Konten dari Pengguna

The Devil Wears Prada 2: Estetika di Bawah Bayang Algoritma

Danasmoro Brahmantyo

Danasmoro Brahmantyo

ASN Tugas Belajar di S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM. Pemerhati pendidikan dan media sosial. Penikmat kopi, film, musik, dan kuliner.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danasmoro Brahmantyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua dekade lalu, saya mengawali langkah di kota besar dengan semangat yang tidak jauh berbeda dari karakter Andy Sachs di film The Devil Wears Prada yang diperankan oleh Anne Hathaway. Saya meninggalkan sebuah kota kecil di Jawa Timur dengan rasa ingin tahu yang besar, sekaligus kenaifan yang terus-menerus diuji oleh ritme megapolitan Jakarta. Ada fase ketika semuanya terasa memukau, tetapi di saat yang sama juga melelahkan dan menyesakkan.

Bagi saya, film The Devil Wears Prada 2 bukan sekadar sekuel untuk bernostalgia, melainkan cermin dari perjalanan dua puluh tahun di ranah profesional. Film ini menangkap bagaimana rasanya belajar bertahan, beradaptasi, sekaligus menemukan posisi diri di tengah perubahan industri yang radikal.

The Devil Wears Prada 2 lebih dari sekadar sekuel yang menjual nostalgia dan persaingan antarperempuan. (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
The Devil Wears Prada 2 lebih dari sekadar sekuel yang menjual nostalgia dan persaingan antarperempuan. (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)

Mengapa kisah Miranda dan Andy masih relevan?

Film pertama hadir bahkan sebelum iPhone diluncurkan. Pada masa itu, kita masih percaya bahwa pilihan gaya, seperti warna biru cerulean, lahir dari keputusan mutlak redaktur majalah. Selera dibentuk secara hierarkis dari atas ke bawah. Namun, pada 2026, lanskap itu berubah total. Kita tidak lagi menyaksikan kompetisi antar-majalah, melainkan pergeseran kuasa ke sistem algoritma yang mengubah selera menjadi sekadar angka statistik untuk mengejar klik.

Perubahan ini memukul telak integritas profesional seorang Miranda Priestly. Jika dulu ia adalah "Dewi" penentu standar keindahan, kini ia harus berkompromi dengan dikte layar analitik.

Pernyataannya yang dingin di sekuel ini,

"I don't need a journalist; I need a content strategist." — Miranda Priestly

sebenarnya adalah sebuah ratapan adaptasi yang tragis. Miranda, yang dulu memuja kedalaman editorial, kini dipaksa menjadi budak distribusi digital. Ia tidak lagi bertarung melawan selera yang buruk, melainkan melawan metrik engagement.

Dulu, redaksi bersaing melalui kualitas liputan dan ketajaman editorial. Kini, selera diperlakukan sebagai angka. Seperti catatan Manohla Dargis dari The New York Times, ruang redaksi masa kini memantau performa artikel secara real-time. Logika jurnalisme bergeser dari proses memilah informasi menjadi proses mengejar perhatian. Bagi Miranda, ini adalah devaluasi karier; ia yang dulu mendikte pasar, kini justru didikte oleh mesin.

Media dalam Genggaman Tech Oligarch

Kerentanan media menjadi alat penguasa pun memasuki babak baru. Jika dulu ancamannya adalah sensor politik secara langsung, kini industri media lama mulai dikuasai oleh para tech billionaire. Masalah muncul ketika media dimiliki raksasa teknologi: esensi jurnalisme yang berkemanusiaan luntur, digantikan oleh logika bisnis yang dingin dan obsesi pada pertumbuhan data demi profit semata. Para taipan ini kerap menjelma menjadi tech oligarch melalui hubungan mesranya dengan penguasa politik.

Kepentingan pemilik modal ini sering kali mendikte narasi, membuat media kehilangan taringnya dalam menyuarakan isu publik yang krusial. Runway terjebak di persimpangan ini: tetap menjadi penjaga standar kualitas, atau menyerah menjadi corong kepentingan para taipan teknologi yang hanya peduli pada database.

Dalam konteks inilah, teori Network Society dari Manuel Castells terasa nyata. Kekuasaan tidak lagi bertumpu pada satu lembaga, tetapi pada mereka yang mengendalikan arus informasi di internet. Perubahan ini bekerja di level makro melalui ekonomi perhatian, memaksa organisasi berbenah, hingga level individu yang harus memikirkan kembali nilai-nilai mereka di tengah kebisingan digital.

Di dalam sekuel ini, kita diajak untuk melihat Miranda bukan lagi sebagai penindas absolut, melainkan sebagai bidak yang mencoba mempertahankan sisa-sisa martabatnya di tengah papan catur yang kini dimiliki oleh para penguasa algoritma.

Dari ruang elit redaksi ke algoritma

Tak hanya kegagapan teknologi, Runway menghadapi krisis kepercayaan publik. Sebagai media gaya hidup, mereka gencar mengirimkan pesan konsumerisme yang sering kali tidak masuk akal, khususnya di tengah situasi ekonomi saat ini. Industri ini kerap terlihat tidak peduli dan tone deaf dengan isu kemiskinan struktural yang ditemui secara global.

Sekuel ini menyentil fenomena kesenjangan melalui perdebatan Andy dengan Emily tentang harga sebuah tas yang setara dengan gaji puluhan bulan pekerja paruh waktu. Ekonom Thorstein Veblen menyebut fenomena ini sebagai "konsumsi mencolok" atau conspicuous consumption, di mana barang mahal dibeli sebagai alat pamer kasta sosial.

