Membaca Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” di Era Media Sosial

Wakil Rektor Bidang Riset dan Pengembangan Bisnis, Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB).
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dani Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus media sosial, batas antara hiburan, budaya populer, dan politik semakin kabur. Fenomena viral lagu “Mas Bahlil Ganteng” menjadi salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana ruang digital tidak lagi sekadar menjadi arena komunikasi, tetapi juga mesin pembentuk citra sosial dan politik. Lagu yang viral melalui TikTok dan berbagai platform media sosial itu menampilkan sosok Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, dalam format yang ringan, jenaka, dan mudah diingat. Dengan lirik sederhana, ritme yang repetitif, serta didukung budaya remix dan algoritma media sosial, “Mas Bahlil Ganteng” menjelma bukan hanya sebagai lagu viral, tetapi juga sebagai fenomena komunikasi politik digital. Di era internet, popularitas seorang pejabat publik tidak lagi semata-mata dibangun melalui pidato politik, konferensi pers, atau capaian kebijakan, melainkan juga melalui budaya digital yang bergerak cepat dan sulit diprediksi.
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” menarik karena memperlihatkan perubahan besar dalam lanskap komunikasi politik modern. Politik kini semakin bergerak dari orientasi institusi menuju orientasi individu. Dalam teori Political Personalization, ilmuwan politik menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi hanya tertarik pada partai, ideologi, atau program kebijakan, tetapi semakin terhubung dengan figur, karakter, dan kepribadian tokoh politik. Media sosial mempercepat proses ini secara drastis. Jika pada era televisi citra seorang pejabat lebih banyak dibentuk oleh media arus utama, maka pada era TikTok, Instagram, dan platform digital lainnya, figur publik dapat memperoleh eksposur melalui konten yang berada di luar kendali komunikasi resminya, termasuk meme, lagu parodi, maupun video humor. Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” menunjukkan realitas tersebut secara nyata. Lagu itu tidak berbicara tentang kebijakan energi, hilirisasi mineral, atau tata kelola sumber daya alam, tetapi justru memusatkan perhatian pada sosok “Mas Bahlil” sebagai figur yang dipersonalisasi, dibuat dekat, dan dipresentasikan secara santai serta humoristik.
Dalam perspektif teori Mediatization of Politics yang dikemukakan Jesper Strömbäck, politik modern semakin tunduk pada logika media. Artinya, apa yang memperoleh perhatian publik bukan semata karena bobot substansinya, tetapi karena kemampuannya menghasilkan keterlibatan (engagement) dan viralitas. Logika media sosial bekerja berdasarkan algoritma yang mengutamakan respons pengguna, sehingga konten yang memancing komentar, tawa, atau rasa penasaran akan lebih mudah didorong ke ruang publik digital. Lagu “Mas Bahlil Ganteng” bergerak dalam pola seperti itu. Ketika netizen membuat video reaksi, remix, atau menggunakan lagu tersebut sebagai sound dalam konten mereka, algoritma media sosial memperluas jangkauan lagu sekaligus memperbesar eksposur terhadap figur yang menjadi pusat narasi. Dalam konteks ini, viralitas menjadi bentuk baru dari modal sosial-politik.
Bagi figur publik, fenomena seperti “Mas Bahlil Ganteng” memiliki implikasi personal yang tidak sederhana. Di satu sisi, viralitas dapat menghasilkan proses humanisasi politik. Pejabat negara yang biasanya dipersepsikan formal dan berjarak menjadi tampak lebih dekat dengan masyarakat. Dalam komunikasi politik modern, kedekatan emosional sering kali sama pentingnya dengan kapasitas teknokratis. Seorang tokoh yang dianggap mudah didekati cenderung memperoleh tingkat penerimaan sosial yang lebih tinggi. Fenomena ini juga berkaitan dengan pembentukan personal branding. Branding saat ini tidak selalu dibangun melalui strategi komunikasi formal yang dirancang konsultan politik, tetapi dapat tumbuh secara organik melalui budaya internet. Nama Bahlil memperoleh pengulangan luar biasa melalui “Mas Bahlil Ganteng”, dan pengulangan tersebut memiliki dampak psikologis yang nyata. Psikolog sosial Robert Zajonc melalui teori mere exposure effect menjelaskan bahwa semakin sering seseorang terpapar pada suatu nama atau objek, semakin besar kemungkinan muncul rasa familiar dan penerimaan terhadap objek tersebut. Dalam konteks “Mas Bahlil Ganteng”, meskipun lagu tersebut lahir dalam nuansa humor, efek repetisinya tetap dapat memperkuat pengenalan publik terhadap figur Bahlil Lahadalia.
