaran, namun memberikan otonomi penuh bagi ilmuwan untuk berinovasi saat stabilitas mulai ditemukan.

Integritas: Benteng Terakhir Melawan Koreksi Publik

Namun, gaya "tangan besi" ini menyimpan risiko mematikan jika sang pemimpin kehilangan legitimasi moral. Di era sekarang, publik sangat gemar melakukan koreksi agresif terhadap otoritas. Ketika integritas seorang pemimpin sudah cacat, informasi mentah yang dilempar begitu saja hanya akan menjadi angin kencang yang membesarkan gelombang penolakan terhadap kebenaran ilmiah yang dibawa oleh pemimpin tersebut.

Dalam literatur Adaptive Leadership, Ronald Heifetz mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah seni membuat orang menghadapi kenyataan yang menyakitkan tanpa membuat mereka hancur. Integritas Stratt ditemukan dalam kesediaannya untuk menjadi martir bagi reputasinya sendiri demi menyampaikan kenyataan pahit tersebut. Ia bertindak tanpa sedikit pun kepentingan pribadi.

Banyak pemimpin otoriter gagal mengelola krisis bukan karena kebijakannya salah secara teknis, melainkan karena reputasi mereka yang buruk membuat sains yang mereka bawa ikut dicurigai.

Tanpa integritas yang kuat, otoritarianisme hanya akan berakhir sebagai penindasan kosong yang justru mempercepat kehancuran.

Otoritas yang Menyelamatkan

Konflik paling menghujam meledak saat Stratt memaksa Ryland Grace untuk ikut dalam misi bunuh diri. Grace menggugat moralitas Stratt karena merasa hak individunya dirampas. Jawaban Stratt dalam dialog tersebut kini menjadi refleksi pahit bagi siapa pun yang pernah memegang tanggung jawab publik:

"I’m the person who has the authority to do whatever the hell I want to make this work. And what I want right now is for you to get on that ship."

Pernyataan ini seolah mengonfirmasi argumen Hannah Arendt bahwa otoritas sejati seharusnya lahir dari ketaatan dan penghormatan tanpa perlu kekerasan. Namun, Stratt membawa kita pada sisi gelap realitas: ketika penghormatan publik hilang ditelan kepanikan, seorang pemimpin terkadang terpaksa menggunakan kekuasaan untuk menyelamatkan mereka yang justru sedang membencinya.

"The world is ending, Dr. Grace. I don’t have time to negotiate with your conscience."

Bagi Stratt, kepentingan kolektif berdiri jauh di atas ego individu. Ia tidak butuh dicintai oleh sejarah, ia hanya butuh hasil. Bahkan, dalam sebuah momen yang sangat personal, ia menegaskan paradoks kepemimpinannya kepada Grace:

"This might seem like me betraying you, but this is actually me believing in you."

Kalimat ini menunjukkan bahwa bagi pemimpin berintegritas, pengkhianatan terhadap kenyamanan individu sering kali merupakan bentuk tertinggi dari kepercayaan terhadap potensi kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Refleksi

Bagi kita yang berkecimpung di birokrasi dan ruang kebijakan, Stratt memberikan peringatan keras. Kepemimpinan strategis adalah keberanian untuk mengambil keputusan tidak populer di tengah badai informasi yang simpang siur.

Namun, mampukah kita tetap tegak di bawah serangan kritik jika kita sendiri tidak memiliki integritas yang bisa dipertanggungjawabkan?

Jika besok pagi dunia benar-benar terancam dan andalah yang memegang kendali, sikap seperti apa yang akan Anda kedepankan? Apakah Anda akan tetap terjebak dalam labirin diskusi tanpa akhir demi menjaga citra sebagai orang baik, ataukah Anda memiliki nyali untuk menjadi sosok yang dibenci semua orang asalkan anak cucu kita tetap bisa melihat matahari terbit?

Saat taruhannya adalah segalanya, apakah Anda cukup berani untuk menjadi "jahat" demi sebuah kebenaran yang menyelamatkan?