Konten dari Pengguna

Apakah Otoritarianisme Menyelamatkan Bumi?

Danasmoro Brahmantyo

Danasmoro Brahmantyo

ASN Tugas Belajar di S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM. Pemerhati pendidikan dan media sosial. Penikmat kopi, film, musik, dan kuliner.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danasmoro Brahmantyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eva Stratt, pemimpin satgas Petrova yang dingin, tegas, dan kuat. Antagonis atau Realis? (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Eva Stratt, pemimpin satgas Petrova yang dingin, tegas, dan kuat. Antagonis atau Realis? (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)

Selain terhibur dengan fantasi sains luar angkasa ala Hollywood, Anda mungkin juga bisa belajar kepemimpinan dengan menonton film Project Hail Mary (2026), yang diadaptasi dari novel karya Andy Weir.

"I’m a pragmatist, Dr. Grace. I don’t care if you like me. I don’t care if you think I’m a monster. I just care about the mission."

Eva Stratt: Antagonis yang Kita Butuhkan saat Dunia di Ambang Kehancuran?

Pernahkah Anda membayangkan berada di posisi ketika nasib delapan miliar manusia bergantung pada satu keputusan yang Anda ambil hari ini? Dalam situasi seperti itu, apakah Anda tetap ingin menjadi “orang baik” yang disukai semua orang, atau justru siap dianggap “jahat” demi memastikan masa depan tetap ada? Dilema moral itulah yang membayangi Eva Stratt, pemimpin Petrova Taskforce, tim ilmuwan global yang berusaha menyelamatkan bumi dari ancaman Astrophage.

Lewat akting Sandra Hüller yang kuat dan meyakinkan, Eva Stratt tampil sebagai sosok pemimpin krisis yang kompleks. Ia bukan sekadar administrator, melainkan figur yang dipaksa melampaui batas etika dan kenyamanan demi tujuan yang jauh lebih besar: keberlangsungan umat manusia.

Otoritas di Labirin Post-Truth

Dalam komunikasi krisis, transparansi sering dianggap sebagai prinsip utama. Namun, Eva Stratt menunjukkan sisi lain yang lebih rumit. Di era post-truth, fakta ilmiah kerap kalah oleh emosi, opini, dan keyakinan personal. Stratt memahami bahwa informasi yang dibuka tanpa kendali bisa berubah menjadi pemicu kepanikan publik.

Karena itu, komunikasinya sangat selektif. Bukan untuk menutupi kebenaran, tetapi untuk mencegah “kebisingan” informasi yang dapat menggagalkan misi penyelamatan.

Jika memakai kerangka Cynefin dari Dave Snowden, Stratt sedang menghadapi situasi chaotic: kondisi yang menuntut tindakan cepat sebelum penjelasan panjang. Fokusnya adalah mengembalikan stabilitas.

Strategi komunikasinya yang selektif adalah bentuk mitigasi terhadap "kebisingan" informasi yang berpotensi menyabotase misi penyelamatan.

Ia mengambil kendali penuh untuk menjaga arah, tetapi tetap memberi ruang bagi para ilmuwan untuk berinovasi ketika situasi mulai stabil.

Integritas: Benteng Terakhir Melawan Koreksi Publik

Namun, gaya kepemimpinan seperti ini juga berbahaya. Begitu seorang pemimpin kehilangan legitimasi moral, publik akan lebih mudah menolak bahkan fakta ilmiah yang valid. Di era sekarang, otoritas sangat mudah dipertanyakan, sering kali secara agresif.

Di titik ini, Stratt mengingatkan pada gagasan Ronald Heifetz tentang adaptive leadership: tugas pemimpin adalah membantu publik menghadapi kenyataan pahit tanpa membuat mereka runtuh.

Banyak pemimpin otoriter gagal mengelola krisis bukan karena kebijakannya salah secara teknis, melainkan karena reputasi mereka yang buruk membuat sains yang mereka bawa ikut dicurigai.

Integritas Stratt justru terlihat dari kesediaannya mempertaruhkan reputasinya sendiri demi memastikan umat manusia tetap punya masa depan.

Tanpa integritas yang kuat, otoritarianisme hanya akan berakhir sebagai penindasan kosong yang justru mempercepat kehancuran.

Otoritas yang Menyelamatkan

Konflik paling kuat muncul ketika Stratt memaksa Ryland Grace ikut dalam misi bunuh diri demi menyelamatkan umat manusia. Grace menggugat moralitasnya karena merasa hak individunya dirampas. Namun, jawaban Stratt justru menjadi potret keras tentang beban kepemimpinan publik.

"I’m the person who has the authority to do whatever the hell I want to make this work. And what I want right now is for you to get on that ship."

Di titik itu, Stratt tidak sedang mencari simpati. Ia hanya ingin memastikan misi berhasil. Situasi ini mengingatkan pada pemikiran Hannah Arendt bahwa otoritas idealnya lahir dari kepercayaan, bukan paksaan. Tetapi film ini menunjukkan sisi yang lebih gelap: ketika kepanikan membuat kepercayaan runtuh, pemimpin kadang menggunakan kekuasaan untuk menyelamatkan orang-orang yang justru membencinya.

Bagi Stratt, keselamatan kolektif berada di atas kenyamanan individu. Ia tidak peduli apakah akan dikenang sebagai pahlawan atau penjahat, selama umat manusia tetap punya masa depan. Karena itu, kalimatnya kepada Grace yang menolak ide dan perintahnta terasa begitu pahit sekaligus manusiawi:

"The world is ending, Dr. Grace. I don’t have time to negotiate with your conscience."

Bagi Stratt, kepentingan kolektif berdiri jauh di atas ego individu. Ia tidak butuh dicintai oleh sejarah, ia hanya butuh hasil. Bahkan, dalam sebuah momen yang sangat personal, ia menegaskan paradoks kepemimpinannya kepada Grace:

"This might seem like me betraying you, but this is actually me believing in you."

Kalimat ini menunjukkan bahwa bagi pemimpin berintegritas, pengkhianatan terhadap kenyamanan individu sering kali merupakan bentuk tertinggi dari kepercayaan terhadap potensi kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Di situlah paradoks kepemimpinannya terlihat. Kadang, keputusan yang terasa paling kejam justru lahir dari keyakinan terbesar terhadap kemampuan manusia untuk bertahan hidup.

Refleksi

Bagi mereka yang bekerja di birokrasi dan ruang kebijakan, Stratt memberi pengingat yang tidak nyaman: kepemimpinan strategis sering kali berarti mengambil keputusan tidak populer di tengah situasi penuh kebingungan dan tekanan publik. Tetapi ada syarat yang jauh lebih berat:

Seberapa kuat seseorang bisa bertahan dihantam kritik jika ia sendiri tidak memiliki integritas yang dapat dipertanggungjawabkan?

Film Project Hail Mary ini pada akhirnya mengajukan pertanyaan yang sangat relevan bagi para pemegang kekuasaan. Jika dunia benar-benar berada di ambang kehancuran dan Anda memegang kendali, apa yang akan Anda pilih? Tetap aman di balik diskusi tanpa akhir demi menjaga citra sebagai “orang baik”, atau berani mengambil keputusan yang mungkin dibenci banyak orang demi memastikan generasi berikutnya tetap memiliki masa depan?

Ketika taruhannya adalah keselamatan bersama, apakah kita cukup berani mengambil keputusan yang dinilai “jahat” demi sebuah kebenaran yang menyelamatkan?