Surat untuk Diri yang Belum Tiba: Membaca Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Univesitas Sebelas Maret
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Danendra Farras Asmoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain di media sosial? Pukul dua dini hari, layar ponsel masih menyala. Kita menggulir linimasa yang penuh pencapaian orang lain, lalu bertanya pelan-pelan: apakah aku tertinggal? Pertanyaan itu akrab bagi banyak anak muda hari ini, dan di tengah riuhnya, ada sebuah buku tipis yang menawarkan jeda.
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya Marchella FP bukanlah novel dengan alur yang mengikat. Buku ini berisi surat-surat pendek dari Awan, seorang perempuan berusia 27 tahun, untuk anaknya kelak. Awan menulisnya pada 2016 karena takut lupa rasanya menjadi muda. Strukturnya mengikuti perjalanan satu hari: Pagi, Siang, Sore, Malam. Setiap halaman dipadukan dengan ilustrasi karya Marchella sendiri, sehingga kata dan gambar saling melengkapi.
Isinya sederhana dan dekat: jatuh, bangun, gagal, menunggu, bertahan, serta ekspektasi dan harapan. Tidak ada teori psikologi yang dijabarkan. Buku ini memilih bahasa sehari-hari yang terasa seperti nasihat dari seseorang yang pernah melewati hal serupa. Banyak pembaca menilai bahasanya sederhana dan mengena. Bagi Gen-Z yang tumbuh dengan banjir konten motivasi, pilihan gaya ini terasa lebih jujur.
Strukturnya juga cocok dengan kebiasaan baca kita. Kalimat-kalimatnya pendek, halamannya lega, dan bisa dibaca sepotong-sepotong. Buku ini bisa dibuka di sela perjalanan atau menjelang tidur tanpa harus mengikuti alur dari awal. Bagian yang paling membekas bagi saya adalah pesannya yang terasa mengingatkan agar kita tidak terus mengukur diri dengan langkah orang lain. Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi justru dekat dengan kehidupan anak muda yang sering merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain.
Kekuatan buku ini juga menjadi batasnya. Karena bentuknya kumpulan renungan pendek, pembaca yang mencari kedalaman argumen atau pengembangan cerita mungkin merasa kurang. Ada pula pembaca yang mengaku berekspektasi terlalu tinggi karena namanya sudah sangat populer. Bagi saya, beberapa pesan dalam buku ini terasa berulang karena tema yang dibahas masih berada di sekitar persoalan yang sama, seperti kegagalan, keraguan, dan proses menerima diri. Bagi sebagian pembaca, hal tersebut mungkin membuat beberapa bagian terasa terlalu umum. Buku ini paling pas dibaca sebagai teman refleksi, bukan panduan mengatasi masalah.
Buku ini cocok untuk pembaca muda yang sedang lelah membandingkan diri dengan orang lain, atau sekadar butuh bacaan ringan yang menenangkan. Bagi yang penasaran dengan versi ceritanya yang lebih utuh, filmnya (2020, arahan Angga Dwimas Sasongko) mengembangkan konflik keluarga yang tidak ada dalam bukunya. Di film, Awan juga menjadi anak bungsu dalam keluarga Narendra, bukan seorang ibu yang menulis surat. Membandingkan keduanya bisa menjadi bahan diskusi yang menarik.
Pada akhirnya, buku ini tidak menjanjikan hari esok yang lebih mudah. Ia hanya mengingatkan bahwa hari ini, sesulit apa pun, kelak akan jadi cerita.
Data Buku
Judul: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Penulis dan ilustrator: Marchella FP
Penerbit: POP, Jakarta (dicetak oleh PT Gramedia)
Terbit: Cetakan pertama, Oktober 2018
ISBN: 978-602-424-821-5
Tebal: 200 halaman