Muncul paradoks menarik: media sosial yang dulu dianggap pelarian dari elitisme majalah cetak, kini justru berubah menjadi "Runway" baru. Pola elitis yang tone deaf muncul kembali melalui wajah para influencer dan algoritma. Inilah tahap "Hiperrealitas" dari Jean Baudrillard. Kita terjebak dalam dunia di mana pencitraan digital terasa lebih nyata daripada kenyataan hidup. Kita mengejar validasi sesaat di layar ponsel, yang justru menjauhkan kita dari realitas yang sebenarnya.

Audiens yang mulai muak dengan lingkaran ini akhirnya berada di titik lelah; mereka terus mencari terobosan baru untuk bisa bebas dari dunia simulasi yang seolah tidak ada ujungnya ini.

Perempuan di antara tekanan, ambisi, dan resiliensi

Di tengah perubahan ini, isu ambisi perempuan tetap menjadi topik penting. Peter Bradshaw dari The Guardian menyoroti bagaimana karakter seperti Miranda masih kerap dinilai dengan standar ganda. Ambisi pada laki-laki dipahami sebagai kepemimpinan, sementara pada perempuan sering dianggap sebagai sifat yang keras atau dingin.

"Oh, don't be ridiculous. Everyone wants this. Everyone wants to be us." — Miranda Priestly

Dalam perspektif sosiologi Pierre Bourdieu, hal ini dapat dipahami melalui habitus gender. Miranda beroperasi di ranah (field) profesional yang memberikan nilai lebih pada atribut maskulin sebagai modal simbolik. Agar kepemimpinannya diakui, Miranda menginternalisasi disposisi yang tegas dan dominan. Namun, karena masyarakat memegang Doxa bahwa perempuan seharusnya lembut dan keibuan, ambisi Miranda dianggap sebagai penyimpangan.

Relasi kuasa di Runway menunjukkan bagaimana gender berfungsi sebagai modal yang terus dikontestasikan. Otoritas selera Miranda kini terancam devaluasi oleh modal digital milik tech billionaires. Kekuasaan tidak lagi soal siapa yang paling elegan di meja redaksi, melainkan siapa yang memiliki akses terhadap arus informasi; ranah yang ironisnya masih didominasi struktur maskulin baru di dunia teknologi.

Sosok Emily Charlton yang diperankan oleh Emily Blunt kini menghadapi dilema moral secara langsung. Pada film pertama ia terjebak dalam kekerasan simbolik dengan menerima tekanan fisik dan mental industri sebagai sesuatu yang "alamiah" demi bertahan. Dalam sekuel, ia memegang kendali pada kelangsungan hidup Runway, namun berisiko kehilangan integritas saat mencoba mewujudkan ambisinya dengan cara yang tidak beretika.

"May the bridges I burn light the way!" — Emily Charlton

Sebaliknya, Andy Sachs menawarkan perspektif berbeda. Ia tumbuh menjadi pribadi yang matang dan profesional, meskipun terkadang ia masih harus bergelut dengan rasa canggung yang sesekali muncul di depan Miranda.

Menggunakan perspektif Douglas McGregor dalam The Human Side of Enterprise, sosok Andy mencerminkan keyakinan bahwa manusia mampu mengelola kreativitas ketika diberi kepercayaan. Ia memahami sistem, namun tidak membiarkan dirinya larut di dalamnya. Ia memiliki posisi tawar yang kuat untuk berkata tidak pada sistem yang menganggap hasil kerja hanya sebagai angka-angka.

Meskipun Bourdieu sering dikritik karena pandangannya yang deterministik, Andy menunjukkan adanya ruang bagi agensi manusia. Ia memahami sistem, tetapi menolak membiarkan struktur tersebut mendikte identitasnya secara total. Ia memiliki posisi tawar untuk berkata "tidak" pada sistem yang menganggap hasil kerja hanya sebagai angka statistik. Kalimat ikoniknya di film pertama kembali relevan:

"I came back because no one else knows how to say 'no' to you." — Andrea Sachs

Menjaga jiwa di tengah kebisingan

Nuansa perubahan zaman ini terasa hingga ke pilihan musiknya. Jika dulu kita terpesona oleh "Vogue" dari Madonna yang ikonik, kini kita diajak ke lantai dansa (sekaligus peragaan busana) bersama Lady Gaga dan Doechii dalam "Runway" yang sarat sentuhan EDM. Ini bukan lagi soal bagaimana kita terlihat di depan kamera, melainkan tentang keberanian untuk terus bergerak maju di tengah kekacauan.

Sosok Nigel Kipling yang diperankan Stanley Tucci memberikan pengingat tajam bahwa nilai sebuah karya tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia viral. Kualitas sejati adalah komitmen jangka panjang terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Pengalaman dan kedewasaan menjadi jangkar yang tidak mudah digantikan oleh algoritma secepat apa pun.

"Performance art. That’s what this is. And you? You are just a tourist here." — Nigel Kipling

Bagi kita yang memulai karier di era yang sama dengan Andy, film ini adalah cermin yang jujur. Tantangan kita sekarang bukan lagi sekadar soal jabatan mentereng, melainkan memastikan bahwa pekerjaan kita tetap memiliki nilai kemanusiaan.

"I don't think I'm like you. I couldn't do what you did to Nigel." — Andrea Sachs

Di tengah tekanan untuk terus terlihat eksis, bersediakah kita tetap berpegang pada prinsip? Warisan apa yang ingin kita tinggalkan: sekadar jejak digital yang mudah terhapus, atau standar kualitas yang benar-benar hidup dalam setiap karya yang kita hasilkan?

"That's all." — Miranda Priestly