Namun, di balik peluang itu tersimpan risiko yang juga perlu dicermati. Personalisasi yang terlalu kuat berpotensi menciptakan reduksi identitas. Figur publik dapat lebih dikenal karena simbol viral tertentu dibandingkan substansi gagasan atau kebijakan yang diusungnya. Dalam jangka panjang, masyarakat mungkin lebih mudah mengingat seorang tokoh karena meme, lagu, atau gaya personalnya daripada karena rekam jejak kepemimpinan dan capaian kerjanya. Di sinilah muncul dilema komunikasi politik digital: viralitas dapat memperluas popularitas, tetapi tidak selalu memperkuat pemahaman publik terhadap kualitas kepemimpinan.
Secara sosial, “Mas Bahlil Ganteng” juga memperlihatkan bagaimana budaya digital membentuk interaksi masyarakat melalui humor. Henry Jenkins dalam teori Participatory Culture menjelaskan bahwa masyarakat digital bukan lagi audiens pasif, melainkan aktor aktif yang memproduksi, memodifikasi, dan menyebarkan makna. Lagu “Mas Bahlil Ganteng” tidak menjadi viral karena dipromosikan industri musik besar, tetapi karena direproduksi oleh ribuan pengguna melalui video pendek, meme, hingga variasi kreatif lainnya. Humor digital menjadi medium sosial yang sangat efektif karena mudah diterima lintas kelompok usia dan identitas politik. Dalam konteks Indonesia, budaya politik berbasis humor sebenarnya telah lama hidup melalui karikatur, satire, dan musik parodi, tetapi media sosial membuat skala penyebarannya menjadi jauh lebih besar dan cepat.
Fenomena ini kemudian melahirkan apa yang oleh sejumlah ilmuwan disebut sebagai political fandom. Seperti penggemar artis atau selebritas, sebagian pengguna media sosial mulai membangun kedekatan emosional terhadap figur politik melalui konsumsi konten viral. Hubungan semacam ini dijelaskan oleh Parasocial Interaction Theory dari Horton dan Wohl, yakni hubungan psikologis semu ketika audiens merasa dekat dengan figur publik meskipun tidak memiliki hubungan langsung. Ketika nama seorang pejabat terus hadir dalam konten yang lucu, menghibur, dan mudah dibagikan, rasa kedekatan itu dapat tumbuh secara tidak sadar. Politik kemudian tidak lagi semata dipahami melalui debat kebijakan, tetapi juga melalui rasa suka, familiaritas, dan keterhubungan emosional.
Dari perspektif politik, implikasi “Mas Bahlil Ganteng” menjadi semakin menarik. Teori Agenda Setting dari McCombs dan Shaw menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan isu atau figur apa yang dianggap penting untuk diperhatikan. Dalam ekosistem media sosial, fungsi agenda setting sebagian berpindah kepada algoritma digital. TikTok dan platform lain bekerja melalui algorithmic amplification, yakni mekanisme yang memperluas jangkauan konten dengan tingkat interaksi tinggi. Akibatnya, viralitas dapat menciptakan visibility power atau kekuatan visibilitas. Figur yang sering muncul di ruang digital memiliki peluang lebih besar untuk tertanam dalam kesadaran publik. Popularitas digital memang tidak otomatis berbanding lurus dengan legitimasi atau elektabilitas politik, tetapi dalam politik kontemporer, perhatian publik merupakan modal yang sangat berharga.
Viralnya lagu “Mas Bahlil Ganteng” bukan sekadar kisah tentang humor internet atau tren TikTok sesaat. Fenomena ini adalah cermin perubahan besar dalam hubungan antara masyarakat, media sosial, dan politik. Media digital telah mendemokratisasi produksi citra, memungkinkan siapa saja membentuk narasi tentang figur publik melalui lagu, meme, atau video kreatif. Namun demokratisasi ini juga membawa tantangan baru, yakni risiko lahirnya politik yang terlalu bergantung pada popularitas dan personalisasi. Ketika ruang publik semakin dikuasai algoritma dan budaya viral, masyarakat perlu tetap menjaga kemampuan berpikir kritis agar penilaian terhadap pemimpin tidak berhenti pada persona yang menghibur, tetapi juga menyentuh kualitas gagasan, integritas, dan kebijakan yang mereka hasilkan. Dalam era AI dan media sosial, seorang tokoh publik hidup tidak hanya dalam ruang politik formal, tetapi juga dalam ruang budaya digital yang cair, humoris, dan sangat cepat membentuk persepsi sosial-politik. Dan sering kali, perjalanan citra politik modern memang dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: sebuah lagu viral di layar ponsel.
