Konten dari Pengguna

Saat Prestasi Anak Menjadi Beban yang Tak Terlihat: Ulik Film "Aku Sebelum Aku"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danendra Farras Asmoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Generated AI Ilustrasi Film Aku Sebelum Aku
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Generated AI Ilustrasi Film Aku Sebelum Aku

Kalimat "orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya" sering terdengar seperti jawaban final. Aku Sebelum Aku di Netflix menanyakan hal yang jarang kita bahas, yaitu bagaimana kalau yang terbaik itu justru membuat anak sesak.

Film karya Gina S. Noer ini tayang eksklusif secara global di Netflix sejak 16 Juli 2026. Gina menulis sekaligus menyutradarainya, dan filmnya terasa personal baginya. Idenya berawal dari pertanyaan anak keduanya yang gemar sejarah.

Ceritanya berpusat pada Jati (Bima Sena), siswa SMA berprestasi yang menjadi kebanggaan keluarga. Setelah memenangkan kompetisi sekolah bergengsi, ia malah mengalami serangan panik. Jati lalu harus berjuang menemukan dirinya kembali, sementara ambisi sang ayah, Jaya (Ringgo Agus Rahman), makin menekan hubungan mereka.

Kekuatan film ini ada pada cara ia menggambarkan tekanan. Tidak ada adegan bentak-bentakan yang dibuat-buat. Tekanan hadir lewat ekspektasi yang menumpuk sedikit demi sedikit, dan lewat anak yang pelan-pelan lupa siapa dirinya di luar piala dan nilai. Gina menggarapnya dengan gaya tenang dan observatif, tanpa buru-buru menunjuk siapa yang salah. Penonton dibiarkan mengerti bahwa Jaya bukan sekadar tokoh antagonis. Tekanannya berakar dari lukanya sendiri, dan di situlah tema trauma lintas generasi terasa paling kuat.

Bima Sena tampil terkendali. Justru karena tidak berlebihan, kecemasan Jati terasa nyata dan mudah dikenali oleh penonton yang pernah merasakan tekanan serupa.

Ringgo Agus Rahman menghadirkan sisi yang berbeda dari citranya selama ini. Penonton yang terbiasa melihatnya sebagai sosok ayah lembut seperti di Keluarga Cemara atau Panggil Aku Ayah sebaiknya melepas bayangan itu lebih dulu. Perannya di sini lebih keras dan lebih rumit. Chemistry keduanya menjadi inti film. Widuri Puteri, yang berperan sebagai Asa, sahabat sekaligus teman sekelas Jati, memberi kehangatan agar ceritanya tidak terlalu muram. Deretan pemeran pendukung seperti Poppy Sovia, Prastiwi Dwiarti, dan Aming turut memperkaya suasana.

Film berdurasi sekitar dua jam lebih ini bukan tanpa catatan. Beberapa tokoh pendukung terasa kurang digali. Latar belakang keluarga Ambu Asih, misalnya, layak mendapat porsi lebih besar, padahal durasinya cukup memberi ruang. Temponya juga terasa pelan di beberapa bagian bagi penonton yang menunggu konflik meledak. Namun kelambatan itu sejalan dengan pilihan film untuk mengedepankan empati dibanding kejutan.

Film ini tidak hanya relevan bagi remaja. Para orang tua juga bisa mengambil banyak hal darinya. Pesannya sederhana tetapi jarang dijalankan: hubungan yang retak masih bisa diperbaiki selama ada kemauan untuk saling mendengar dan memahami luka masing-masing.

Pada akhirnya, Aku Sebelum Aku adalah drama keluarga yang hangat, jujur, dan dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama soal kesehatan mental dan tekanan akademik. Filmnya cocok ditonton bersama keluarga, lalu dibicarakan sesudahnya. Siapkan tisu, dan siapkan juga hati untuk bercermin, karena bisa jadi kita menemukan sedikit diri kita di dalam Jati, atau di dalam Jaya.